Inilah keutamaan shadaqah, tidak berkata bohong, dan pembagian martabat ikhlas

Rasulullah saw bersabda, “Bicara berbisik itu menjaga rahasia, maksudnya pelan-pelan ngomong itu menjaga terhadap perkara-perkara yang disembunyikan.” Maka menyembunyikan rahasia itu menjadi paling kuatnya keberhasilan.

Rasulullah saw bersabda, ”Harus minta tolong kalian semua untuk menghasilkan segala kebutuhan dengan cara menyembunyikan. Karena sebenar-benarnya tiap-tiap yang memiliki nikmat itu di hasudin (banyak yang hasud).”

Shadaqah itu menjaga harta

Nabi Muhammad berkata, “Tidak semata-mata ada suatu hari yang tenggelam mataharinya, melainkan ada dua malaikat yang berdoa kepada Allah. Mereka berdoa,’Ya Allah, semoga Engkau memberi kepada orang yang menafkahkan (shidqah) hartanya penggantinya, dan kepada orang yang tidak menafkahkan (shidqah) hartanya kerusakan’.”

Allah berfirman di dalam Al Qur’an, “Orang yang memberikan hartanya, dan orang itu menjaganya, dan membenarkan terhadap kebaikan, maka Aku yang Agung akan memudahkan kepada orang tersebut terhadap kemudahan.”

Ibnu Abbas berkata, “ Siapa saja orang yang memberika hartanya dalam perkara yang diperintahkan, dan menjaga dalam perkara yang datang, dan membenarkan terhadap penggantian dari Allah dari hasil pemberiannya (shadaqah),  maka Allah bakal membuat/memberikan suatu tingkah yang bisa menyampaikan kepada kesenangan. “

Pembagian Martabat Ikhlas

Ikhlas itu menjaga amal, maka martabat ikhlas yang paling tinggi yaitu membersihkan amal dari melihat makhluk. Misalnya dia tidak mengharapakan dari ibadahnya kecuali karena menuruti perintah Allah, serta melaksanakan haq pengabdian, sambil tidak mengharapkan pujian dari sesama manusia.

Kemudian martabat yang selanjutnya (kedua) adalah beramal karena Allah, agar Allah memberikan kepada dia bagian di akhirat, seperti ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, dan diberikan nikmat berupa kesenangan surga.

Dan martabat yang ketiga adalah seseorang beramal karena Allah, supaya Allah memberikan kepadanya bagian dunia, misalnya supaya dilapangkan rizkinya, dan dilepaskan dari musibah.

Nah, perkara yang selain tiga diatas itu berarti disebut riya’ dan dicela oleh syara’.

Mengapa Tidak Boleh Berkata Bohong

Benar dalam berbicara itu menjaga omongan, maka orang yang berbohong itu tidak diterima omongannya di hadapan Allah dan di hadapan manusia.

Ibnu Abbas menafsirkan firman Allah, “Walaa talbisuul haqqa bil baatil”, maksudnya jangan mencampurkan kalian semua terhadap omongan benar dengan omongan bohong.

Menurut sebagian hukama bahwa bisu (diam) itu lebih baik daripada bicara bohong. Dan benarnya lisan/omongan adalah awalnya kebahagiaan. Orang yang benar omongannya itu dijaga serta dicintai, sedangkan orang yang bohong omongannya dihina dan hina.

Bermusyawarah dalam segala urusan menjaga pemikiran, maksudnya macam-macam pengaturan. Musyawarah itu bisa menjadi sebab selamat dari ancaman dhalim.

Rasulullah saw bersabda, “Musyawarah itu adalah suatu benteng yang menjaga dari kenelangsaan, dan keselamatan dari celaan.”

Sayyidina Ali berkata, “Patih (pembantu urusan) yang paling bagus adalah musyawarah, sedangkan yang paling buruk membuat persiapan adalah mengandalkan pemikiran otak sendiri.”

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar