Kemuliaan 2 Kalimat Syahadat

Syahadat

Seseorang yang akan masuk islam maka syaratnya dia terlebih dahulu harus membaca 2 kalimat syahadat. 2 kalimat syahadat itu bunyinya adalah Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadun Rasulullah.

Di bawah ini adalah kisah atau hikayat mengenai kemuliaan atau keutamaan 2 kalimat syahadat.

Diceritakan dari Abu Bakar bahwa Dihyah Al Kalbi adalah seorang Raja kafir dari bangsar Arab. Rasulullah sangat mengharapkan keislamannya, karena ada 700 orang dari keluarganya berada di bawah kekuasaannya.

Nabi Muhammad mendoakannya dan bersabda, “Ya Allah, karuiakanlah islam kepada Dihyah Al Kalbi.” Ketika Dihyah ingin masuk islam, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad setelah shalat subuh, “Hai Muhammad, Aku telah melemparkan nur iman di hati Dihyah Al Kalbi. Dia akan berkunjung kepadamu sekarang.”

Ketika Dihyah benar-benar masuk ke dalam masjid, beliau mengangkat selendangnya dari punggungnya dan menghamparkannya di atas tanah serta beliau mengisyaratkan ke arah selendangnya itu. Ketika Dihyah melihat penghormatan Nabi Muhammad kepadanya menangislah dia dan mengangkat selendang itu, lalu diciuminya dan diletakkannyalah di atas kepalanya da juga pada kedua matanya.

Dihyah berkata, “Ya Nabi Allah, apa sajakah syarat-syarat islam itu? Tunjukkanlah kepadaku syarat-syarat itu.” Nabi Muhammad berkata, “Engkau harus mengucapkan Laa ilaaha Illallaah Muhammadun Rasuulullaah.” Kemudian dia menangis. Bersabdalah Nabi Muhammad kepadanya, “Apa arti tangisanmu itu hai Dhiyah? Apakah karena kedatanganmu untuk masuk islam ini ataukah karena sesuatu yang lain?”

Dihyah berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengerjakan beberapa dosa besar. Tanyakanlah kepada Tuhanmu, apakah tebusannya? Jika Dia menyuruhku untuk membunuh diriku tentu aku akan membunuh diriku, dan jika Dia memerintahkan aku supaya mengeluarkan sedekah dari hartaku aku akan mengeluarkannya.”

Nabi Muhammad berkata, “Apakah dosa itu hai Dihyah?” Dihyah berkata, “Aku adalah seorang raja diantara raja-raja di Arab ini. Aku merasa malu kalau anak-anakku perempuan sampai mempunyai suami, agar tidak dikatakan bahwa Fulan bin Fulan adalah menantu raja Dihyah Al Kalbi, maka aku bunuh 70 anak perempuanku dengan tanganku sendiri.”

Mendengar itu Nabi Muhammad menjadi bingung, maka turunlah malaikat Jibril dan berkata, “Ya Rasulullah, katakan kepada Dihyah, ‘Demi keagungan dan keluhuran-Ku, sesungguhnya ketika engkau membaca Laa ilaaha illallaah Muhammadun Rasulullah, maka Aku telah mengampuni kekafiranmu selama 60 tahun dan makianmu kepada-Ku selama 60 tahun juga. Lalu bagaimana Aku tidak mengampuni pembunuhan anak-anak perempuanmu, sedang mereka adalah milikmu sendiri.’

Abu Bakar melanjutkan ceritanya, kemudian Nabi Muhammad menangis beserta para sahabat, lalu Nabi bersabda, “Ya Tuhanku, Engkau benar-benar telah mengampuni Dihyah mengenai pembunuhannya terhadap anak-anak perempuannya sebab bacaan syahadat sekali saja, lalu bagaimana Engkau tidak mengampuni dosa-dosa kecil dari orang-orang mukmin dengan berkali-kali syahadat.”

Dihyah, dapat dibaca fathah dalnya dan dapat juga dibaca kasrah. Tentang mana yang lebih unggul, para ulama berbeda pendapat. Dia adalah Dihyah bin Khalifah bin Farwah Al Kalbi. Dia terkenal sebagai orang yang paling tampan wajahnya. Apabial dia datang di Madinah, tidak seorang perempuan pun kecuali akan keluar melihatnya.

Malaikat Jibril sendiri sering datang kepada Nabi Muhammad dengan bentuk Dihyah itu karena tampannya. Dia termasuk orang-orang yang masuk islam dahulu dan selalu mengikuti peperangan setelah perang Badar bersama Rasulullah saw.

Dia masih tetap hidup sampai masa pemerintahan Mu’awiyah dan diapun ikut berperang. Dia bertempat tinggal di Mizzah, yaitu sebuah desa di dekat Damaskus. Dialah orang yang dikirimkan untuk membawa surat Nabi Muhammad kepada pembesar negara Bushra untuk disampaikannya kepada Heraqlius. Semua itu terjadi pada akhir tahun 6 hijriyah.

 

Sumber: Durrotun Nasihin