Kisah Nabi Ilyas Mengenai Kematian

Pada suatu hari Nabi Ilyas sedang duduk. Datanglah malaikat maut untuk mencabut ruhnya. Gelisahlah dia dan menangis dengan tersedu. Bertanyalah malaikat maut kepadanya, “Mengapa engkau gelisah dan menangis, ya Nabi Allah? apakah engkau gelisah meninggalkan dunia atau menghadapi mati?”

Nabi Ilyas menjawab, “Bukan, tetapi aku hanya gelisah karena tidak lagi dapat berdzikir kepada Allah, dimana orang-orang sedang berkumpul dengan dzikir kepada Allah sepeninggalku dan aku tidak dapat berdzikir lagi kepadanya.”

Lalu Allah menurunkan wahyu kepada malaikat maut agar jangan mencabut ruhnya. Karena dia minta hidup karena dzikir kepada Allah bukan untuk dirinya sendiri. “Biarkanlah dia hai malaikat maut sehingga dia dapat hidup dalam dzikir kepada-Ku dan bersenang-senang dalam taman munajat-Ku sampai akhir dunia.”

Dari Usman radhiyallahu ‘anhu, apabila dia lewat sebuah kuburan berhentilah dia dan menangis sehingga basah jenggotnya. Ditanyalah dia, “Hai amirul mukminin, engkau menyebut surga dan neraka serta segala macam penderitaan di hari kiamat dan egkau tidak menangis, tetapi engkau mengingat kubur engkau menangis?”

Dia berkata, Nabi Muhammad telah bersabda, ‘Kubur itu tempat pertama dari tempat-tempat akhirat dan tempat terakhir dari tempat-tempat dunia. Barang siapa yang selamat dari kubur itu, maka apa yang ada sesudahnya adalah lebih ringan. Dan barang siapa yang tidak selamat darinya, maka apa yang ada sesudahnya akan lebih berat lagi.’

Usman berkata lagi, “Jik aku di neraka aku akan bersama manusia lain, jika aku berada dalam kiamat akupun bersama manusia lain, tetapi jika aku berada dalam kubur maka tidak ada seorangpun bersamaku. Itulah sebabnya aku menangis.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin