Apa sajakah perkara yang bisa diketahui nilainya dengan lawannya perkara tersebut

Menurut Syeikh Hatimul Asham Rahimahullaah bahwa ada empat perkara yang tidak bisa diketahui nilainya (kepentingannya), kecuali dengan empat jenis. Karena sebenar-benarnya suatu perkara bisa diketahuinya itu dengan lawannya perkara tersebut.

Yang pertama adalah kemudaan tidak mengetahui nilainya kecuali oleh orang yang sudah tua. Yang kedua adalah keselamatan (ditolak dari yang dibencinya) tidak akan tahu terhadap nilainya ‘afiat, kecuali oleh orang-orang yang mendapat musibah. Menurut Imam Ghazali bahwa tidak akan diketahui nilainya kekayaan kecuali oleh orang fakir.

Yang ketiga adalah kesehatan (segar bugar) badan tidak akan tahu nilainya kecuali oleh orang-orang yang sakit. Dan yang keempat adalah bahwa hidup tidak akan tahu tentang nilainya, kecuali oleh orang-orang yang meninggal.

Syair Abu Nuwas Tentang Dosa, Amal dan Rahmat Allah

Ada sebuah syair dari Abu Nuwas, yang memiliki nama asli Syeikh al Hasan ibni Hanii i. Beliau terkenal dengan nama Abu Nuwas karena memiliki dua buntut yang rubah dua-duanya, maksudnya berubah dua-duanya diatas pundak Syeikh Hasan.

“Dosa itu apabila dipikir-pikir olehku banyak, dan rahmat Allah kepadaku lebih luas daripada dosaku. Dan tidak ada thoma’ dalam amal shalih apabila aku mengerjakannya, tetapi dalam rahmat Allah aku lebih  thoma’ menginginkannya. Allah adalah yang sudah menciptakanku, dan aku adalah seorang ‘abdi yang ikrar dan menghamba kepada-Nya. Maka apabila mendapat pengampunan-Nya, itu adalah semata-mata adalah rahmat-Nya. Sedangkan apabila terbukti yang lainnya, maka terhadap perkara apa aku mengerjakan.”

Doa Nabi Muhammad Agar Tidak Diperlihatkan Keburukan Amal

Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja orang yang menginginkan tidak diperlihatkan oleh Allah tentang keburukan amalnya, dan tidak dibukakan untuk orang itu buku amalnya, maka dia harus berdoa setelah tiap-tiap shalat dengan doa ini,’Allaahumma inna maghfirataka arjaa min ‘amalii wa inna rahmataka au sa’u min dzanbii, Allaahumma  in lam akun ahlan an ablugha rahmataka farhamtuka  ahlu an tablughanii liannahaa wasi’at kulla syai in yaa arhamar raahimiina.’ yang artinya Ya Allah, sebenarnya pengampunan-Mu lebih diharapkan daripada amalku, dan sebenarnya rahmat-Mu lebih lapang bila dibandingkan dengan dosaku. Wahai Allah, kalau tidak terbukti aku ahli untuk sampai kepada rahmat-Mu, maka rahmat-Mu itu ahli untuk sampai kepadaku. Sebab rahmat-Mu melegakan/melapangkan ke tiap-tiap perkara, wahai dzat yang paling asih diantara yang asih

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar