Mengapa Islam Melarang Berprasangka Buruk Kepada Orang Lain

Keterangan yang diterima dari Sayyidina Ali radiyallaahu’anhu:

“Harus terbukti kamu menurut Allah menjadi orang yang paling baik, dan harus bukti kamu menurut nafsu sebagai orang yang paling jelek.”

Nah, itu seperti yang sudah dikatakan oleh Syeih Abdul Qadir Jailani: “Bila kamu bertemu dengan salah seorang dari orang-orang, maka kamu harus menetapkan keunggulan orang itu melebihi dirimu. Dan kamu harus berucap bahwa ‘terbukti orang itu lebih baik daripada aku, dan derajatnya lebih tinggi daripada aku’.

Apabila orang yang ditemuinya adalah seorang budak, maka kamu berucap,’Budak ini tidak pernah ma’siyat kepada Allah, sedangkan aku sudah ma’siyat kepada Allah, maka sudah tidak ragu-ragu lagi bahwa budak ini lebih baik daripada aku.’

Apabila yang ditemui itu adalah orang alim, maka kamu harus berkata,’Orang alim ini telah diberi ilmu yang tidak sampai kepadaku, dan sudah merawat orang alim ini terhadap perkara yang aku tidak merawatnya, dan orang alim ini beramal dengan ilmunya.’

Dan bila terbukti yang ditemuinya adalah orang bodoh, maka kamu berkata,’Orang ini sudah melakukan ma’siyat disebabkan kebodohannya, sedangkan aku melakukan ma’siyat padahal mempunyai ilmu’

‘Dan aku tidak mengetahui apa-apa? di akhirinya untuk aku, atau dengan apa-apa? Di akhirinya untuk orang itu.’ Artinya kita tidak mengetahui apakah amal kita itu akhirnya bagus (husnul khatimah) atau buruk (su ul khatimah), sebab amal seseorang itu tergantung dari akhirnya (akhir hidup).

Apabila kamu bertemu dengan orang kafir, maka kamu berkata,’Aku tidak tahu, jangan-jangan orang kafir ini masuk islam, sehingga diakhiri orang kafir ini dengan amal baik. Dan jangan-jangan aku jadi kafir, sehingga aku diakhiri dengan amal buruk’.”

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar