Kewajiban Membayar Zakat Fitrah dan Zakat Maal

Zakat merupakan suatu kewajiban yang dibebankan kepada setiap orang muslim. Zakat merupakan salah satu dari rukun islam.

Zakat itu ada yang bernama zakat fitrah dan ada zakat maal. Zakat fitrah dibayarkan setiap setahun sekali, yaitu pada bulan ramadhan, serta dibayarkan paling telat sebelum pelaksanaan shalat Id.

Zakat maal adalah zakat harta, artinya dibebankan kepada orang yang memiliki harta, serta harta tersebut sudah mencapai nishab.

Zakat maal itu ada zakat emas, perak, hewan atau binatang peliharaan seperti unta, kambing, dan sapi, zakat pertanian seperti padi dan gandum.

Zakat itu hukumnya wajib, dan berdosa bila orang yang memiliki harta dan mampu untuk berzakat tetapi tidak membayarkan zakatnya.

Diceritakan bahwa Nabi Musa melewati seorang laki-laki pada suatu hari. Laki-laki itu sedang shalat dengan tenang khusyu’. Berkatalah Nabi Musa, “Ya Tuhanku, seandainya dia mengerjakan shalat malam setiap sehari semalam seribu rakaat, memerdekakan seribu budak, menshalatkan seribu jenazah, beribadah haji seribu kali haji dan berperang seribu kali perang tentu semua itu tidak bermanfaat baginya sehingga dia menunaikan zakat dari hartanya.”

Rasulullah bersabda, “Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan. Sedangkan membangkang zakat adalah timbul dari cinta dunia.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Kewajiban Zakat Umat Islam

Zakat hukumnya wajib bagi orang yang mampu dan hartanya sudah mencapai nishab. Di bawah ini adalah firman Allah mengenai kewajiban mengeluarkan zakat dan keutamaan bersedekah, serta kecaman bagi orang yang kikir.

Allah berfirman dalam surat At Taubah ayat 75-76:

“Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada Kami, pastilah Kami akan bersedekah dan pastilah Kami Termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).”

Diriwayatkan dari Abu Umamah Al Bahili mengenai turunnya ayat di atas, bahwa Tsa’labah bin Hatib Al Anshari adalah orang yang tekun di masjid Rasulullah siang dan malam. Dahinya sampai menyerupai lutut unta karena banyaknya bersujud di atas tanah dan batu.

Pada suatu hari Tsa’labah keluar dari masjid dengan tanpa mengerjakan dan sibuk dengan shalat seperti biasanya. Bersabdalah Nabi Muhammad kepadanya, “Mengapa engkau berbuat seperti perbuatan orang munafiq saja dengan tergesa-gesa keluar?” dia menjawab, “Ya Rasulullah, aku keluar ke masjid dalam keadaan hanya memiliki sebuah pakaian untukku dan untuk istriku, dan pakaian itu adalah yang ada pada tubuhku ini. Aku mengerjakan shalat dengan pakaian ini, sedang dia telanjang di rumah. Aku akan pulang kepadanya dan aku akan melukar pakaian ini agar dipakainya dan dia dapat shalat dengannya. Karena itu berdoalah kepada Allah untukku agar Allah memberiku sebuah harta.”

Nabi Muhammad bersabda, “Hai Tsa’labah, sedikit tetapi engkau dapat menunaikan syukurnya adalah lebih baik daripada banyak tetapi engkau tidak mampu memikulnya.”

Kemudian Tsa’labah datang lagi keoada Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah aku agar Allah memberikan harta kepadaku.” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau dapat mengambil tauladan baik dalam diri Rasulullah? Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, jika aku mau gunung-gunung menjadi emas dan perak berjalan bersamaku tentu mereka akan berjalan.”

Kemudian Tsa’labah datang kepada Nabi untuk yang ketiga kalinya dan berkata, “Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar dia memberi harta kepadaku. Demi Tuhan yang mengutusmu sebagai Nabi dengan haq, jika Allah memberiku harta tentu aku akan memberikan pada setiap orang yang memiliki hak, akan haknya.”

Maka Nabi Muhammad kemudian berdoa, “Ya Allah, berikanlah harta kepada Tsa’labah.”

Tsa’labah kemudian memelihara kambing dan berkembang biaklah kambing itu seperti perkembangan ulat saja, sehingga Madinah tidak dapat memuat kambing-kambingnya itu. Dia menyingkir dari Madinah dan tinggal di sebuah lembah dalam wilayah Madinah itu. Kambing itu masih saja berkembang pesat seperti perkembangan ulat.

Tsa’labah selalu mengerjakan shalat dhuhur dan Ashar bersama Rasulullah saw, sedang pada shalat yang lain mengerjakan disamping kambingnya itu. Akhirnya bertambahlah kambing itu dan berkembang terus sehingga dia membawa jauh dari Madinah.

Tsa’labah tidak dapat hadir kecuali shalat jumat saja. Kemudian kambing itu semakin banyak dan diapun bertambah jauh sehingga tidak dapat menghadiri jumat maupun jama’ah. Apabila datang hari jumat dia keluar menjumpaimanusia dan bertanya kepada mereka mengenai kabar berita.

Suatu hari Rasulullah ingat kepada Tsa’labah dan bertanya, “Apa yang diperbuat Tsa’labah?” orang-orang menjawab, “Ya Rasulullah, dia telah memelihara kambing yang tidak dapat termuat oleh sebuah lembah.” Nabi bersabda, “Celaka Tsa’labah.”

Turunlah ayat yang memerintahkan kewajiban membayar zakat. Rasulullah mengirim dua orang laki-laki untuk mengambil zakat. Semua orang menyerahkan zakatnya kepada dua orang petugas zakat itu, hingga pada akhirnya keduanya sampai kepada Tsa’labah. Mereka meminta dari Tsa’labah zakat,  dan membacakan surat Rasulullah kepadanya yang berisi kewajiban. Tetapi Tsa’labah tidak memberikan zakat itu. Dia berkata, “Tidak lain ini adalah bentuk lain dari pajak.” Dia berkata kepada kedua petugas pajak, “Kembalilah engkau berdua, biar aku dapat berfikir bagaimana pendapatku nanti.”

Ketika keduanya pulang kepada Nabi Muhammad, bersabdalah beliau kepada keduanya sebelum sempat mereka berbicara kepada beliau, “celakalah Tsa’labah.” Dua kali. Kemudian Allah menurunkan ayat dalam surat At Taubah di atas, sedang di dekat Nabi Muhammad terdapat seorang laki-laki dari kerabat Tsa’labah, maka diapun mendengar adanya ayat itu turun. Keluarlah dia sehingga datang kepada Tsa’labah. Berkatalah kerabat itu, “Celaka engkau Tsa’labah, sungguh Allah telah menurunkan ayat begini dan begini mengenai dirimu.”

Akhirnya keluarlah Tsa’labah menemui Nabi Muhammad dan mmebawa zakatnya pula kepada beliau. Bersabdalah Nabi Muhammad saw, “Sesungguhnya Allah melarangku untuk menerima zakatmu.” Tsa’labah menaburkan debu di atas kepalanya. Nabi bersabda, “Ini adalah perbuatanmu sendiri. Aku memerintahkanmu tetapi engkau tidak mau mematuhi aku.”

Setelah Rasulullah wafat, datanglah Tsa’labah membawa zakat kepada Abu Bakar, berkatalah dia, “Terimalah zakat ini.”

Abu Bakar menolak dan berkata, “Rasulullah tidak menerimanya darimu, maka apakah aku harus menerimanya?” maka Abu Bakar tidak mau menerimanya.

Pada waktu pemerintahan Umar diapun datang kepadanya dengan membawa zakat, dan berkatalah dia, “Terimalah zakatku.” Umar berkata, “Rasulullah dan Abu Bakar tidak mau menerimanya darimu. Apakah aku harus menerimanya?” Umar pun tidak mau menerimanya.

Kemudian dia datang kepada Usman, berkatalah dia, “Terimalah zakatku.” Usman berkata, “Mereka tidak mau menerimanya darimu, apakah aku harus menerimanya.” Maka Usman pun tidak mau menerimanya. Dan matilah Tsa’labah pada waktu pemerintahan Usman.

Semua siksaan ini adalah akibat kikir, cinta harta dan membangkang zakat. Dan karena menyalahi janji adalah satu dari penyebab kemunafikan, maka dijadikanlah menyalahi janji itu sepertiga dari kemunafikan.

Tanda orang munafik itu ada tiga, Apabila berbicara akan bohong, apabila berjanji akan menyalahi dan apabila dipercaya maka akan berkhianat.

Sumber: Durrotun Nasihin

Pengertian Zakat dan Akibat Tidak Mau Membayar Zakat

Zakat merupakan sebuah kewajiban yang dibebankan kepada orang yang memiliki harta. Dan bila seseorang yang kaya atau hartanya sudah mencapai nishab, kemudia dia tidak membayarkan zakatnya, maka dia akan berdosa dan kecelakaanlah baginya.

Nabi Muhammad juga bersabda, “Jagalah hartamu dengan zakat, obatilah sakitmu dengan sedekah dan hadapilah segala macam bala dengan doa dan merendahkan diri kepada Allah.”

Diriwayatkan dari Al Hasan dari Nabi Muhammad, beliau pernah menceritakan hadis di atas kepada para sahabat. Lewatlah seorang Nasrani di depannya dan dia mendengar hadis tersebut. pergilah Nasrani tersebut dan membayarkan zakatnya. Dia memiliki seorang sekutu dagang yang saat itu telah keluar untuk berdagang ke Mesir.

Dia berkata dalam hatinya, “Jika Muhammad benar dalam kata-katanya itu tentu akan terlihat kebenarannya dan tentu harta bersama kawanku akan terpelihara dengan baik. Lalu aku akan masuk islam dan beriman kepadanya. Tetapi jika terlihat kebohongannya aku akan datang membawa pedang kepadanya dan aku akan membunuhnya.”

Tiba-tiba datang sebuah surat dari rombongan dagang yang memberitahukan bahwa mereka sedang dihadang perampok jalanan. Perampok merampas semua harta, pakaian serta apa saja yang ada pada mereka. Orang Nasrani ketika mendengar kabar tersebut menjadi kebingungan. Keluarlah dia dengan menghunus pedang menuju ke tempat Nabi dengan maksud untuk membunuhnya. Tetapi datang pula surat berikutnya yang datang dari sekutunya sendiri, “Jangan engkau susah dan prihatin. Waktu itu aku berada di belakang jauh dari rombongan. Para perampok menghadang mereka, sedang aku berada dalam selamat beserta semua barang-barangku.”

Setelah Nasrani membaca surat tersebut, dia berkata, “Dia adalah orang yang benar dan seorang Nabi yang haq.” Lalu datanglah Nasrani menghadap Nabi dan berkata, “Ya Muhammad ajarkan kepadaku tentang islam.” lalu berimanlah dia dan mendapat kemuliaan berkat kemuliaan islam.

Nabi Muhammad bersabda, “Apabila telah datang hari kiamat keluarlah sesuatu dari neraka jahanam bernama Huraisy, termasuk jenis kalajengking. Tingginya antara langit dan bumi, sedang lebarnya dari dunia timur sampai dunia barat. Berkatalah Jibril, ‘Kemanakah engkau akan pergi hai Huraisy?’ dia menjawab, ‘Ke arena kiamat.’ Jibril bertanya, ‘Siapakah yang engkau cari?’ dia menjawab, ‘Aku mencari lima golongan, yaitu orang yang meninggalkan shalat, orang yang membangkang zakat, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang minum khamer, orang yang berbicara di mesjid.’

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al Jin ayat 18, “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah seseorang selain Allah di dalamnya.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Keutamaan Memelihara Harta

Harta merupakan sebuah perkara yang dicari oleh banyak orang di muka bumi, bahkan ada orang-orang yang tidak peduli bagaimana caranya mendapatkan harta tersebut, mereka memiliki prinsip yang penting banyak harta, tidak peduli caranya haram dan mendzalili orang lain.

Padahal banyak harta itu apabila tidak bisa membawanya akan membuat dirinya celaka, baik di dunia maupun di akhirat.

Allah berfirman dalam surat At Taubah ayat 34-35:

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang dianugerahi Allah sebuah harta tetapi tidak mau menunaikan zakatnya, maka harta itu dijelmakan seekor ular botak di hari kiamat. yaitu ular yang tidak tumbuh rambut di kepalanya, yakni tidak ada kulit kepalanya karena banyaknya bisa. Ular itu mempunyai dua titik hitam di atas kedua matanya. Ular itu membelit lehernya dan membuatnya tersiksa berat. Ia berkata, ‘Aku adalah harta yang engkau simpan di dunia dan tidak engkau penuhi zakatnya.”

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 180:

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang diberikan sebuah harta oleh Allah tetapi tidak mau memenuhi zakatnya, maka dibuatlah lempengan-lempengan dari api di hari kiamat. dibakarlah lempengan-lempengan itu di neraka jahanam. Lalu dibakarlah disebabkannya artinya disebabkan harta itu, dahi, kedua lambung dan punggungnya. Setiap lempengan-lempengan itu dingin dikembalikanlah menjadi panas untuk membakarnya dalam sehari yang ukurnnya adalah seribu tahun dunia. Seperti firman Allah dalam surat Al Hajj ayat 47, “Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.”

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 43, “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”

Shalat adalah haq Allah swt, sedangkan zakat adalah hak manusia. Jadi kewajibannya adalah memelihara kedua-duanya karena perintah Allah. semua ibadah kembali kepada kedua hal ini, karena shalat adalah ibadah badan sedangkan zakat adalah ibadah harta, dan semua ibadah akan terbagi menjadi kedua itu.

Karena itulah disebutkan bahwa ada tiga ayat yang diturunkan selalu bersamaan dengan 3 hal yang lain, tidak akan diterima salah satu di antara tiga hal itu tanpa dengan yang lain.

Firman Allah surat Al Baqarah ayat 43, “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”

Firman Allah surat An Nisa ayat 59, “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul.”

Firman Allah surat Luqman ayat 14, “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.”

Maka barang siapa yang bersyukur kepada Allah tetapi tidak mau bersyukur kepada kedua orang tuanya tidaklah diterima syukurnya kepada Allah.

Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang menghalangi dirinya dari lima hal, maka Allah menghalangi lima hal dari orang itu:

  1. Orang yang menghalangi zakat dari hartanya maka Allah akan menghalangi pemeliharaan hartanya dari segala macam bencana.
  2. Orang yang menghalangi sepersepuluh dari hasil yang keluar dari tanahnya maka Allah menghalangi keberkatan dari segala macam usahanya.
  3. Barang siapa yang menghalangi sedekah maka Allah menghalangi keselamatan (kesehatan)nya.
  4. Orang yang menghalangi doa kepada dirinya maka Allah menghalangi terkabul darinya.
  5. Barang siapa yang menghalangi hadir dalam jamaah shalat maka Allah menghalangi kesempurnaan iman darinya, lalu imannya tidaklah sempurna.

Nabi Muhammad juga bersabda, “Jagalah hartamu dengan zakat, obatilah sakitmu dengan sedekah dan hadapilah segala macam bala dengan doa dan merendahkan diri kepada Allah.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

 

Hukum Zakat Dalam Islam

Zakat itu wajib bagi orang yang mampu untuk membayarnya, atau dengan kata lain hartanya sudah mencapai nishab, misalnya emas, perak, unta, sapi, dan kambing.

Bahkan para ahli ma’rifat mengharuskan bahwa zakat itu adalah menyerahkan seluruh harta.

Diceritakan bahwa ada seorang ahli ma’rifat ditanya, “Berapakah yang wajib dari zakat dalam 200 dirham?” dia menjawab, “Kalau bagi orang awam maka syara’ memerintahkan setiap dua ratus, lima dirham zakatnya. Sedang kita maka wajib menyerahkan seluruh harta kita. karena Allah berfirman dalam surat Al Munafiqun ayat 10, ‘Dan nafkahkanlah dari apa yang Kami berikan sebagai rezeki kepadamu….”

Asy Syubali pernah ditanya, “Apa fardhu itu?” dia menjawab, “Cinta kepada Allah.” kemudian ditanya lagi, “Apakah sunah itu?” dia menjawab, “Menyerahkan seluruhnya.” Lalu ditanya, “Bukankah lima dirham itu untuk dua ratus dirham.” Dia menjawab, “Itu untuk orang-orang kikir.”

Orang yang bertanya melanjutkan, “Siapakah imammu dalam mazhab ini?” dia menjawab, “Abu Bakar Shiddiq, dia telah bersedekah dengan seluruh hartanya. Duduklah Abu Bakar memakai sebuah kain, lalu datanglah malaikat Jibril dengan membawakan kain yang sama.”

Orang itu bertanya lagi, “Apakah engkau mempunyai dalil dalam Al Qur’an?”

Asy Syubali menjawab, “Ya, yaitu firman Allah dalam surat At Taubah ayat 111, ‘Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri mereka dan juga harta mereka.”

Orang yang menjual hartanya tentu akan menyerahkannya, sedang kita ‘amwal’ adalah kata isim yang artinya umum (berarti semua termasuk).”