Memupuk Rasa Takut Akan Siksa Dari Allah

Di bawah ini adalah kisah mengenai orang-orang yang sangat takut kepada Allah, karena lalai terhadap-Nya dan melakukan suatu dosa kepada Allah.

Abdurrahman bin yazid berkata, “Aku pernah bertanya kepada Zaid bin Martsad, ‘Mengapa aku tidak pernah melihat kedua matamu mengering, aku selalu melihatnya bertetesan air mata?’ jawabnya, ‘Apa perlunya kamu bertanya seperti itu?’ aku berkata, ‘Barangkali Allah memberikan manfaat atas jawabanmu nanti.’ Lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah mengancam aku jika aku berbuat maksiat, yaitu akan memenjarakan aku di dalam neraka. Demi Allah, seandainya aku dipenjarakan di dalam kamar mandi saja, sudah selayaknya aku menangis dan selalu meneteskan air mata.’

Aku berkata, ‘Bagaimana amal perbuatanmu ketika kamu masuk  ke kamar khowatmu?’ Zaid berkata, ‘Mengapa kamu mengjukan pertanyaan demikian?’ jawabku, ‘Semoga Allah memberikan manfaat atas jawabanmu nanti.’ Lalu Zaid berkata, ‘Sesungguhnya penahanan di neraka itu senantiasa terlintas dalam benakku di kala aku hendak menggauli istriku, sehingga aku tidak dapat meneruskan niatku untuk menggaulinya. Ketika makanan dihidangkan kepadaku, aku tidak dapat memakannya, lantaran aku selalu mengingatnya, sehingga istri dan anakku juga turut menangis, padahal mereka tidak mengerti apa gerangan yang membuatku menangis.’

Umar bin Zahdan pernah berkata, “Kahmas pernah berkata kepadaku, ‘Aku pernah berbuat dosa lalu aku menangis karenanya selama 40 tahun.’ Lalu aku bertanya, ‘Dosa apakah itu?’ jawabnya, ‘Ada saudaraku berkunjung ke rumahku, lalu aku membelikan ikan dengan harga seperenam dirham. Ketika ia makan, lalu aku pergi ke pagar tetanggaku, lalu aku mengambil sebagian debunya. Lalu saudarakau membersihkan tangannya dengan debu itu. Kuanggap ini suatu kesalahan, akhirnya aku menangis selama 40 tahun.”

Sebagian sahabat-sahabat Fateh Al Musaili pernah berkunjung ke rumahnya, lalu mereka melihat ia sedang menangis, namun tetes air matanya kali ini bercampur dengan warna kuning. Lalu mereka berkata kepadanya, “Kamu meneteskan air mata berupa darah.” Ia menjawab, “Ya.” Mereka berkata lagi, “Atas dosa apa kamu sampai menetskan air mata berupa darah itu? Jawabnya, “Lantaran aku pernah ketinggalan tidak melakukan salah satu kewajiban Allah SWT.”

Kemudian setelah ia meninggal dunia, sebagian temannya pernah memimpikannya, lalu bertanya kepadanya, “Apa yang dilakukan oleh Allah kepadamu?” jawabnya, “Allah telah mengampuni dosaku.” Lalu ditanya lagi, “Apa yang telah dilakukan oleh Allah atas tetesan air matamu?” dia menjawab, “Allah menempatkan aku di tempat yang terdekat di sisi-Nya.” Lalu ditanya, “Wahai Fateh, untuk apa kamu menangis?” aku berkata, “Lantaran aku pernah ketinggalan dalam menjalankan kewajiban-Mu.” Lalu Allah bertanya lagi, “Untuk apa kamu meneteskan air mata berupa darah?” jawabku, “Lantaran aku khawatir tidak diterima.” Lalu Allah berfirman, “Demi kemuliaan-Ku dak keagungan-Ku sungguh dua malaikat yang mencatat amal perbuatan telah naik dengana membawa amal perbuatanmu selama 40 tahun, kamu tidak pernah berbuat dosa.”