Syarat-syarat membaca Al Fatihah dalam Shalat

Al Fatihah

Membaca surat Al Fatihah merupakan salah satu rukun dari shalat, baik itu shalat fardhu maupun shalat sunah. Apabila kita tidak membaca surat Al Fatihah di dalam shalat, maka shalatnya tidak akan sah.

Di bawah ini adalah beberapa syarat dalam membaca Fatihah:

Tertib

Berturut-turut

Imam Syafii berpendapat bahwa Fatihah harus dibaca berturut-turut sebagaimana susunan yang terdapat dalam Al Qur’an, karena Nabi Muhammad tidak membaca Fatihah kecuali secara berurutan.

Memelihara huruf-huruf Fatihah

Imam Rofi’i berpendapat bawah tidak ragu-ragu lagi bahwa fatihah itu terdiri dari beberapa ayat yang terdiri dari beberapa huruf. Maka jelaslah bahwa yang dimaksud fatihah sebagai salah satu rukun shalat ialah keseluruhannya.

Memelihara tasydid Fatihah

Tasydid Fatihah merupakan huruf hai’at dari Fatihah, dengan demikian maka yang dimaksud dengan menjaga  huruf Fatihah meliputi tasydidnya.

Daalam membaca Fatihah tidak boleh berhenti dalam tempo yang lama menurut kebiasaan (adat).

Tidak boleh berhenti dalam tempo yang pendek dengan maksud memutuskan bacaan Fatihah.

Membaca keseluruhan ayat-ayat Fatihah

Ayat dalam surat Al Fatihah itu ada 7 (termasuk basmalah). Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari, “Sesungguhnya Rasulullah menghitung ayat Fatihah itu ada 7, dan menghitung basmallah merupakan salah satu ayat daripadanya.”

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Bila kamu membaca Fatihah, maka bacalah basmallah, Umul Kitab dan Umul Matsani dan salah satu ayatnya.”

Tidak melakukan kesalahan yang dapat merusak makna Fatihah.

Bagi yang melakukan shalat sambil berdiri, maka Fatihah harus dibaca ketika berdiri.

Bacaan Fatihah harus terdengar oleh orang yang membacanya.