Melaksanakan Perintah Allah dan Menjauhi Larangan-Nya adalah Ciri Akal yang Sempurna

Menyempurnakan akal itu mengikuti terhadap keridhaan Allah, dan menjauhi dari kebencian (ketidaksukaan) Allah.

Maka apabila tidak seperti yang barusan berarti gila, tegasnya tidak mengikuti keridhaan Allah, dan mendekatkan dirinya kepada kebencian (ketidaksukaan) Allah, dan itu merupakan perilaku yang salah.

Artinya katanya ingin masuk ke surga, tetapi masuk ke dalam jalan neraka. Nah, orang seperti ini walaupun kepalanya dingin tetapi dia gila namanya. Malahan lebih dari gila, sebab kalau orang gila pantas berbuat seperti itu karena akalnya tidak ada (lepas). Sedangkan yang mempunyai akal tetapi tidak dipakai untuk berfikir (tho’at), maka itu bisa dikatakan parah kesesatannya.

Perbedaan antara manusia dengan hewan adalah kalau manusia diberi akal, sedangkan hewan tidak diberi akal. Manusia adalah makhluk sempurna, fungsinya di atas dunia ini adalah sebagai khalifah.

Oleh karena itu kita harus bisa memanfaatkan kelebihan yang diberikan Allah (diberi akal) itu dengan maksimal. Berfikirlah sebelum berbuat, laksanakanlah segala perintah dari Allah dan jauhi larangan-Nya.

Janganlah mengikuti ajakan setan dan mengikuti hawa nafsu, karena bila kita berbuat demikian berarti kita termasuk kedalam orang yang rugi. Allah akan benci dan tidak suka ketika ‘abdi-Nya melakukan perkara yang dilarang-Nya.

Setiap orang pasti menginginkan dirinya masuk ke surga, maka sebagai konsekuensinya kita harus menuruti setiap perintah Allah. Jangan sampai kita ingin masuk ke dalam surga, tetapi jalan yang kita tempuh adalah jalan menuju nerara, artinya melakukan mabuk, zina, membunuh, mencuri, dan lain sebagainya.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar