Manakah yang lebih utama, Nabi atau Malaikat?

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa para Nabi adalah lebih utama daripada malaikat yang berada di bawah (bumi). Perbedaan pendapat ii hanyalah mengenai malaikat yang berada di atas langit. Tetapi kebanyakan sahabat Nabi berpendapat bahwa para Nabilah yang lebih utama daripada malaikat di langit.

Para ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa para Nabilah yang lebih utama, mengambil dalil dengan beberapa segi:

Pertama, firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 34, “Dan (ingatlah) waktu Kami berfirman para malaikat: ‘Bersujudlah kepada Adam.”

Diperintahlah para malaikat untuk bersujud kepada Adam, sedang yang lebih cepat dalam faham adalah bahwa perintah sujud orang yang lebih rendah kepada yang lebih utama.

Kedua, firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 21-22, “Dan Dia telah mengajarkan Adam tentang nama-nama (benda) seluruhnya, kemudia dihadapkan-Nya kepada para malaikat dan berfirman, ‘Sebutkanlah nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada pengertian pada kami kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Ini menunjukkan bahwa Adam mengetahui nama-nama seluruhnya sedang para malaikat tidak mengetahuinya. Orang yang mengetahui adalah lebih utama daripada yang tidak mengetahui. Allah juga berfirman dalam surat Az Zumar ayat 9, “Adakah sama orang-orang yang mengatahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.”

Ketiga, bahwa manusia ini menghadapi beberapa hambatan dalam ibadah, karena mereka memiliki syahwat, kemarahan dan hajat-hajat yang menghabiskan waktunya. Sedang malaikat sedikitpun tidak memiliki semua itu. Tidak meragukan lagi bahwa ibadah dengan disertai hambatan-hambatan seperti ini adalah lebih memerlukan ikhlas dan lebih berat, karena itu mereka lebih utama.

Keempat, bahwa manusia ini tersusun dengan susunan antara malaikat yang hanya memiliki akal tetapi tidak memiliki syahwat, dan binatang yang hanya memiliki syahwat tetapi tidak memiliki akal. Lalu dengan akalnya dia dapat memiliki pernan malaikat dan dengan tabiatnya dia akan memiliki peranan binatang. Kemudian kalau tabiatnya itu mengalahkan akalnya maka dia lebih jahat daripada binatang. Karena Allah berfirman dalam surat Al A’raaf ayat 179, “Mereka adalah seperti binatang terak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”

Di dalam surat Al Anfal ayat 122 Allah berfirman, “Sesungguhnya seburuk-buruk binatang di sisi Allah adalah orang-orang tuli.”

Hal itu mengharuskan bahwa orang yang akalnya dapat mengalahkan tabiat atau nafsunya adalah lebih utama dari para malaikat.

Nabi Muhammad bersabda, “Setelah Allah menciptakan Adam dan keturunannya berkatalah para malaikat, ‘Ya Tuhan, Engkau telah meciptakan mereka dapat makan, minum, kawin, naik kendaraan, memakai pakaian tidur dan bangun untuk berusaha, tetapi Engkau tidak menjadikan semua itu pada kami. Maka jadikanlah dunia untuk mereka dan akhirat untuk kami.’ Allah berfirman, ‘Aku tidak akan menjadikan orang yang Aku ciptakan dengan tangan-Ku dan Aku tiupkan ruh-Ku ke dalamnya, sama dengan orang yang Aku ciptakan dengan Kun fayakuunu (Jadilah engkau, maka jadilah ia). yakni sama dengan orang yang Aku ciptakan dengan melulu perintah, yaitu malaikat. Artinya manusia dan malaikat tidak sama dalam kemuliaan dan dekat dengan Allah. kemudian manusialah yang lebih tinggi dan kedudukannya lebih besar.

 

Sumber: Durrotun Nasihin