Ma’siyat Yang Membuat Kita Merasa Rendah Di Hadapan Allah Lebih Baik Daripada Tho’at Yang Membuat Takabur

Ma’siyat yang mewaris atau membuat kita merasa fakir dan rendah di hadapan Allah, itu lebih baik daripada tho’at yang mewaris (membuat) kita takabur.

Penjelasan :

Perhitungan Allah itu adalah dari buahnya tho’at dan ma’siyat. Sebab Allah tidak melihat rupa kita dan amal, kecuali pasti melihat hati kita dan buahnya amal. Ma’siyat yang jadi wasilah terhadap buahnya tho’at itu lebih bagus daripada tho’at yang tidak memunculkan buahnya.

Buahnya tho’at itu adalah merendah-rendahkan diri di hadapan Allah, khusyu dan pasrah kepada Allah, dan inkisar hatinya dihadapan Allah. Maka apabila tho’at tidak menghasilkan sifat yang barusan, malahan menjadikan takabur dan ‘ujub, merasa diri agung. Hal ini apabila dibandingkan dengan ma’siyat yang menjadikan buahnya tho’at, lebih bagus yang kedua.

Intinya adalah lebih bagus ma’siyat yang menimbulkan rasa rendah diri dihadapan Allah, khusyu dan inkisar hati, pasrah kepada Allah. Sebab tho’at yang tidak berbuah dan ma’siyat yang tidak berbuah itu hanya sebagai gambaran saja. Maksudnya tho’at itu hanya sepertinya, dan ma’siyat itu hanya sepertinya.

Oleh karena itu harus dikembalikan ke pokok nya, yaitu orang harus khudhu’ dan tawadhu ke Allah, maka kalau ma’siyat yang menimbulkan khudhu’ dan tawadhu itu lebih bagus daripada tho’at yang menjadikan khudhu’ dan tawadhu.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kesembilan puluh empat)