Mengapa Ibadah Atau Amalan Wajib Lebih Utama Daripada Sunnah

Dibawah ini akan dijelaskan tentang ciri-cirinya orang yang sering mengikuti hawa nafsu. Mereka sering ribut atau lebih mementingkan pekerjaan sunah, yang menjadi mulya ketika dilakukannya, tetapi gegabah dalam pekerjaan yang wajib.

Kenapa mereka berbuat seperti itu (rajin dalam melakukan sunah tapi malas melakukan yang wajib), itu merupakan ciri dari menuruti hawa nafsu. Nafsu itu tidak terlalu senang mengerjakan yang wajib, sebab kalau yang wajib itu banyak orang yang mengerjakan. Sehingga dengan mengerjakan kewajiban tidak menjadi aneh, karena yang menjadi aneh itu adalah adanya lebihnya dari yang wajib. Dengan melakukan yang lebihnya maka sering terlihat kemulyaannya.

Orang yang melakukan pekerjaan wajib kemudian memperbanyak sunah sering jadi mulya, sedangkan kalau memperbanyak yang wajib saja tidak terlihat keutamaannya, dan nafsu itu keinginannya mendapatkan keutamaan.

Dengan lebih menyukai pekerjaan/ibadah sunah dan mementingkan untuk memperbanyaknya, karena ingin mendapatkan kemulyaan, tetapi gegabah dalam melaksanakan ibadah wajib, maka iu termasuk dari cirinya mengikuti hawa nafsu. Hidupnya akan celaka, karena akan jadi mulya pekerjaan sunah apabila kewajiban sudah dilakukan. Pekerjaan sunah itu adalah lebihnya, maka harus ada yang pokoknya (wajib).

Tidak akan ada lebihan kalau tidak ada pokoknya, seperti pentingnya (bernilainya) angka nol itu setelah ada angka yang lain (1 sampai 9). Dengan banyaknya angka nol akan banyak bilangannya,  misalnya angka 5 ditambahi 0 satu maka nilainya jadi 50, kalau ditambahi 0 nya 4 jadi 50.000. Tetapi kalau hanya angka 0 saja walaupun ada sepuluh 0 dan tidak ada angkanya (1 – 9), maka tidak akan ada artinya (bilangannya kosong).

Orang yang banyak melakukan pekerjaan sunah tetapi tidak melaksanakan pekerjaan wajib, itu tidak ada ganjarannya, dan tetap akan disiksa di neraka. Atau seperti orang yang mencari ilmu, dia lebih mementingkan ilmu fardhu kifayah tapi malas dan gegabah dalam ilmu fardhu ‘ain. Maka itu juga mencari ilmunya karena menuruti hawa nafsu, bukan karena Allah.

Didalam kitab Adzkia dijelaskan bahwa dimana-mana kita melihat orang yang mencari ilmu, mereka menuruti syahwat dan nafsu serta disibukkan dengan ilmu fardhu kifayah sebelum fardhu ‘ain, maka sudah yaki dan jelas mereka mencari ilmunya bukan karena Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus delapan puluh enam)