Sunat berbuka puasa dengan kurma dan membaca doa berbuka puasa

Sunat berta’jil dengan kurma, karena ada perintah Nabi saw mengenai hal itu. Sempurnanya adalah dengan 3 buah kurma.

Sabda Nabi saw, “Bila salah seorang di antara kamu berpuasa, berbukalah dengan kurma, kalau tidak mendapatkannya, maka dengan air, karena air itu menyucikan.”

Kalau tidak mendapatkan kurma, hendaklah dengan beberapa teguk air walaupun air zamzam

Apabila bertentangan antara ta’jil denga air dan ta-khir dengan kurma, maka dahulukanlah yang pertama (dengan air) menurut penjelasan Ibnu Hajar. Beliau juga berkata, “Mengenai jelasnya makan kurma yang kuat syubhatnya (tidak jelas halal dan haramnya) dengan air yang ringan syubhatnya, maka dengan air lebih utama.”

Imam Nawawi dan Imam Rafii’ berkata, “Tiada sesuatu pun yang lebih afdhal sesudah kurma selain air.” Sebab air itu menghilangkan dahaga. Menurut Imam Ruyani, “Manis-manisan lebih afdhal daripada air” itu adalah dhaif. Makanan manis-manisan yang tidak dimasak dengan api, seperti pisang dan sebagainya.

Sebagaimana ucapan Imam Adzra’i, “anggur kering itu sejenis kurma kering.” Sesungguhnya Nabi saw menerangkan hal itu karena biasanya kurma mudah didapat di Madinah.

Ketika berbuka puasa disunatkan membaca Allaahumma laka shumtu wa’alaa rizqika afthartu wayaziidu man afthara bil maa-i dzahabadz dzama-u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allaahu ta’alaa.

Ya Allah, karena perintah-Mu hamba puasa dan dengan rezeki-Mu hamba berbuka.” Bagi yang berbuka dengan air, disunatkan menambah dzahabadz dan seterusnya. Telah hilang dahaga, basah (segar) urat-urat, dan semoga tetap memperoleh pahala, Insya Allah ta’ala.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani