Sakaratul Maut Orang Mukmin

Diriwayatkan bahwa ada seorang arif yang berfikir mengenai apakah di dalam Al Qur’an terdapat ayat yang menguatkan sabda Nabi Muhammad saw, “Ruh seorang mukmin akan keluar dari jasadnya sebagaimana rambut keluar dari bahan adukan roti.”

Dikhatamkannya Al Qur’an dengan merenungkan artinya. Tetapi dia tetap tidak menemukannya. Bermimpilah dia dalam tidurnya bahwa dia bertemu Nabi Muhammad saw. Dia berkata, “Ya Rasulullah, Allah telah berfirman, ‘Dan tidak barang yang basah dan tidak pula yang kering kecuali telah tertulis di dalam kitab yang nyata (Al Qur’an).’ (Al An’am ayat 59)

Tetapi aku tidak menemukan arti hadis ini di dalamnya, “Beliau bersabda, ‘Carilah dalam surat Yusuf.’ Ketika dia terbangun dari tidurnya dibacanya surat Yusuf dan benarlah dia menemukannya.

Yaitu firman Allah swt dalam surat Yusuf ayat 31, “Dan berkatalah istri Al Aziz, ‘Keluarlah (hai Yusuf) kepada mereka.’ Maka ketika mereka melihatnya mereka kagum kepadanya (kepada keidahan rupanya) dan mereka memotong-motong tangannya (melukai jari tangannya).”

Sebagaimana wanita-wanita itu melihat ketampanan Yusuf, mereka tertegun kepada Yusuf itu dan tidak merasakan sakitnya terpotong jari tangannya, demikian pula orang mukmin ketika melihat malaikat dan melihat tempatnya di surga serta segala kenikmatan yang ada di dalamnya, bidadari dan gedung-gedung tertegunlah hatinya dengan semua itu dan tidak merasakan pedihnya mati, Insya Allah. seperti firman Allah dalam surat Fushillat ayat 30:

“Malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut, janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan surga yang dijanjikan Allah kepadamu.”

Di dalam hadis lain disebutkan, ‘Apabila seorang hamba jatuh dalam menghadapi dicabutnya ruh, berserulah suara yang berseru, ‘Biarkanlah dia agar dapat beristirahat.’ Demikian pula ketika ruh mencapai tenggorokan datanglah seruan, ‘Biarkanlah dia agar anggota yang satu berpamitan dengan anggota yan lain.’

Lalu sebuah mata berpamit kepada mata yang sebelah dan berkata, ‘Assalamu ‘alaikum’ sehingga hari kiamat. demikian pula dua buah telinga, dua belah tangan, dua belah kaki dan ruhpun berpamitan dengan jiwa. Maka kita memohon perlindungan dari berpamitnya iman kepada lidah dan berpamitnya hati dengan makrifat. Lalu tinggallah tangan tidak dapat bergerak lagi, dua belah kaki juga tidak memiliki gerakan lagi, kedua mata sudah tidak bisa memandang lagi, kedua telinga sudah tidak memiliki pandangan, telinga tidak lagi memiliki pendengaran dan tubuh sudah tidak bernyawa lagi.

Seandainya lidah sampai tinggal tanpa pengakuan (pernyataan taudid) dan hati tanpa makrifat dan membenarkan lagi, lalu bagaimana keadaan seorang hamba di liang lahadnya, tidak melihat seseorang, tidak pula ayah, tidak ibu, tidak anak, tidak saudara, tidak pula teman, tidak hamparan (alas tidur), dan tidak pula melihat tutup (tabir) lagi. Jika dia tidak melihat Tuhan Yang Maha Pemurah tentu dia akan merugi dengan kerugian besar.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin