Ikhlas Dalam Beramal dan Tidak Riya

Sebenar-benarnya Allah mendatangkan terhadap macam-macam warnanya amal untuk merekatkan diri kepada Allah. Nah itu dibarengkan dengan datangnya macam-macam warnanya karunia Allah, yang datang ke dalam hati. Sehingga orang yang suka beribadah dengan sholat, ada yang suka dengan puasa, ada yang suka wirid (berzikir). Nah itu semua keluarnya dari karunia Allah yang datang ke dalam hati. Dan bagusnya macam-macam amal itu buahnya macam-macam ahwal.

Macam-macam amal itu diibaratkan jiwa raga manusia. Dan kalau ruh nya yaitu wujudnya keikhlasan yang samar dalam amal tersebut. Sangat penting sekali amal itu dibarengin dengan ikhlas. Sehingga kalau diibaratkan, amal tanpa ikhlas itu seperti jiwa raga manusia yang tidak ada ruh.

Ikhlas ‘abdi nya Allah dalam macam-macam amalnya itu menurut pangkatnya, maka bagi golongan abror (tegasnya orang yang baik) yang menuju ridho Allah, puncaknya keikhlasan  adalah selamatnya amal dari riya yang jali dan yang khofi.

Riya jali yaitu ingin dilihat oleh selain Allah (ingin dilihat oleh orang lain). Riya khofi yaitu amalnya sembunyi tetapi senang dipuji, dan kesal/marah kalau tidak dipuji.

Sedangkan ikhlasnya golongan muqorrobin puncak keikhlasan ibadahnya karena Allah, melaksanakan perintah-Nya dan melaksanakan tugas sebagai ‘abdinya Allah, jadi tidak ada pengharapan apa-apa. Hatinya dipakai untuk memperhatikan takdir Allah yang kena ke dirinya. Nah ikhlas ini sangat menentukan terhadap meningkatnya ganjaran, sehingga walaupun ‘amalnya kecil/sedikit tapi dibarengin dengan ikhlas yang tinggi, menjadikan ganjaran/pahala yang tidak terbilang dan tidak terukur.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (Hikmah Kesembilan & Kesepuluh)