Mengapa Kita Harus Bersyukur Dengan Nikmat Islam dan Bisa Tho’at

Keterangan yang diterima dari Sayyidina Ali karramallaahu wajhah: “Sebenar-benarnya kenikmatan dunia itu cukup bagi kalian dengan kenikmatan masuknya kita ke dalam islam. Dan sebenar-benarnya perbuatan (pekerjaan) itu cukup bagi kalian dengan adanya bisa tho’at. Maka tho’at kepada Allah itu adalah perbuatan baik yang paling besar, yang menjadikan keselamatan. Dan sebenar-benarnya peringatan bagi kalian cukup dengan adanya mati, sebab sebenar-benarnya mati itu merupakan peringatan terbesar bagi manusia.”

Kenikmatan islam merupakan kenikmatan yang sangat besar sekali, karena selain tidak setiap manusia yang hidup di alam dunia ini beragama islam, juga karena islam lah agama yang di ridhai oleh Allah.

Oleh karena itu kita harus senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat islam ini, serta senantiasa menjaga keislaman dengan sekuat tenaga. Caranya yaitu dengan melaksanakan segala perintah dari Allah swt, dan tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah.

Tho’at kepada Allah adalah hal yang harus senantiasa dilakukan oleh setiap manusia, karena Allah lah yang menciptakan manusia, dan nanti ketika sudah mati akan kembali kepada-Nya. Jadi jangan sampai kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak tho’at kepada Allah, karena kalau kita berbuat demikian, maka nanti kita pasti akan menyesal di dunia maupundi akhirat. Karena semua perbuatan kita akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti.

Seringkali kita melihat ada yang meninggal di sekitar kita, baik itu keluarga kita sendiri, kerabat, teman dan sahabat, rekan kerja, tetangga, dan lain-lain. Apabila kita sadar dan bisa mentafakurinya, seharusnya kita bisa memetik pelajaran dan mengambil hikmah dari kejadian tersebut (kematian). Bahwa semua makhluk hidup yang ada di dunia akan mati, dan kematian itu pasti akan menimpa kita cepat maupun lambat. Oleh karena itu, sebelum ajal atau kematian itu menjemput, maka kita harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar