Proses Penciptaan Manusia dan Manfaat Memperbanyak Tafakur

Keterangan dari para ulama menyebutkan bahwa, siapa saja orang yang meninggalkan dosa-dosanya lemas hatinya, maka bakal menerima terhadap nasehat dan akan khusyu’ terhadap nasihat tersebut.

Orang yang meninggalkan perkara yang haram dalam makanannya, pakaiannya, atau yang lainnya,, serta makan makanan yang halal, maka bersih pikirannya. Artinya berfikirnya tentang segala ciptaan Allah yang menunjukkan terhadap akan menghidupkannya Allah kepada makhluk-Nya setelah mati. Serta menunjukkan Maha Esanya Allah, kekuasaannya Allah dan ilmunya Allah.

Yaitu seperti mikir-mikir dengan fikirannya, dan mengingat-ingat dengan akalnya, bahwa sebenar-benarnya Allah sudah menciptakan manusia dari nutfah di dalam rahim, kemudian Allah menjadikan nutfah (air mani) itu jadi ‘alaqah (darah menggumpal), lalu jadi mudhghah (daging segenggam), lalu oleh Allah dijadikan (diberi) daging dan tulang dan urat, terus memberi lubang untuk pendengaran, kemudian Allah menggampangkan (meringankan) keluar bayi dari perut ibunya. Lalu Allah memberi ilham kepada bayi untuk menyusu (menghisapi puting payudara ibunya), dan Allah menjadikan anak kecil tersebut tidak mempunyai gigi.

Kemudian Allah menjadikan bayi tersebut memiliki gigi, lalu Dia menjadikan ompong dan menghilangkan gigi tersebut pada umur 7 tahun. Kemudian Allah membalikkan lagi dengan sebalikan, maksudnya menjadikan lagi Allah terhadap gigi tersebut untuk seumur hidup.

Lalu Allah menjadikan tingkahnya ‘abdi berubah dari awalnya kecil menjadi besar. Dari muda menjadi tua, dari sehat menjadi sakit. Allah menjadikan ‘abdi dalam tiap harinya untuk tidur dan bangun.

Begitu juga Allah menjadikan rambut dan kuku, dimana ketika lepas salah satunya (rambut dan kukunya digunting), maka Allah akan menggantinya lagi (tumbuh lagi).

Allah menjadikan siang dan malam datang silih berganti, sehingga ketika salah satunya pergi yang lainnya datang. Begitu juga matahari, bulan, mega, bintang, hujan, semuanya datang dan pergi. Bulan pada awalnya hilang pada tiap-tiap bulan, artinya pada awal bulan datangnya sedikit, nantinya akan jadi sempurna (bulan purnama), kemudian mengecil lagi sampai dengan tidak ada.

Sama halnya dengan keadaan gerhana matahari dan gerhana bulan, sehingga hilang cahaya matahari dan bulan dan nantinya kembali lagi.

Dari perkara-perkara diatas, kita harus sadar dan bisa memperbanyak tafakur dari kejadian diatas. Sehingga keimanannya bertambah kuat, bahwa suatu saat nanti dirinya akan bangun di dalam kuburan setelah dirinya mati terlebih dahulu. Serta mengetahui bahwa Allah lah yang membangunkan dan Dia akan membalas segala amal yang dilakukan manusia selama hidup di dunia.

Setiap manusia harus bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tho’atnya kepada Allah, dan menjauhi segala perkara yang dilarang oleh agama (syara’).   

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar