Berangkat Dari Keindahan Dunia Menuju Dzat Yang Menciptakan Dunia (Allah swt)

Kita jangan bubar dari keindahan dunia menuju keindahan dunia. Kalau begitu terbukti bahwa kita seperti himar penggilingan yang muter, dan tempat yang dituju yaitu tempat berangkatnya. Tetapi kita harus bubar/berangkat dari keindahan dunia menuju dzat yang mengadakannya dunia, wainna ilaa robbikal muntahaa.

Penjelasan : ada orang-orang yang keliru yaitu golongan orang yang meninggalkan dunia menuju keindahan dunia juga, meninggalkan pangkat rendah (bawah) menuju ke yang rendah (bawah) lagi. Seperti orang yang tapa dari dunia sambil hanya beribadah saja kepada Allah menuju ingin istirahat badan dari kesibukan, dan supaya dunia berdatangan dengan sendirinya.

Rasulullah menjelaskan siapa saja orang yang memutuskan keduniaan menuju Allah, maka Allah akan mencukupkan segala kebutuhannya, dan akan memberi rizki dengan rizki yang tidak diingat-ingat. Dan orang yang tujuannya akhirat, Allah akan mengkomplitkan terhadap segala urusannya, dan akan membuat kaya hatinya, dan akan berdatangan dunia kepadanya.

Orang yang tapa dari dunia karena ingin keistimewaan dari Allah, ingin agar orang-orang menghadap/menghargai dirinya, mengagungkan dirinya, atau karena ingin mendapatkan karomah dan khowariq lil’adat, maka itu sudah berangkat bubaran dari dunia menuju ke dunia lagi. Hal ini seperti himar penggilingan yang muter dari tempatnya menuju ke tempat semula lagi. Tegasnya orang seperti itu adalah orang bodoh seperti himar.

Seharusnya kita berangkat dari keindahan dunia menuju ma’rifat terhadap dzat yang menciptakan dunia, yang bisa ditempuh dengan 3 jalan :

  1. Harus menyandarkan cita-cita kita hanya kepada Allah, jangan ke yang lainnya.
  2. Harus kembali ke Allah dengan melaksanakan macam-macam kewajiban dan menjauhi dari keuntungan diri.
  3. Harus melanggengkan bersandar ke Allah, dan minta tolong serta tawakal, pasrah terhadap perkara yang didatangkan oleh Allah kepada kita.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (Hikmah keempat puluh dua)