Pengertian Zakat, Macam-Macam Harta Yang Wajib Zakat, dan Cara Menghitung Zakat

Zakat menurut lughot ialah membersihkan, artinya membersihkan barang atau badan dai kokotornya, itu bakal jadi bersih dan akan dibersihkan oleh Allah. Maksudnya adalah harta yang diselipin harta riba itu bakal rusak dunia akhirat, sedeangkan harta yang dikeluarkan zakatnya itu bakal dijaga oleh Allah dan dibersihkan.

Selain itu zakat ini dimaknai lughot dengan arti nambah-nambah, artinya adalah harta yang dikeluarkan zakatnya bakal tambah-tambah sebab harta zakat yang di kasih itu seperti mengeluarkan sebagian ikan ke kolam. Nah ikan itu akan hidup dan membesar di dalam kolam.

Zakat

Diwajibkannya zakat itu pada tahun kedua setelah hijrah, dan difardhukannya setelah zakat fitroh (2 hari sebelum lebaran). Orang yang ingkar tehadap zakat hukumnya kufur. Wajibnya zakat bagi orang muslim yang sudah mencapai nishob. Kalau anak kecil wajib dikeluarkan oleh walinya, sama halnya dengan orang gila (oleh wali).

Macam-macam harta yang wajib zakat ada 6 yaitu :

Pertama yaitu hewan, seperti unta, sapi, kerbau, kambing, domba dengan syarat sudah mencapi nishob, sudah mencapai tahun serta hewan nya yang digembala (aburan) artinya bukan hewan yang dikandangin dan di arit rimputnya. Dan tidak wajib zakat selain hewan yang barusan, misalnya kuda.

Nishobnya unta adalah apabila bilangannya sudah mencapai 5-24 wajib zakat 1 ekor domba. Kalau 25-35 wajib zakatnya 1 ekor unta bintu makhod (unta umur setahun, jalan tahun kedua). Kalau 36-45 wajib zakatnya 1 unta bintu labun (unta umur 2 tahun, jalan tahun ketiga). Apabila 46-60 wajib zakatnya 1 unta hiqqoh (unta umur 3 tahun, jalan keempat).apabila punya 61-75 wajib zakatnya 1 unta jad’ah, yaitu unta umur 4 tahun, jalan tahun kelima. Kalau punya 71-90, wajib mengeluarkan 2 unta bintu labun. Kalau 91-120 wajib zakat 2 unta hiqqoh. Apabila punya 121-130 wajib zakat 3 unta bintu labun.

Sedangkan mulai nishobnya sapi atau kerbau dimana-mana sudah punya 30-39, itu wajib zakat 1 sapi atau kerbau tabii’, artinya anak sapi atau kerbau yang masih ngindung/nyusu yang umurnya setahun, jalan tahun kedua.

Tiap-tiap punya 40, itu wajib zakatnya sapi musinnah yaitu sapi umur 2 tahun, jalan tahun ketiga. Kenapa dinamakan sapi musinnah karena sudah sempurna gigi-giginya. Dan seterusnya wajib mengeluarkan 1 sapi di tiap-tiap 40, kalau 80 2 sapi……..

Dan kalau nishobnya embe atau domba adalah 40, jadi kalau sudah mencapi itu maka wajib mengeluarkan 1 ekor domba. Serta kalau mempunyai/memelihara embe/domba dengan di abur/tidak di arit makanannya, kemudian sampai bilangannya 121, maka wajib mengeluarkan  2 domba. Kalau bilangannya 201 maka wajib 3 domba.

Apabila lebih dari 201 domba, maka dijadikan di tiap-tiap 100 satu ekor domba, artinya kalau misalkan 300, maka yang dikeluarkan zakatnya adalah 3 domba, 400 dombanya 4 ekor. Ukuran domba yang dipakai zakat harus yang sudah berumur 1 tahun, yang sudah copot giginya 1.

Apabila yang mempunyai hartanya 2 orang (campuran), maka itu seperti harta 1 orang saja. Kalau punya 40, wajib zakatnya 1 domba, kalau 100 zakatnya 1 domba, kalau 121 zakatnya 2 domba. Dengan dicampurkannya harta kadang rugi kadang menguntungkan.

Gambaran yang pertama kalau salah seorangnya punya 20, itu tidak wajib zakat, tapi kalau disatukan jadi 40 maka wajib mengeluarkan zakat 1. Jadi yang asalnya  tidak wajib zakat sekarang jadi wajib zakat. Dan suroh yang sama dengan tidak disatukan yaitu seperti salah seorang punya 21 domba, terus disatukan jadi 122, maka wajib mengeluarkan 2 domba. Sedangkan suroh yang untung seperti salah seorang punya 40, nah itu kalau tidak dicampurkan wajib zakatnya 2 domba, tapi dengan dicampur jadi 80 domba, maka wajib zakat 1 domba.

Nah harta yang dicampur itu sama saja dengan harta seorang saja, dengan syarat harus sepakat antara 2 harta di tempat pemberangkatannya, apakah akan minum atau ketika digiring ke tempat gembalaan, tempat pemerasan susunya, atau sepakat di tempat peristirahatannya, tegasnya di segala hal.

Kedua, yaitu Emas dan perak. Syaratnya wajib emas dan perak itu ada 2 :

  1. Sudah mencapai nishob
  2. Tepung tahun (ketemu tahun)

Nishobnya emas yaitu 20 mitsqol, 1 mitsqol yang sering disebut 1 dinar yaitu 4 gram 200 mili. Jadi kalau 20 mitsqol itu berarti ada 84 gram. Maka kalau punya emas yang bukan perhiasan ada 84 gram dimana-mana ketemu tahun harus dikeluarkan zakatnya 2 gram 100 mili.

Sedangkan nishobnya perak 200 dirham, 1 dirham itu 2 gram 820 mili, yaitu 2/3 dinar lebih. Maka dimana-mana punya perak 560 dirham dan 400 mili, itu wajib mengeluarkan zakat 14 gram perak.

Dan wajib zakat di selebihnya nishob. Jadi zakat emas dan perak lebihannya harus diperhitungkan serta dikeluarkan zakatnya dua persen setengah. Berbeda dengan zakat hewan, itu pertengahannya antara 2 nishob.

Ketiga yaitu barang jadian atau tanam-tanaman seperti kacang, jagung, sa’iir, padi, anggur, kurma, dll.

Zakatnya tanaman dan buah kurma yaitu 255 kati romlah. 1 kati romlah itu 2 kilo 8 ons seperempat. Maka kalau dikalikan dengan 255 berarti 720 kilo. Di lebihnya nishob itu harus dihitung dan dikeluarkan zakatnya yaitu sepersepuluhnya, kalau tidak pakai biaya menyiraminya

Kalau sawahnya atau kurmanya harus disiram dengan pakai biaya, maka itu wajib zakatnya ½ sepersepuluh. Adapun kalau kadang pakai biaya kadang tidak, maka wajib zakatnya ¾ sepersepuluhnya. Jadi wajibnya mengeluarkan zakat beras yaitu sepersepuluhnya. Maka kalau dalam setahun wajib dikeluarkan 1 kintal beras. Kalau pakai biaya maka wajib mengeluarkan 50 kili beras.

Dan lagi disyaratkan ukuran nishob disini adalah yang sudah kering dan sudah dibersihkan kokotornya. Jadi 720 kilo itu sudah jadi beras, maka kalau masih padi berarti 2 kali lipatnya beras (1 ton 440 kilo)

Keempat yaitu harta dagangan

Dagangannya apa saja, dan syaratnya ada 6 :

  1. Keadaan hartanya sudah dimiliki oleh kita dan boleh tuker-tukeran seperti dibeli imaa kontan wa imaa dihutang.
  2. Niat dagang ketika waktu tuker-tukerannya, artinya ketika belinya.
  3. Tidak bermaksud ke harta itu untuk disimpan untuk diambil manfaat.
  4. Ketemu tahun, dihitung dari mulai memiliki.
  5. Di tengah-tengah tahun seluruh harta dagangan jangan ditukarkan, tegasnya jangan digantikan dengan dagang yang baru, yaitu memulai kembali.
  6. Di akhir tahun harta dagangan semua dan modalnya mencapai nishob.

Mengeluarkan zakat harta dagangan yaitu seperempat perpuluhnya dari harta dagangan. Kalau seseorang punya uang dari harta dagangan itu misalnya 2 juta maka wajib orang tersebut ngeluarin zakatnya 50 ribu. Atau zakat dagangannya diserupakan dengan emas yaitu 84 gram, maka kalau barang dagangan harganya sama dengan harga emas 84 gramm maka barang dagangan itu wajib dikeluarkan zakatnya.

Misalnya 1 gram emas harganya 20 ribu di kali 84 gram, maka jumlahnya 1.680.000, maka kalau kita dagang di awal tahun, kemudian di akhir tahun barang dagangan yang ada ditambah untungnya ada 1.680.000, maka wajib dikeluarkan zakatnya yaitu 42.000 (seperempat perpuluhnya harga)

Kelima yaitu harta terpendam jahiliyah.

Jadi kalau kita menemukan harta terpendam jahiliyah, itu wajib dikeluarkan zakatnya. Itu juga kalau mencapai nishob. Mengeluarkan zakatnya itu haru saat itu juga. Yang wajib dikeluarkan zakatnya itu adalah seperlimanya. Kalau ada orang menemukan harta terpendam 1 kilo emas (1000 gram), maka yang wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak 200 gram.

Keenam yaitu barang tambang (penggalian emas dan perak)

Artinya tanah yang oleh Allah dijadikan tempat penggalian emas perak. Kalau di kita seperti di cikotok atau di freefort papua. Apabila kita mengambil emas di tempat penggaliannya, nah wajib mengeluarkan zakatnya saat itu juga, itu juga kalau mencapai nishob. Yaitu seperempat perpuluhnya. Jadi walhasil kalau seseorang mendapatkan penghasilan mencari/menggali emasnya atau peraknya 1 kilo (1000 gram), nah yang wajib dikeluarkan zakatnya 25 gram.

Pengertian zakat fitrah

Zakat fitroh yaitu zakat untuk membersihkan badan. Nah zakat ini diwajibkan kepada kaum muslimin yang mengalami 1 juz hidup di bulan rhomadon, dan 1 juz bulan syawal, baik laki-laki maupun perempuan, baik anak kecil atau dewasa, itu harus dibersihkan dirinya dengan mengeluarkan 1 kulak makanan yang sering dijadikan kekuatan, tegasnya yang sering di makan tiap hari. 1 kulak kalau kati baghdad 5 kati dan 1/3 kati. 1 kati itu 4 ons setengah lebih. Sama dengan 2 kilo 4 ons.

Yang tidak wajib zakat fitrah ada 5 :

  1. Orang yang tidak punya lebihnya dari kebutuhannya malamnya lebaran dan harinya.
  2. Wanita kaya yang punya suami fakir, Cuma taat ke suaminya, tapi disunatkan mengeluarkan zakat oleh dirinya sendiri.
  3. ‘abid mukatab, dengan mukatab yang shohe.
  4. ‘abid milik baetil mal
  5. ‘abid yang di waqof kan/’abid waqofan.

Zakat fitroh itu diwajibkan ke setiap orang, dan yang dipakai zakat itu adalah yang sering dipakai kekuatan di sebuah tempat/negara. Misalnya kalau di Indonesia beras.

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi

Inilah 8 Golongan Yang Berhak Menerima Zakat

Mustahiq (penerima) zakat yang ada di dalam Al Quran ada 8 :

1. Fakir, yaitu orang yang tidak punya harta dan pekerjaan, atau punya harta tapi tidak mencukupi sama sekali.

2. Miskin, yaitu orang yang punya harta dan pekerjaan tetapi tidak mencukupi terhadap semua kebutuhan, seperti orang yang perlu seratus tetapi hanya menghasilkan tujuh puluh atau kurang.

3. ‘Amil, orang yang mengurus harta zakat, seperti membagikan zakat, dan mengumpulkannya. Tetapi apabila yang jadi ‘amilnya dari bagian Qodi, itu tidak termasuk.

4. Mualllaf, ada 4 bagian :

  • Orang yang masih lemah iman dalam keislamannya seperti orang yang masuk islam masih baru.
  • Orang yang kuat imannya, dan apabila diberi zakat bisa membawa orang lain yang kufur ke dalam islam.
  • Orang yang mencegah terhadap kejelekan orang yang dideketin orang kufur.
  • Orang yang bisa mencegah terhadap kejelekan orang yang tidak zakat atau orang yang melarang zakat.

5. Riqob, yaitu budak yang merdeka dengan membayar cicilan.

6. Ghorim, ada 3 bagian :

  • Orang yang punya hutang bekas membiayai hal/perkara yang mubah.
  • Orang yang punya hutang bekas membereskan dua golongan yang berselisih.
  • Orang yang punya hutang bekas membayari hutang orang lain.

7. Sabilillah, orang yang berperang di jalan agama Allah dengan ikhlas, tegasnya orang yang berperang tanpa gaji/bayaran.

8. Ibnu Sabil, orang yang bepergian kehabisan bekal terus lewat kepada orang-orang yang sedang membagikan zakat.

Zakat Fitrah dan Zakat Maal (Pengertian, Dalil, Syarat, Mustahiq, dan Cara Membayarnya)

Zakat adalah rukun Islam yang ketiga. Secara harfiah Zakat berarti “Tumbuh”, “Berkembang”, “Menyucikan” atau “Membersihkan”. Zakat artinya memberikan sebagian kekayaan untuk orang yang berhak menerimanya (mustahiq) jika sudah mencapai nisab (jumlah kekayaan minimal) dan haul (batas waktu) zakat. Mencapai haul artinya harta tersebut sudah dimiliki selama setahun. Berlaku bagi ternak, harta simpanan dan perniagaan. Sedangkan hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul. Begitu dapat langsung dizakati.

Zakat merupakan kewajiban yang tercantum dalam Al Qur’an. Artinya jika kita mengerjakannya, kita dapat pahala. Jika tidak, akan mendapat dosa. ”Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat…” [Al Baqarah:110]

“Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” [Al Baqarah:43]

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [Al Bayyinah:5]

Dengan zakat Allah menghilangkan dosa kita dan membersihkan kita. “…Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Al Ahzab:33]

Selain membayar zakat, hendaknya kita juga menyuruh orang lain untuk membayar zakat dan berbuat kebaikan lainnya. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [At Taubah:71]

Zakat

Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya. ” [Maryam:55]

Orang yang tidak mau membayar zakat padahal dia mampu, akan mendapat siksa di neraka. “Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. yaitu orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya kehidupan akhirat.“ [Fushshilat:6-7]

Sebaliknya orang yang membayar zakat dan kewajiban Islam lainnya akan mendapat surga dan berbahagia. “Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Luqman:4-5]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [Al Baqarah:277]

Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” [An Nisaa’:162]

Jangan takut miskin jika membayar zakat. “Apakah kamu takut akan menjadi miskin karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Mujaadilah:13]

Delapan Asnaf/Golongan yang Berhak Menerima Zakat (Mustahiq). Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [At Taubah:60]

Orang yang berhak menerima zakat (Mustahiq) ialah:

  1. Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.
  2. Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
  3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.
  4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
  5. Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.
  6. Orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.
  7. Pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain.
  8. Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

Insya Allah dengan membayar zakat kita akan diberi rahmat oleh Allah SWT. “Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” [An Nuur:56]

“…Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” [Al A’raaf:156]

Dengan zakat kita akan mendapat ridho dari Allah dan mendapat balasan berlipat ganda. Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” [Ar Ruum:39]

Pemerintah atau pihak berwenang wajib mengambil zakat dari golongan yang mampu/muzakki. Karena zakat itu untuk membersihkan dan mensucikan diri. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [At Taubah:103]

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi SAW mengutus Mu’adz ke negeri Yaman –ia meneruskan hadits itu– dan didalamnya (beliau bersabda): “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan mereka zakat dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” [Muttafaq Alaihi]

Hendaknya kita mendistribusikan zakat dengan sebaik-baiknya dan ridho dengan distribusi tersebut. Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” [At Taubah:58]

Zakat terbagi atas dua jenis yakni

  1. Zakat Fitrah, zakat yang wajib dikeluarkan Muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadhan. Besar Zakat ini setara dengan 2,5 kilogram/3,5 liter makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan.
  2. Zakat Maal (Zakat Harta), mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak. Masing-masing tipe memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.

Zakat Fitrah/Fidyah

Dari Ibnu Umar ra berkata: “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau gandum pada budak, orang merdeka, lelaki perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari ummat Islam dan memerintahkan untuk membayarnya sebelum mereka keluar untuk sholat ‘iid. ( Mutafaq alaih ).

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Bahwa Rasulullah saw. memerintahkan agar zakat fitrah diberikan sebelum manusia berangkat untuk salat Ied. (Shahih Muslim No.1645)
Zakat Fitrah harus diberikan sebelum shalat ‘ied. Misalnya 1 atau 2 hari sebelum shalat ‘ied. Jika lewat dari shalat ‘ied, maka jatuhnya sebagai sedekah.

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak berguna dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum sholat, ia menjadi zakat yang diterima dan barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat, ia menjadi sedekah biasa. Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah.

Abu Said Al-Khudry ra berkata: Pada zaman Nabi SAW kami selalu mengeluarkan zakat fitrah satu sha’ makanan, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ sya’ir, atau satu sha’ anggur kering. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat lain: Atau satu sha’ susu kering. Abu Said berkata: Adapun saya masih mengeluarkan zakat fitrah seperti yang aku keluarkan pada zaman Nabi SAW Dalam riwayat Abu Dawud: Aku selamanya tidak mengeluarkan kecuali satu sha’

Besarnya zakat fitrah menurut ukuran sekarang adalah 2,5 kg atau 3,5 liter. Sedangkan makanan yang wajib dikeluarkan yang disebut nash hadits yaitu tepung, terigu, kurma, gandum, zahib (anggur) dan aqith (semacam keju). Untuk daerah/negara yang makanan pokoknya selain 5 makanan di atas, mazhab Maliki dan Syafi’i membolehkan membayar zakat dengan makanan pokok yang lain.

Dari hadits di atas, bayarlah zakat fitrah anda dengan makanan yang biasa anda makan. Bukan uang. Karena Nabi dan para sahabat membayar zakat Fitrah dengan makanan. Bukan dengan uang yang biasa mereka pakai seperti uang Dirham.

Jika anda membayarnya dengan uang kertas rupiah, maka jumlah uang di kalangan bawah bertambah. Ini menyebabkan nilai rupiah turun/inflasi dan harga-harga barang naik. Apalagi saat lebaran di mana para pedagang banyak yang mudik, maka harga beras yang mulainya Rp 6000/kg bisa naik jadi Rp 10.000/kg sehingga mereka kesulitan membeli makanan.

Pembayaran zakat menurut jumhur ‘ulama :

  1. Waktu wajib membayar zakat fitrah yaitu ditandai dengan tenggelamnya matahari di akhir bulan Ramadhan
  2. Membolehkan mendahulukan pembayaran zakat fitrah di awal.

Keterangan :Bagi yang tidak berpuasa Ramadhan karena udzur tertentu yang dibolehkan oleh syaria’t dan mempunyai kewajiban membayar fidyah, maka pembayaran fidyah sesuai dengan lamanya seseorang tidak berpuasa.

Zakat Maal (Harta)

Menurut terminologi bahasa (lughat), harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya. Sedangkan menurut istilah syara’, harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki dan dapat dimanfaatkan. Sesuatu dapat disebut dengan maal (harta) apabila memenuhi 2 syarat, yaitu:

  1. Dapat dimiliki, dikuasai, dihimpun, disimpan
  2. Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya. Misalnya rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, emas, perak, dll.

Syarat-syarat Kekayaan yang Wajib di Zakati

  1. Milik Penuh. Harta dimiliki dan dapat diambil manfaatnya secara penuh. Harta tersebut didapatkan secara halal seperti: usaha, warisan, pemberian negara atau orang lain dan cara-cara yang sah. Jika dari cara yang haram, maka zakat atas harta tersebut tidak wajib, sebab harta tersebut harus dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya.
  2. Harta tersebut dapat bertambah atau berkembang bila diusahakan atau mempunyai potensi untuk berkembang.
  3. Cukup Nishab. Harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan syara’. Jika harta tidak sampai nishabnya terbebas dari Zakat dan dianjurkan mengeluarkan Infaq serta Shadaqah
  4. Lebih Dari Kebutuhan Pokok. Kebutuhan pokok adalah kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarga yang menjadi tanggungannya, untuk kelangsungan hidupnya seperti belanja sehari-hari, pakaian, rumah, kesehatan, pendidikan, dsb.
  5. Bebas Dari hutang. Orang yang mempunyai hutang sebesar atau mengurangi senishab yang harus dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), maka harta tersebut terbebas dari zakat.
  6. Berlalu Satu Tahun (Al-Haul). Kepemilikan harta sudah mencapai satu tahun. Persyaratan ini berlaku bagi ternak, harta simpanan dan perniagaan. Hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul, tetapi wajib pada saat panen/didapat

Harta (maal) yang Wajib di Zakati

  1. Binatang Ternak seperti: unta, sapi, kerbau, kambing, domba dan unggas (ayam, itik, burung).
  2. Emas Dan Perak
  3. Biji makanan yang mengenyangkan seperti beras, jagung, gandum, dan sebagainya (Al An’aam:141)
  4. Buah-buahan seperti anggur dan kurma (HR Tirmidzi)
  5. Harta Perniagaan

Macam-Macam Zakat, Ketentuan dan Perhitungannya

Zakat  dalam segi istilah adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan sebagainya). Zakat dari segi bahasa berarti ‘bersih’, ‘suci’, ‘subur’, ‘berkat’ dan ‘berkembang’. Menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. Zakat merupakan rukun ketiga dari rukun Islam.

Dari Anas bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq ra menulis surat kepadanya: Ini adalah kewajiban zakat yang diwajibkan oleh Rasulullah SAW atas kaum muslimin. Yang diperintahkan Allah atas rasul-Nya ialah setiap 24 ekor unta ke bawah wajib mengeluarkan kambing, yaitu setiap kelipatan lima ekor unta zakatnya seekor kambing. Jika mencapai 25 hingga 35 ekor unta, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya telah menginjak tahun kedua, jika tidak ada zakatnya seekor anak unta jantan yang umurnya telah menginjak tahun ketiga. Jika mencapai 36 hingga 45 ekor unta, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya telah menginjak tahun ketiga.

Jika mencapai 46 hingga 60 ekor unta, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya telah masuk tahun keempat dan bisa dikawini unta jantan. Jika mencapai 61 hingga 75 ekor unta, zakatnya seekor unta betina yang umurnya telah masuk tahun kelima. Jika mencapai 79 hingga 90 ekor unta, zakatnya dua ekor anak unta betina yang umurnya telah menginjak tahun kedua. Jika mencapai 91 hingga 120 ekor unta, maka setiap 40 ekor zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya masuk tahun ketiga dan setiap 50 ekor zakatnya seekor unta betina yang umurnya masuk tahun keempat. Bagi yang hanya memiliki 4 ekor unta, tidak wajib atasnya zakat kecuali bila pemiliknya menginginkan.

Mengenai zakat kambing yang dilepas mencari makan sendiri, jika mencapai 40 hingga 120 ekor kambing, zakatnya seekor kambing. Jika lebih dari 120 hingga 200 ekor kambing, zakatnya dua ekor kambing. Jika lebih dari 200 hingga 300 kambing, zakatnya tiga ekor kambing. Jika lebih dari 300 ekor kambing, maka setiap 100 ekor zakatnya seekor kambing. Apabila jumlah kambing yang dilepas mencari makan sendiri kurang dari 40 ekor, maka tidak wajib atasnya zakat kecuali jika pemiliknya menginginkan.

Tidak boleh dikumpulkan antara hewan-hewan ternak terpisah dan tidak boleh dipisahkan antara hewan-hewan ternak yang terkumpul karena takut mengeluarkan zakat. Hewan ternak kumpulan dari dua orang, pada waktu zakat harus kembali dibagi rata antara keduanya. Tidak boleh dikeluarkan untuk zakat hewan yang tua dan yang cacat, dan tidak boleh dikeluarkan yang jantan kecuali jika pemiliknya menghendaki. Tentang zakat perak, setiap 200 dirham zakatnya seperempat-puluhnya (2,5%). Jika hanya 190 dirham, tidak wajib atasnya zakat kecuali bila pemiliknya menghendaki.

Barangsiapa yang jumlah untanya telah wajib mengeluarkan seekor unta betina yang seumurnya masuk tahun kelima, padahal ia tidak memilikinya dan ia memiliki unta betina yang umurnya masuk tahun keempat, maka ia boleh mengeluarkannya ditambah dua ekor kambing jika tidak keberatan, atau 20 dirham. Barangsiapa yang sudah wajib mengeluarkan seekor anak unta betina yang umurnya masuk tahun keempat, padahal ia tidak memilikinya dan ia memiliki unta betina yang umurnya masuk tahun kelima, maka ia boleh mengeluarkannya ditambah 20 dirham atau dua ekor kambing. Riwayat Bukhari.

Zakat

Dari Mu’adz Ibnu Jabal ra bahwa Nabi SAW pernah mengutusnya ke negeri Yaman. Beliau memerintahkan untuk mengambil (zakat) dari 30 ekor sapi, seekor anak sapi berumur setahun lebih yang jantan atau betina, dan setiap 40 ekor sapi, seekor sapi betina berumur dua tahun lebih, dan dari setiap orang yang telah baligh diambil satu dinar atau yang sebanding dengan nilai itu pada kaum Mu’afiry. Riwayat Imam Lima dan lafadznya menurut riwayat Ahmad.

Dari Bahz Ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pada setiap 40 ekor unta yang dilepas mencari makan sendiri, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya memasuki tahun ketiga. Tidak boleh dipisahkan anak unta itu untuk mengurangi perhitungan zakat. Barangsiapa memberinya karena mengharap pahala, ia akan mendapat pahala. Barangsiapa menolak untuk mengeluarkannya, kami akan mengambilnya beserta setengah hartanya karena ia merupakan perintah keras dari Tuhan kami. Keluarga Muhammad tidak halal mengambil zakat sedikit pun.” [Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’i]

Dari Ali ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila engkau memiliki 200 dirham dan telah melewati satu tahun, maka zakatnya 5 dirham. Tidak wajib atasmu zakat kecuali engkau memiliki 20 dinar dan telah melewati setahun, maka zakatnya 1/2 dinar. Jika lebih dari itu, maka zakatnya menurut perhitungannya. Harta tidak wajib dikeluarkan zakat kecuali telah melewati setahun.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Nishab emas adalah 20 dinar (85 gram emas murni) dan perak adalah 200 dirham (setara 672 gram perak). Artinya bila seseorang telah memiliki emas sebesar 20 dinar atau perak 200 dirham dan sudah setahun, maka ia telah terkena wajib zakat, yakni sebesar 2,5 %.

Dari Abdullah Ibnu Aufa bahwa biasanya bila suatu kaum datang membawa zakat kepada Rasulullah SAW, beliau berdoa: “Ya Allah, berilah rahmat atas mereka.” Muttafaq Alaihi.

Dari Ali bahwa Abbas bertanya kepada Nabi SAW penyegeraan pengeluaran zakat sebelum waktunya, lalu beliau mengizinkannya. [Tirmidzi dan Hakim]

Dari Jabir bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tak ada zakat pada perak yang kurang dari 5 auqiyah (600 gram), unta yang jumlahnya kurang dari 5 ekor, dan kurma yang kurang dari 5 ausaq (1050 liter).” [Muslim]

Menurut riwayatnya dari hadits Abu Said r.a: “Tidak ada zakat pada kurma dan biji-bijian yang kurang dari 5 ausaq (1050 liter).” Asal hadits dari Abu Said itu Muttafaq Alaihi.

Dari Salim Ibnu Abdullah, dari ayahnya r.a, bahwa Nabi SAW bersabda: “Tanaman yang disiram dengan air hujan atau dengan sumber air atau dengan pengisapan air dari tanah, zakatnya sepersepuluh, dan tanaman yang disiram dengan tenaga manusia, zakatnya seperduapuluh.” [Bukhari].

Nishab hasil pertanian adalah 5 wasq atau setara dengan 750 kg. Apabila hasil pertanian termasuk makanan pokok, seperti beras, jagung, gandum, kurma, dll, maka nishabnya adalah 750 kg dari hasil pertanian tersebut.

Tetapi jika hasil pertanian itu selain makanan pokok, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daun, bunga, dll, maka nishabnya disetarakan dengan harga nishab dari makanan pokok yang paling umum di daerah (negeri) tersebut (di negeri kita = beras).

Kadar zakat untuk hasil pertanian, apabila diairi dengan air hujan, atau sungai/mata/air, maka 10%, apabila diairi dengan cara disiram / irigasi (ada biaya tambahan) maka zakatnya 5%.

Dari Abu Musa al-Asy’ary dan Mu’adz ra bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada keduanya: “Jangan mengambil zakat kecuali dari keempat jenis ini, yakni: sya’ir, gandum, anggur kering, dan kurma.” [Thabrani dan Hakim]

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Zakat rikaz (harta peninggalan purbakala) adalah seperlima.” [Muttafaq Alaihi]
Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebesar satu sho’ (3,5 liter) kurma atau satu sho’ sya’ir atas seorang hamba, orang merdeka, laki-laki dan perempuan, besar kecil dari orang-orang islam; dan beliau memerintahkan agar dikeluarkan sebelum orang-orang keluar menunaikan sholat. Muttafaq Alaihi.

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak berguna dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum sholat, ia menjadi zakat yang diterima dan barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat, ia menjadi sedekah biasa. [Abu Dawud dan Ibnu Majah]

Berikanlah harta kepada keluarga yang terdekat (kerabat) terlebih dulu: “…Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya…” [Al Baqarah:177]

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.”…[Al Baqarah:215]

Tidak pantas dia menyumbang jauh-jauh sementara keluarganya banyak yang miskin dan kekurangan tanpa dibantu. Hadis riwayat Jabir ra., ia berkata: Seorang dari Bani Udzrah ingin memerdekakan budaknya jika dia meninggal. Hal itu sampai kepada Rasulullah saw. lalu beliau bertanya: Apakah engkau mempunyai harta lain? Orang itu menjawab: Tidak. Rasulullah saw. bersabda: Siapakah yang mau membelinya dariku? Nu’aim bin Abdullah Al-Adawi membelinya dengan harga delapan ratus dirham. Lalu Rasulullah saw. membawa harga jual budak itu dan membayarkannya kepada orang tersebut. Kemudian bersabda: Mulailah untuk dirimu, bersedekahlah untuk dirimu. Jika masih tersisa, maka berinfaklah kepada keluargamu dan jika masih tersisa, maka berinfaklah kepada kerabatmu. Bila dari kerabatmu masih tersisa, maka begini dan begini. Ia (Jabir) menjelaskan: Tetangga depanmu, tetangga kananmu dan tetangga kirimu. (Shahih Muslim No.1663)

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Bersedekahlah.” Lalu seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, aku mempunyai satu dinar? Beliau bersabda: “Bersedekahlah pada dirimu sendiri.” Orang itu berkata: Aku mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk anakmu.” Orang itu berkata: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk istrimu.” Orang itu berkata: Aku masih punya yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk pembantumu.” Orang itu berkata lagi: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Kamu lebih mengetahui penggunaannya.” Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i

Terhadap orang yang berzakat kepada keluarganya Nabi saw bersabda, “Dia mendapatkan dua pahala, yaitu pahala menyambung kekerabatan dan pahala sedekah.” [HR Bukhari]

Kewajiban Membayar Zakat Fitrah dan Zakat Maal

Zakat merupakan suatu kewajiban yang dibebankan kepada setiap orang muslim. Zakat merupakan salah satu dari rukun islam.

Zakat itu ada yang bernama zakat fitrah dan ada zakat maal. Zakat fitrah dibayarkan setiap setahun sekali, yaitu pada bulan ramadhan, serta dibayarkan paling telat sebelum pelaksanaan shalat Id.

Zakat maal adalah zakat harta, artinya dibebankan kepada orang yang memiliki harta, serta harta tersebut sudah mencapai nishab.

Zakat maal itu ada zakat emas, perak, hewan atau binatang peliharaan seperti unta, kambing, dan sapi, zakat pertanian seperti padi dan gandum.

Zakat itu hukumnya wajib, dan berdosa bila orang yang memiliki harta dan mampu untuk berzakat tetapi tidak membayarkan zakatnya.

Diceritakan bahwa Nabi Musa melewati seorang laki-laki pada suatu hari. Laki-laki itu sedang shalat dengan tenang khusyu’. Berkatalah Nabi Musa, “Ya Tuhanku, seandainya dia mengerjakan shalat malam setiap sehari semalam seribu rakaat, memerdekakan seribu budak, menshalatkan seribu jenazah, beribadah haji seribu kali haji dan berperang seribu kali perang tentu semua itu tidak bermanfaat baginya sehingga dia menunaikan zakat dari hartanya.”

Rasulullah bersabda, “Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan. Sedangkan membangkang zakat adalah timbul dari cinta dunia.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin