Mengapa Allah Menutupi Aib Kita

Dibawah ini akan dijelaskan pembagian tutup-tutup dari Allah (penjagaan dari Allah), yang menutupi terhadap keburukannya makhluk. Sebab keburukannya manusia itu sering ditutupin oleh Allah. Pembagiannya itu adalah :

  1. Tutup-tutup dari melakukan ma’siyat, kema’siyatannya ingin dijaga (ditutup) jangan sampai ketahuan oleh makhluk, sehingga takut martabatnya jatuh dihadpan makhluk
  2. Tutup-tutup dari ma’siyat, orang-orang tertentu pilihan Allah, yang ingin agar dirinya dijaga dari melakukan ma’siyat.

Sebenarnya keburukannya manusia itu sering ditutupin oleh Allah. Dia dijaga oleh Allah dari melakukan ma’siyat, ada juga orang yang dijaga dari buruknya ma’siyat.

Umumnya manusia itu sering meminta agar keburukannya atau kema’siyatannya ditutupin oleh Allah, sehingga dirinya tidak merasa hina dihadapan manusia lain. Sedangkan beberapa orang tertentu (manusia pilihan Allah), sering meminta kepada Allah agar dijaga dari kema’siyatan, maksudnya ingin dijaga oleh Allah dari melakukan ma’siyat dan ingin tidak melakukan ma’siyat.

Kenapa orang-orang sering meminta kepada Allah agar kema’siyatannya ditutupin, karena takut jelek namanya dan jatuh martabatnya di depan orang lain. Sedangkan orang pilihan Allah meminta kepada Allah agar dijaga dari melakukan ma’siyat, yaitu karena khawatir dan takut tidak dilihat oleh Allah dengan penglihatan rahmat, dan takut akan kemarahan Allah.

Jadi umumnya manusia dengan penglihatannya ditujukan ke makhluk, sehingga dirinya bergaya dan memperlihatkan kemampuannya, ingin dinilai oleh orang lain, senang dipuji oleh makhluk dan takut ketika dijelek-jelekin. Umumnya manusia juga sering melakukan ma’siyat dengan sembunyi-sembunyi, takut ketahuan oleh orang lain, sehingga nanti martabatnya jatuh.

Lalu meminta ke Allah agar aib dan dosanya ditutupin, maka orang yang seperti itu pangkatnya masih di bawah. Sedangkan orang yang menjadi pilihan Allah, yang sudah tinggi martabatnya sering menjaga diri dari kema’siyatan dan sering meminta penjagaan dari Allah. Yaitu takut tidak dilihat oleh Allah dengan penglihatan rahmat.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tiga puluh)