Sikap Muslim Ketika Mendapat Nikmat Dari Allah

Dan yang ketiganya adalah golongan yang lebih sempurna, yaitu yang sering disebut ahlir rusuukhi wattamkiini, yang mendiami maqam khasshatil khasshati, yaitu ‘abdinya Allah swt yang kedatangan cahaya bertauhid, terus tambah bersih dalam ingatannya. Dan yang ghaib dari melihat makhluk, terus bertambah dekatnya kepada Allah swt. Maka musyahadahnya kepada Allah swt tidak menghalangi dari melihat makhluk, dan melihatnya makhluk tidak menghalangi musyahadah kepada Allah swt. Dan hilangnya ingatan itu tidak menghalangi dari tetapnya ingatan. Dan tetapnya ingatan tidak menghalangi dari hilangnya ingatan, yaitu bisa mendatangkan terhadap tiap-tiap yang memiliki bagian terhadap bagiannya. Dan bisa melaksanakan dalam tiap-tiap yang memiliki haq terhadap haqnya.

Disini akan dijelaskan golongan orang yang ketiga, ketika menghadapi kenikmatan yang datang dari makhluk.

Nah golongan ini sering disebut ahlir rusuukhi wattamkiini, artinya golongan orang yang kedatangan cahaya tauhid, kemudian bertambah bersih ingatannya.

Maka dimana-mana kedatangan kenikmatan dari makhluk, akan melihat kepada yang menghendaki-Nya (membuat itu terjadi), lalu bertambah-tambah syukurannya, serta ingat kepada makhluk yang memberinya.

Jadi kepada Allah swt yang hakikatnya memberi melihat, dan kepada orang yang memberinya bisa mendatangkan kepada syukuran. Sehingga kepada Allah swt bisa bersyukur, dan kepada makhluk bisa syukuran.

Ketika ma’rifat kepada Allah swt, sehingga tidak terlihat makhluk-Nya, itu jadi bertambah rasa dekatnya. Jadi fikirannya dibarengi dengan sadar, dan lebih bersih. Maka ketika perlu musyahadah, terus musyahadah, ketika perlu pisah terus pisah, jadi ingatannya bisa diatur.

Nah ini sudah mendiami maqam khashatil khasshati, yaitu yang bisa mendatangkan terhadap segala keharusannya pada tempatnya.

Jadi kesimpulannya dari ketiga hikmah ini (267, 266, 265), orang ketika menghadapi kenikmatan yang datangnya dari sesama manusia, ada yang penglihatannya semata-mata dari manusia, sehingga tidak ingat kepada Allah yang memberinya, yaitu orang yang sangat ghaflah.

Kemudian ada lagi yang sedang sangat musyahadahnya, yang sedang tenggelam dalam lautan cahaya bertauhid kepada Allah. sehingga tidak melihat kepada makhluk yang memberinya, perasaannya merasa hanya dari Allah saja, tidak melihat adanya perantara.

Ada juga golongan yang bisa mendatangkan syukuran kepada makhluk-Nya dan syukuran kepada Allah swt. Hatinya dibarengi dengan musyahadah serta ingat kepada hakikat yang memberinya adalah Allah. begiu juga ingat kepada adanya perantara, yaitu sesama manusia. Sehingga akhirnya kepada Allah bersyukur begitu juga kepada sesama manusia.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam puluh tujuh)