Allah Menyediakan Ganjaran Bagi Orang Yang Sabar Dalam Menghadapi Musibah

Orang yang mempunyai prasangka pisahnya welas asih Allah dalam takdirnya, itu disebabkan gegabahnya penglihatannya.

Penjelasan : Sebagian dari paling agungnya ihsannya Allah yaitu terbuktinya welas asihnya Allah tidak terpisah dari penjagaan-Nya. Tidak semata-mata turun ketentuan atau takdir Allah, kecuali telah mendahului welas asihnya Allah, dan sudah ngebarengin terhadap takdir tersebut. Dan kalau ketetapan bahwa sebenar-benarnya kehendak-Nya itu tidak pisah dari lutfunya Allah, tegasnya welas asihnya Allah itu sudah ditetapkan oleh akal dan keterangan di dalam syara’.

Menurut akal bahwa tidak ada satupun musibah yang turun kepada seorang ‘abdi, kecuali dalam ketentuan Allah ada yang lebih besar daripada ketentuan yang turun ke ‘abdi tersebut. Maka ‘abdi itu sudah mendapat keuntungan tidak datang yang lebih besar.

Apabila kita mendapatkan atau kedatangan musibah, kita harus ingat terhadap orang lain yang mendapatkan musibah lebih besar daripada kita. Kalau kita ingat dan melihat musibah orang lain yang lebih besar daripada kita, maka musibah yang kita alami akan terasa enak (ringan).

Menurut firman Allah : Innamasshoobiruuna ajruhum bighoeri hisaabi, orang yang sabar ketika mendapatkan musibah akan disediakan oleh Allah ganjaran yang tidak terhitung, saking banyaknya, sebagian diberikan di dunia dan sebagian lagi diberikan di akhirat.

Innallaaha ma’asshobiriin, rasa sayang Allah diberikan kepada orang yang sabar.

Atau dalam hadist : “tidak semata-mata datang musibah kepada orang mukmin, baik itu kesulitan atau kerepotan, atau sakit dan prihatin, atau pikiran yang membingungkan, kecuali Allah melebur dengan adanya musibah itu terhadap dosa-dosanya orang itu”

“Penyakit panas dalam waktu satu jam itu bisa melebur terhadap dosa selama satu tahun”.

Maka kalau kita melihat beberapa keterangan diatas, itu menunjukkan bahwa sebenar-benarnya kehendaknya Allah itu dibarengin dengan welas asihnya Allah. Sehingga Allah tidak mendatangkan musibah, kecuali Allah menyediakan ganjarannya. Orang yang berprasangka bahwa Allah tidak sayang terhadap dirinya ketika mendatangkan musibah, itu disebabkan penglihatannya yang gegabah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tiga)