Janganlah Bangga Dengan Ketaatan Kita dan Amal Yang Dilakukan

Ya Allah, ketentuan-Mu yang luas dan kehendak-Mu yang memaksa, itu dua-duanya tidak meninggalkan kepada orang yang mempunyai tingkah terhadap tingkahnya, dan tidak meninggalkan kepada orang yang memiliki ucapan terhadap ucapannya.

Hati ahli ma’rifat itu tidak mendebat (bertanya-tanya mengapa) Allah, mengapa Allah menjadikan seperti ini. Begitu juga ahli ma’rifat tidak merasa tenang dalam satu tingkah, dan tidak berpatokan terhadap amal atau ucapan, tetapi hatinya melekat (bersandar) kepada Allah. Serta membutuhkan kehendak Allah yang baik, sebab ahli ma’rifat tahu bahwa segala ketentuan dan kehendak Allah pasti terjadi dan tidak bisa dihalangi.

Sebenar-benarnya manusia tidak pantas melirik, mengagung-agung tho’atnya, walaupun agung dalam pekerjaannya. Dan tidak pantas menghitung-hitung bagus terhadap suatu tingkah yang dilakukan olehnya, walaupun bagus tingkahnya, sebab Allah swt juga melihat dan memperhatikan.

Bermacam-macam tho’at yang besar menurut manusia yang mengerjakannya, padahal menurut Allah lebih kecil daripada sayap laron. Bermacam-macam tingkah yang dianggap bagus oleh orang yang melakukannya, padahal menurut Allah swt dicela.

Jadi orang-orang jangan berpatokan atau bersandar kepada amalnya dan tingkahnya yang bagus, tetapi berpatokan atau bersandar itu tetap harus kepada fadhalnya Allah.

Maka walaupun banyak amalnya, kalau sudah ditegakkan keadilan Allah pasti akan celaka. Sebab amal-amal yang banyak pada hakikatnya campur dengan yang  buruk. Apabila fadhalnya tidak ada terus keadilan-Nya ditegakkan, maka manusia bakal celaka, walaupun banyak amal.

Dalam sebuah hikayah diceritakan di akhirat ada seseorang yang dimasukkan ke surga dengan fadhalnya Allah, terus orang ini berkata: “Amal aku apa manfaatnya?” Allah berfirman: Sebenar-benarnya kalau amal kamu yang bagus dan banyak kalau dipakai untuk menebus nikmat, maka satu juz dari badan kamu juga tidak akan tertebus”. Jadi tetap masuknya ke surga itu adalah karena fadhalnya Allah.