Inilah Sikap Ahli Ma’rifat Dalam Memandang Dunia dan Keadilan Allah

Keterangan yang diterima dari sebagian hukama: Orang-orang yang ma’rifat (tahu kepada Allah), maka tidak terbukti rasa enaknya bersama dengan para makhluq, karena sebenar-benarnya orang tersebut tidak menyukai selain Allah.

Dan siapa saja orang yang mengetahui bahwa dunia itu akan dan sering rusak, maka orang tersebut tidak akan menyukai dunia. Tetapi orang itu akan memilih perkara yang abadi (akhirat), serta akan beramal untuk kepentingan akhirat.

Serta orang-orang yang mengetahui akan Maha Adilnya Allah swt, maka tentu tidak akan berdatangan musuh-musuh kepadanya. Maksudnya tidak akan menghadap musuh kepadanya, karena orang itu akan meninggalkan permusuhan, seperti yang dikatakan oleh Imam Hasan Rahimahullaah,”Siapa saja orang yang ma’rifat kepada Allah, orang itu tentu akan mencintai Allah”.

Siapa pun orang yang ma’rifat dan tahu akan hinanya dunia, tentu saja orang itu akan membenci dunia.

Imam syafi’i berkata,”Tidak ada dari perkara dunia  kecuali seperti bangkai yang busuk, yang diatas bangkai tersebut ada anjing-anjing yang menginginkan untuk menggerogotinya (mengambilnya). Maka kalau kamu menjauhi bangkai itu, maka terbukti kamu menyerahkan bangkai itu. Dan apabila kamu mengambilnya (menginginkan bangkai itu), maka tentu saja anjing itu akan memusuhi kamu karena bangkainya diambil.”

Ketika seseorang sudah merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, merasakan manis dan bahagianya beribadah kepada Allah, maka tidak akan ada yang diinginkannya selain bisa dekat dengan Allah, serta tidak akan menyukai untuk bergaul serta berbaur dengan orang banyak.

Dunia itu merupakan tempat atau perkara yang sering rusak dan hina, oleh karena itu orang-orang yang mengetahuinya tidak akan terperdaya olehnya (dunia), tetapi mereka akan lebih memilih dan mengutamakan kepentingan akhirat yang akan abadi.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar