Sopan Santun Dalam Berdoa dan Tingkatan Orang Yang berdoa

Apabila kita berdoa kepada Allah, ada adab-adabannya yang harus dilakukan. Dimana-mana kita diberi taufiq ingin berdoa, maka harus bukti dalam berdoanya semata-mata men dhohirkan sifat ke’abdian dan melaksanakan keharusan makhluk kepada (‘abdi) kepada Allah. Maksudnya berdoa itu harus dengan niat melaksanakan perintah Allah dan beribadah kepada-Nya. Malah harus menyatakan bahwa dirinya bisa berdoa karena dikehendaki oleh Allah.

Sebab kalau tidak demikian berarti kita kurang mengerti dihadapan Allah, kan Allah itu mengetahui akan kebutuhan kita dan sudah menentukan akan memberi kepada kita, maka Allah tidak harus dipinta. Sebab walaupun tidak diminta juga tetap akan diberi, hanya waktunya tidak ada yang tahu, dan yang mana yang akan diberikan tidak ada yang tahu juga. Allah akan memberikan (menghendaki) sesuai dengan yang sudah ditentukan oleh sifat iradat-Nya serta melaksanakan pilihannya yang pantas untuk diir kita.

Jadi Allah akan melaksanakan (memberikan) bukan sesuai keinginan dan pilihan kita. Bila kita memahami hal ini, kita tidak harus kalang kabut, bersusah payah meminta ke Allah, apalagi punya hati (niat) berusaha untuk merubah ketentuan Allah. Dengan adanya pemberian Allah yang sudah ditentukan, lalu kita ingin berdoa, maka kita harus melakukannya semata-mata ibadah kepada Allah karena diperintah oleh-Nya. Nah doa yang demikian nilainya sangat tinggi serta jujur, sehingga dalam adab-adaban berdoa harus punya perasaan pasrah kepada Allah (diberi yang mana saja, waktunya kapan saja). Karena Allah lebih tahu tentang kemaslahatannya.

Bila kita berdoa keukeuh menginginkan A dan waktunya keukeuh harus sekarang, maka itu tidak sopan kepada Allah dan sikap yang sok tahu. Sebab seperti yang lebih tahu bahwa perkara A itu lebih maslahat dan diberikannya sekarang lebih maslahat. Padahal tidak ada yang lebih tahu tentang kemaslahatannya kecuali Allah swt.

Tingkatan dalam berdoa itu ada tiga, yaitu:

  1. Dalam berdoa/meminta kepada Allah sebaiknya disesuaikan dengan bakti kita. maksudnya apabila permintaan kita banyak maka kebaikan yang dilakukan oleh kita kepada Allah juga harus banyak. Maka bagi orang yang jarang eling (ingat) kepada Allah, kecuali ketika dia sedang berdoa, alangkah baiknya (lebih bagus) berdoa. Sebab dengan berdoa berarti dia sudah menghadap Allah.
  2. Sedangkan bagi orang yang biasa banyak eling (ingat) kepada Allah terus dirinya ingin berdoa, maka bagusnya berdoa itu untuk tambah-tambah eling nya.
  3. Golongan orang yang banyak ma’rifat kepada Allah dan waktunya dipakai untuk eling/ingat kepada-Nya, sehingga tidak ada waktu untuk meminta. Sebab dirinya banyak pasrah kepada Allah. Nah golongan ini titel nya paling tinggi dan akan sangat dipentingkan oleh Allah. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw dalam hadist qudsi “Orang yang disibukkan dengan eling/ingat kepada Allah, sehingga lupa dari meminta kepada Allah. Maka oleh Allah akan diberi dengan pemberian sesuai yang diberikan kepada orang-orang yang meminta”. Sebab orang tersebut jujur dihadapan Allah, maka akan sangat dipentingkan dalam segala hal (keinginan) oleh Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus enam puluh dua)