Ma’rifat Terhadap Sifat Qohar Allah

Sebenarnya ma’rifat kepada Allah itu bisa dari jalan ma’rifat kepada sifat qohar nya Allah, tegasnya Allah swt mempunyai sifat qohar. Artinya dzat yang bisa membagus-baguskan dengan sekehendak. Dan tidak ada yang bisa menghalangi terhadap qudrotnya sehingga tiap-tiap perkara yang di irodat kan oleh Allah, yang muwafaqoh dengan ilmunya itu bakal terjadi.

Maka apabila seseorang benar-benar ma’rifat terhadap sifat qohar nya Allah, akan menimbulkan rasa tidak punya daya dan upaya, sehingga akan pasrah terhadap segala ketentuan-Nya.

Perkara yang menunjukkan adanya sifat qohar nya Allah yaitu Allah swt nutupin ke kita semua, sehingga kita semua tidak bisa melihat dzat Allah, sambil tidak ada penghalang, padahal Allah lebih dekat daripada urat yang di leher, dan dimana saja terbukti kalian, maka disitu ada dzat Allah. Tapi kenapa kita tidak bisa melihat, nah dengan tidak bisa melihatnya padahal keadaan dekat, itu menunjukkan sifat qohar nya Allah swt.

Di zaman dahulu ketika Nabi Musa menerima firman Allah swt, beliau ingin bertemu dengan dzat nya Allah. Menurut Allah “kamu masih terhalang untuk melihat-Ku, tuh lihat gunung, apabila gunung itu masih tetap ditempatnya, maka kamu bisa melihat-Ku”

Tapi ketika Nabi Musa melihat gunung, ternyata gunung tersebut sudah tidak ada, maka saat itu juga beliau terjungkal pingsan. Ketika sudah sadar, beliau lalu bertaubat. Lalu ketika Nabi Musa membawa sahabat 70 orang dibawa ke gunung tursina, untuk menjadi saksi bahwa Nabi Musa benar-benar menerima wahyu dari Allah swt. Terus yang 70 orang itu keukeuh ingin melihat Allah, lalu mengeluarkan omongan “kami tidak akan iman kepadamu, kecuali bisa melihat dulu Allah”

Kemudian Allah memperlihatkan kepada mereka maha qohar nya Allah, sehingga yang 70 orang itu disambar petir sampai mati. Jadi manusia tidak bisa melihat Allah padahal dekat, dan tidak bisa memaksakan. Nah ini menjadi ciri terhadap qohar nya Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (Hikmah kelima belas