Hukum Memberikan Pujian Kepada Orang Lain Dalam Islam

Syariat islam telah menerangkan tentang hukum memuji orang lain, ada yang dari hadis dan ada juga keterangan dari beberapa ulama. Seperti yang akan disebutkan di bawah ini

Di dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda kepada Ali karamallaahu wajhah:

Engkau dariku dan aku darimu.

Tidakkkah engkau rela bila kedudukanmu terhadap diriku sama dengan kedudukan Harun dan Musa?

Di dalam hadis lain Nabi saw bersabda kepada Bilal:

Aku mendengar suara ketukan kedua terompahmu di dalam surga.

Di dalam hadis lainnya Nabi saw bersabda kepada Ubay ibnu Ka’b:

Selamat bahagia dengan ilmu, hai Abdul Mundzir.

Di dalam hadis lainnya lagi Rasulullah saw bersabda kepada Abdullah ibnu Salaam:

Engkau berada pada agama islam hingga engkau meninggal dunia.

Rasulullah saw bersabda kepada seorang Anshar (yang telah menjamu tamunya di malam hari):

Allah swt suka atau takjub dengan perbuatan kamu berdua (suami istri).

Di dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda kepada seorang Anshar:

Kalian termasuk orang yang paling aku cintai.

Nabi saw bersabda kepada Asyaj Abdul Qais:

Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua pekerti yang disukai Allah swt dan Rasul-Nya, yaitu penyantun dan ketenangan.

Menurut Abu Hamid Al Ghazali, bahwa apabila seseorang memberikan sedekah, maka orang yang menerimanya dianjurkan memperhatikan hal berikut: apabila orang yang bersedekah itu termasuk orang yang suka dipuji sedekahnya, lalu disiarkan, maka si penerima dianjurkan menyembunyikan sedekahnya itu; mengingat untuk menunaikah haknya hendaknya si penerima tidak membantunya kepada perbuatan aniaya, sedangkan harapan mendapat pujian merupakan perbuatan aniaya. Jika si penerima mengetahi bahwa si pemberi sedekah bukan termasuk orang yang suka dipuji, bukan pula orang yang ingin dipuji, penerima dianjurkan memujinya dan menampakkan sedekahnya.

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri, niscaya ia tidak termakan oleh pujian manusia.”

Abu Hamid al Ghazali setelah mengatakan hal di atas, kemudian mengatakan bahwa makna-makna yang tersirat ini dianjurkan agar diperhatikan oleh orang yang memelihara kalbunya. Karena semua perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuh tanpa memperhatikan makna-makna tersirat ini akan menjadi bahan tertawaan setan; sebab banyak pengorbanan, tetapi sedikit manfaat yang didapat. Untuk ilmu semacam inilah patut dikatakan “mempelajari salah satu masalahnya lebih utama daripada ibadah setahun,” mengingat dengan ilmu ini ibadah seumur hiduo akan hidup, dan karena tidak mengetahuinya ibadah tersebut akan mati dan kandas.