Riwayat kaum Bani Israil tentang akibat mengadu domba atau namimah

Ka’ab telah meriwayatkan bahwa dahulu kaum Bani Israil pernah mengalami krisis hujan, sehingga keadaannya menjadi paceklik. Akhirnya Nabi Musa a.s. memohon pertolongan kepada Allah dengan memanjatkan doa berulang kali, namun tidak juga dikabulkan oleh Allah. lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. “Sesungguhnya aku tidak akan mengabulkan permohonan orang-orang yang bersamamu. Karena di kalanganmu ada orang yang suka mengadu domba.” Nabi Musa berkata, “Siapakah ia, wahai Tuhanku sehingga kami dapat mengeluarkannya dari kalangan kami?” Allah berfirman lagi, “Wahai Musa, Aku melarangmu jangan sampai mengadu domba antara sesama, apakah Aku suka mengadu domba? Sehingga larangan itu Aku langgar sendiri?”

Akhirnya kaum Bani Israil sama bertaubat kepada Allah, lalu turunlah hujan.

Abdullah bin Mubarak telah berkata, “Anak hasil dari hubungan zina biasanya tidak dapat menyimpan rahasia atau omongan orang lain. dengan demikian, kebanyakan dari mereka suka mengadu domba. Oleh sebab itu jika ada orang yang suka mengadu domba berarti ia adalah anak dari hasil hubungan zina.”

Sebagian ulama berkata, “Perbuatan orang yang suka mengadu domba adalah lebih berbahaya daripada perbuatan setan. Karena perbuatan setan hanya menggoda, tetapi perbuatan orang yang suka mengadu domba langsung membuat pertengkaran.”

Ibnu Hibban juga telah meriwayatkannya dalam kitab shahihnya bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

“Maukah kamu aku tunjukkan tentang amal perbuatan yang lebih utama daripada derajat puasa, shalat, dan shadaqah?” para sahabat penjawab, “Ya, baiklah.” Maka Rasulullah saw bersabda, “Mendamaikan orang yang sedang bermusuhan, karena sesungguhnya merusak hubungan orang yang bermusuhan berarti mencukur.”

Imam Turmudzi juga telah menganggap shahih hadis tersebut di atas, bahkan ia juga menambahkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Merusak hubungan orang yang bermusuhan adalah mencukur, aku tidak berkata, ‘Mencukur rambut, akan tetapi mencukur agama’.”