Manusia Yang Berbahagia Menurut Islam (Rasulullah)

Keterangan yang diterima dari Syeikh Yahya bin Mu’adz ar Razi, seseorang yang sering bertutur, yang memiliki lisan dalam raja’ (mengharapkan rahmat Allah) khususnya. Dan memiliki pembicaraan dalam ma’rifat kepada Allah.

Beliau sudah berangkat ke negara Balkhi, lalu bermukim di negara tersebut pada suatu waktu, kemudian beliau kembali ke negara Nesabur dan meninggal di sana pada tahun 258 hijriyah.

Beliau berkata: “Bahagialah bagi orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia itu meninggalkan dirinya. Artinya kebaikan yang banyak itu bagi orang menasharufkan (membelanjakan) hartanya dalam perkara kebaikan, sebelum pergi dunia itu (hartanya) meninggalkannya.

Dan berbahagialah orang yang membangun kuburannya sebelum masuk orang itu ke dalam kuburan. Maksudnya orang itu beramal selama hidupnya yang menjadikan ketenteraman di dalam kubur.

Berbahagialah orang yang ridha terhadap Allah swt, dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebelum ajalnya dia menjemput (meninggal).

Kehidupan dunia itu pasang surut, kadang di bawah kadang di atas. Oleh karena itu ketika kita sedang memiliki harta, kita harus bisa memanfaatkannya dan membelanjakannya di jalan yang baik. Apabila harta kita sudah mencapai nishab, maka wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini harus dilakukan (membelanjakan harta di jalan Allah), sebelum harta itu pergi (kita tidak memilikinya).

Selama hidup kita harus beramal dan mengumpulkan bekal untuk di akhirat. Makhluk itu fana, tidak abadi, artinya pasti akan mati. Berbeda dengan binatang yang tidak akan dimintai pertanggungjawaban, manusia itu setiap tindakan dan perbuatannya pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Oleh karena itu, kita harus banyak beramal sebelum ajal kita menjemput (masuk ke dalam kubur).

Kita juga harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengisi hidup ini dengan melaksakan segala perintah dari Allah swt, dan menjauhi segala larangan-Nya. Kita harus yakin bahwa apapun yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Allah, pasti akan ada hikmah dan manfaatnya bagi kita, baik itu di dunia maupun di akhirat.   

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar