Keutamaan dan Kedudukan Wanita Dalam Islam

Bersabda Rasulullah saw, : “Dunia adalah kesenangan sementara, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita yang shalihat.” (HR. Muslim) Wanita shalihat adalah sebaik-baik perhiasan dunia, karena darinya lah akan lahir generasi baru yang shalih, mukmin yang konsekwen dengan ajarannya, dan siap dengan segala resiko demi meninggikan kalimah Allah.

Seorang tokoh Yahudi pernah berucap “Jika kalian (kaum yahudi) ingin menghancurkan kekuatan islam, hancurkanlah moral kaum wanita mereka. Adalah suatu hal yang percuma jika kalian mengambil jalan membunuh kaum lelaki mereka untuk menghancur leburkan islam. Karena jika di dunia ini masih terdapat seorang wanita yang berpegang teguh pada ajaran islam, dari dia lah akan muncul kembali pembela-pembela islam yang bekerja keras menegakkan agamanya.”

Dari pernyataan di atas jelaslah bagi kita bahwa kaum wanita berperan besar atas tumbuh tegaknya ajaran Allah ini.

Wahai kaum muslimah…..
Keibuan adalah rahmat yang berhubungan erat dengan nubuwah yang sifat ihsannya ialah sifat ihsan nabi sendiri.
Para ibu adalah pembentuk jalan yang akan dilalui kaum lelaki.
Dengan rahmat keibuan, lebih matanglah pribadi bangsa-bangsa.
Garis-garis di kening bunda menentukan kualitas kita dalam hidup ini.
Dia yang karenanya Allah berfirman : “Jadilah kehidupan.”
Memberi isyarat : “Surga ada di bawah telapak kaki ibu.”
Di dalam memelihara rahim jua, kehidupan umat menjadi sejahtera.
Kalau tidak (karena muslimat), kehidupan menjadi mentah.
Ambillah contoh dari wanita desa.
Yang gemuk, tak cantik, bahasanya tidak halus.
Sakitnya menjadi ibu telah meluluhkan hatinya.
Lipatan-lipatan muram memilukan telah melengkung di bawah kelopak matanya.
Tetapi andaikata dari dadanya, umat ini menerima sebagai muslimah yang begitu cinta terhadap islam, hamba Allah yang setia.

Maka, Segala kesakitan yang ditanggungnya akan menjadi benteng kehormatan agama.
Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, dia menerima qada qadarnya. sambil terus berjuang dengan gigih, serta diiringi do’a.
Kemudian contohnya wanita yang semampai, dada merekah, berbaju ketat, kerling matanya mempesonakan.
Fikirannya gilang gemilang dengan cahaya budaya barat.
Lahirnya dia adalah wanita jelita.
Batinnya bukan lagi seorang wanita shaleh.
Ia telah memutuskan tali ikatan yang memelihara keselamatan kaum muslimin.
Kecantikannya telah terburai semua, kebebasannya membangkitkan……!
Ia sama sekali tak tahu malu, ilmunya tak cukup untuk menanggung beban keibuan.
Didadanya tak ada cahaya iman, gelap gulita.

Akh…..alangkah lebih baiknya kuntum mawar ini tak pernah tumbuh di taman sari kita……jauh….!
Kekayaan suatu kaum, hai saudara yang budiman, tidaklah terletak pada sutera yang bagus dan halus. Tidak pula dalam timbunan emas dan perak.
Tetapi ia terletak pada putera-puterinya yang bersih, lagi kuat tubuhnya, luas pikiran, bertakwa kepada Allah.
Para ibu pemelihara Nur kenabian.
Pemelihara kekuatan Al Kitab dan umat.
Wahai kaum muslimat yang jilbabnya menjadi tirai pemelihara kehormatan kami.
Suatu rahmat bagi kami, apabila dirimu menjadi kekuatan agama.
Bibir putera-puteri kami menerima susu dari dadamu.

Mereka kau ajarkan ucapan Lailahailllallah
Syariatnya, karena cintamulah yang mempola pemikiran kami, amalan kami, kata-kata kami, dll.
Wahai pemelihara nikmat syariat Allah, marilah kita sama-sama untuk meluangkan waktu memikirkan masa depan yang abadi.
Peliharalah kesucian ibu negeri umat ini ! Jangan hanya memikirkan kehidupan untung dan rugi di dunia.

Wahai kaum muslimin…
Waspadalah terhadap kerusakan zaman, dan dekaplah erat anak-anakmu kedadamu. Seperti pepatah mengatakan anak-anak burung di padang rumput ini belum tumbuh bulu untuk bisa terbang, telah jatuh dari sangkarnya yang hangat dan nyaman.
Bulatkanlah tekad, untuk bergelut memerangi nafsu dirimu…
Tauladanlah sempurnanya akhlaq Siti Fatimah.
Meskipun semua menaati perintahnya, namun ia menenggelamkan irodatnya ke dalam keridhoan suaminya yang shalih.
Terdidik tabah dan rendah hati, sedang bibirnya mentilawah kitab suci.
Ia memutar kisaran gandum dirumahnya.

Wahai muslimah…
Kenanglah selalu Siti Fatimah, agar dahanmu membuahkan Sayyidina Hasan & Husen.
Wahai kaum muslimat…..
Tolonglah kami dengan akhlaq baikmu !
Sejarah membuktikan bahwa seorang wanita yang baik (shalehah) akan melahirkan bangsa yang besar.
Kenanglah Ismail ! Dia rela dipenggal kepalanya, demi ketinggian kalimah Laiahaillallah, dia terlahir dari seorang ibu yang shalehah, istri seorang nabi pula.
Kenanglah Siti Maryam ! Seorang wanita suci, yang belum pernah terjamah tubuhnya oleh lelaki. Dia melahirkan nabi Isa, dan ia pun terlahir dari perut ibu shaleh, yang menazarkan apa yang dikandungnya untuk ketinggian nama Allah. (QS. 35-48)

Kenanglah Fatimah Az Zahro ! Seorang wanita teladan umat, dia terlahir dari seorang bunda yang taqwa, Siti Khadijah, dia seorang mujahidah yang tabah.
Ya, dari seorang wanita shalih lah kita bisa mengharap tumbuhnya generasi baru pengibar bendera tauhid, pembawa amanat & risalah Allah seperti tertera dalam QS. 5:54.
Beruntunglah engkau wahai kaum wanita…

Jika engkau mau bernaung di bawah kesucian islam, kau relakan dirimu diatur oleh keindahan agama Ilahi
Kau jadikan rumah sebagai madrasah jihad bagi anak-anakmu (bukan jihad bom bali, itu salah besar)
Mereka kau ajari kalimah Lailahaillallah.
Mereka kau didik mencintai syariat islam.

Maka…..
Setiap anak-anakmu berpeluh letih di jalan Allah.
Setiap mereka tegak berdiri menyembah Allah (shalat).
Setiap darah mereka menetes dari luka Qital Fisabilillah.
Bagimu juga pahala sebagaimana mereka mendapat pahala, karena engkau ibunya.
Karena engkaulah, mereka dapat merasakan kasih sayang Allah.

Betapa baiknya Allah kepadamu, Dia limpahkan pahala yang berlipat ganda bagi setiap baktimu di rumah tangga. Simaklah hadist tentang nasihat Rasulullah kepada Fatimah Az Zahra :“ Ya Fatimah, apabila seorang perempuan itu mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Dan Allah mencatat baginya tiap-tiap hari seribu kebajikan, dan menghapuskan daripadanya seribu kejahatan.
Apabila ia mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah, yakni perang sabil.
Apabila ia melahirkan anak, maka keluarlah ia dari pada dosanya sebagaimana keadaan dia pada saat ibunya melahirkannya untuk orang beriman (dosanya dihapus hingga bersih)

Ya Fatimah…
Mana-mana perempuan yang berkhidmat (melayani) suaminya dengan niat yang benar (semata-mata karena Allah), maka keluarlah ia dari pada dosa-dosanya seperti keadaan dia ketika dilahirkan ibunya, dan tiadalah ia akan membawa dosa sedikit pun ketika mati. Dan dia akan mendapati keadaan kuburnya sebagai sebuah taman dari taman-taman surga, Allah mengaruniakan seribu pahala haji & umroh baginya, serta beristighfar baginya seribu malaikat hingga kiamat. Begitu mulianya seorang wanita muslimat yang mau diatur oleh agama Allah. Allah memakaikan padanya pakaian yang hijau, dan dicatatkan baginya pada tiap-tiap helai bulu atau rambut di tubuhnya seribu kebajikan. Dan Dia mengaruniainya seribu haji dan umroh.

Ya Fatimah….
Barang siapa perempuan yang menghamparkan hamparan atau tilam, atau membereskan rumah untuk menyenangkan hati suaminya, maka menyerulah penyeru dari langit : Hadapilah amalmu (teruslah beramal), Allah akan mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang.

Ya Fatimah…….
Barangsiapa perempuan yang meminyaki rambut suaminya, janggutnya, memotong kumisnya, dan mengerat kuku suaminya, maka Allah kelak akan memberinya minum dari arak anggur yang bening lagi terpateri tak pernah disentuh siapa pun. Dan minuman dari pada sungai-sungai di sorga, dan diringankan Allah baginya sakaratul maut, serta akan didapati kuburnya menjadi sebuah taman dari pada taman-taman sorga, mencatatkan Allah baginya kelepasan dari neraka, selamatlah ia melewati titian Shirotol Mustaqim.”
(Terdapat dalam buku Syarah Uqudul Lujain, dikutip dari buku Al Hijab Hal 69-70, Dewan Pustaka fajar Malaysia, 1984.)

Wahai Muslimat………..
Alangkah bodohnya dirimu jika berpaling dari pangkuan islam.Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud. Rasulullah bersabda, ““Apabila seorang perempuan mencuci pakaian suaminya, maka Allah catatkan baginya seribu kebajikan, dan mengampunkan baginya seribu kejahatan serta mengangkat baginya seribu derajat, tiap-tiap yang terkena sinar matahari beristighfar untuknya.” (Al Hijab hal.70)

Dari beberapa kisah diatas, kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa di dalam ajaran islam ketinggian derajat wanita tidaklah diukur dari sudut besar kecilnya pendapatan di luar rumah, dari jabatannya, dari cara hidup yang kebarat-baratan, dll. Tetapi ketinggian derajat wanita dilihat dari sudut taqwanya kepada Allah, serta setianya kepada ajaran islam.

Dalam peradaban barat, seorang wanita dipandang maju apabila ia memainkan peranan lelaki. Oleh sebab itu di barat (negara mayoritas kafir) sifat keibuan dicemooh, peranan wanita sebagai pengatur rumah tangga, mendidik anak dengan keindahan budi pekerti dipandang hina oleh mereka, dimana mempunyai anak banyak diejek. Bagi orang yang berwawasan luas dan memahami perkembangan sejarah kemanusiaan, tentu ia akan mengerti bahwa ini merupakan tanda-tanda kehancuran moral budaya, bukannya tanda kemajuan.

Sungguh mengherankan memang, Allah sudah ciptakan mereka berjenis kelamin wanita, serta disediakan pahala yang melimpah ruah baginya. Masya Allah ! Mengapa mereka memilih azab, malah ia berpaling dari kodrat keibuannya, lalu bergaya seperti lelaki.

Ibnu Abbas ra, berkata, Rasulullah bersabda : “Allah melaknat laki-laki yang bergaya perempuan, dan perempuan yang bergaya seperti laki-laki.”
Dalam riwayat lain “Rasulullah melaknat laki-laki yang meniru perempuan, dan perempuan yang meniru laki-laki”. (HR. Bukhori RS, 490;1). Timbullah kini apa yang dinamakan kaum lesbi, kaum homo, waria, dsb.

Dirangkum oleh Ustadz M. Aas Satibi (pondok pesantren Pulosari Leuwigoong Kab. Garut) dari berbagai macam kitab fikih