Keutamaan Menjadikan Akal Sebagai Pemimpin, Bukan Hawa Nafsu

Menurut keterangan dari para ulama, bahwa sebenar-benarnya kebaikan yang banyak itu adalah bagi orang-orang yang akalnya jadi pemimpin bagi dirinya. Keadaan orang tersebut sering mengikuti (menuruti) tujuan akal yang sempurna.

Dirinya condong terhadap perkara yang diinginkan hawa nafsu, sambil tidak ada ajakan syara’. Maksudnya adalah nafsunya itu bisa dikendalikan serta bisa dicegah dari keinginannya yang jelek (buruk) menurut syara’.

Sedangkan keruksakan yang sangat (fatal) itu adalah bagi orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pimpinan (dipimpin oleh hawa nafsu). Keadaan orang tersebut adalah membebaskan hawa nafsunya seperti yang diinginkan oleh nafsu tersebut. Akalnya menjadi boyongan (tawanan), sehingga tidak bisa bergerak dan tidak bisa ngatur terhadap dirinya. Dirinya dicegah dari berfikir tentang kenikmatan-kenikmatan Allah, dan dari keagungannya Allah.

Perbedaan antara manusia dengan hewan adalah kalau manusia mempunyai akal, sedangkan hewan tidak memilikinya. Nah, hal inilah perbedaan terbesar dan paling signifikan diantara keduanya.

Manusia adalah makhluk Allah paling sempurna, manusia diberikan akal agar dapat membedakan baik dan buruk, untuk bisa berfikir, agar dapat melihat dan mentafakuri keagungan Allah, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, umat muslim khususnya dan manusia pada umumnya harus bisa mempergunakan akal dengan semaksimal mungkin. Artinya menggunakan akal tersebut untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan mencari keridhaan Allah swt.

Janganlah kita terperdaya oleh hawa nafsu, mengikuti segala keinginannya, bahkan tidak peduli benar dan salah, yang penting dirinya dan hawa nafsunya puas. Walaupun itu tidak baik untuk dirinya dan dilarang oleh agama. apabila kita berlaku seperti ini, maka kita akan termasuk ke dalam orang yang rugi di dunia bahkan nanti di akhirat.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar