Inilah Ciri dan Tanda Diterimanya Amal Ibadah Oleh Allah swt

Mengaku keteledoran (gegabahnya) diri sendiri, maksudnya mengakui akan apesnya diri dalam melaksanakan tho’at, itu dipuji selamanya. Mengakui keteledoran diri merupakan ciri dari diterimanya amal, sebab itu adalah isyarat bahwa dirinya tidak ‘ujub dan takabur.

Sifat ‘ujub dan takabur merupakan hal yang sangat buruk dan tidak disukai oleh Allah swt. Bahkan kedurhakaan setan terhadap Allah awalnya disebabkan oleh sifat takabur, dia merasa dirinya lebih baik daripada manusia (Nabi Adam as).

Ketika kita melakukan tho’at, jangan sampai timbul perasaan ‘ujub, bangga (merasa dirinya bisa melakukan tho’at padahal orang lain tidak melakukan tho’at), serta takabur. Karena selain hal ini dibenci Allah, juga akan mengurangi atau bahkan menggugurkan ganjaran dari tho’at yang dilakukannya.

Kita harus merasa belum sempurna terhadap ketho’atan yang kita lakukan, perintah Allah yang kita laksanakan, dan larangan Allah yang kita tinggalkan. Kita harus merasa bahwa apa yang dilakukan, kita teledor dan gegabah dalam melakukannya. Bila kita bersikap seperti ini, maka akan membuat kita lebih baik. Artinya ketika merasa belum baik, belum sempurna, maka kita akan berusaha memperbaikinya dan menyempurnakannya.

Selain itu juga salah satu diterimanya amal oleh Allah swt adalah bahwa kita merasa diri kita itu tidak sempurna dalam beramal, merasa masih banyak kekurangan dalam beramal, merasa bahwa ketho’atan yang dilakukan masih banyak kelemahannya.

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar