Keutamaan Sifat Tawadhu’ Menurut Islam

Tawadhu’ merupakan sifat yang harus dimiliki oleh setiap umat muslim, karena sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Banyak sekali dalil yang menerangkan mengenai keutamaan tawadhu’ ini, seperti yang berikut ini:

Di dalam hadis disebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad telah keluar dari Mekah berhijrah ke Madinah, dan telah masuk pintu gerbang Madinah maka orang-orang kaya di Madinah bergantung pada tali kendali unta Nabi.

Bersabdalah Nabi Muhammad, “Biarkan unta ini karena dia telah diperintahkan oleh Allah.” maka mereka melepaskan tali kendali unta itu pada unta. Unta itu maju di depan pasukan. Setiapunta itu melewati rumah seorang dari penduduk Madinah pemiliknya akan bersedih dan berkata, “Jika seandainya aku memiliki kedudukan tentu Nabi Muhammad akan menjadi tamuku.”

Ketika unta itu sampai di depan pintu rumah Ali Ayyub Al Anshari, mendekamlah unta itu. Maka orang-orang membangkitkannya agar berdiri tetapi tetap saja unta itu tidak mau berdiri.

Turunlah malaikat Jibril dan berkata, “Turunlah disini, karena Ayyub pemilik rumah ini telah bertawadhu’ kepada Allah ketika engkau singgah di pintu gerbang Madinah. Saat semua orang sibuk dan mencurahkan perhatiannya serta menghiasi rumah-rumah mereka. Mereka berkata, ‘Mudah-mudahan Rasulullah singgah di rumah kami.’ Tetapi Abu Ayyub berkata dalam hatinya, ‘Aku adalah orang fakir, darimana aku mendapat kedudukan di sisi Allah sehingga Nabi Muhammad mau singgah di rumahku?’ lalu Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk singgah di rumahnya karena tawadhu’nya.

Diriwayatkan dari Ka’b bin Al Ahbar, dia berkata, “Allah swt telah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa. Berfirmanlah Allah, ‘Hai Musa, tahukah engkau ketika Aku mengambilmu sebagai orang yang mendapat firman tanpa perantara?’ Musa menjawab, “Engkau lebih mengetahui semua itu, ya Tuhanku.’

Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku melihat dalam semua hati hamba-Ku dan tidak Aku temukan hati yang lebih besar tawadhu’ nya dari pada hatimu. Karena itulah engkau Aku pilih menjadi orang yang mendapat  firman-Ku.’

 

Sumber: Durrotun Nasihin