Mengapa Kita Harus Menyesal Apabila Kita Tidak Bisa Melaksanakan Tho’at

Nelangsa terhadap sepinya tho’at, sambil tidak ada kegiatan untuk melaksanakan tho’at, itu adalah sebagian dari cirinya tertipu.

Penjelasan : Mengapa Kita Harus Menyesal Apabila Kita Tidak Bisa Melaksanakan Tho’at? Disini akan dijelaskan tentang merasa prihatin yang benar dan merasa prihatin yang salah.

Prihatinnya orang atau merasa nelangsa dengan tidak melakukan tho’at, sambil tidak ada kegiatan untuk menyusul terhadap kekurangan tho’at nya, maka itu merupaka penyesalan yang bohong dan cirinya orang yang tertipu. Sebab penyesalan yang benar adalah, setelah nelangsa dan prihatin itu terus meningkatkan tho’atnya dan berusaha untuk mengejar tho’at yang sudah terlewat atau ketinggalan.

Seperti yang dikatakan oleh Abu ‘Ali addaqom bahwa orang yang prihatin itu harus meningkatkan ‘amal selama sebulan bisa nempuh terhadap perkara yang harus ditempuh selama setahun.

Serta dikatakan oleh Abu Sulaiman ad daroni ra “bukan nangis yang benar dengan mengeluarkan air mata, tapi pastinya nangis yang benar adalah harus meninggalkan dosanya yang ditangisi dan menyusul (mengganti ) amal yang ditinggalkan.”

Kita jangan tertipu dengan tangisnya seseorang, karena saudara-saudara Rasulullah berdatangan sambil menangis, tetapi mereka khianat. Atau seperti tangisnya buaya, yang hanya berpura-pura, padahal hatinya penuh dengan kemunafikan.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah ketujuh puluh enam)