Bacaan Niat Wudhu dan Tata Cara Wudhu

Pengertian wudhu

Wudhu artinya suci atau bersih. Wudhu menurut syara’ ialah membersihkan badan dari kotoran atau hadas kecil. Apabila kita melakukan shalat, kita wajib melakukan wudhu, kecuali sakit atau tidak ada air.

Tujuan berwudhu ialah supaya tubuh kita selalu bersih dari kotoran-kotoran. Apabila kita berwudhu lima kali dalam satu hari, maka jelas akan berfaedah bagi kesehatan dari tubuh kita.

Wudhu

Perintah wajib wudhu ini bersamaan dengan perintah wajib shalat lima waktu, yaitu setengah tahun sebelum hijrah.

Wudhu itu besar sekali manfaatnya. Yang jelas menjadikan orang tidak malas, tidak lesu, selalu segar dan bersemangat. Di samping itu dapat menjadikan tubuh kita selalu bersih, jauh dari kotoran lahir dan batin, hadas dan najis.

Rukun wudhu

Rukun wudhu itu ada 6 macam, yaitu:’

Niat wudhu

Yaitu pada waktu membasuh muka. Bunyi niatnya ialah:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَلِرَفْعِ الْحَدَثِ الْاَ صْغَرِفَرْضًالِلّٰهِ تَعَالٰى

Nawaitul wudhuu-a liraf’il hadatsil asghari fardhal lillaahi ta’aalaa.

“Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil karena Allah Ta’aalaa.”

Membasuh muka

Membasuh muka itu disunatkan sebanyak 3 kali, dan basuhan yang pertama disertai niat.

Membasuh kedua tangan sampai siku

Disunatkan masing-masing 3 kali , mendahulukan yang kanan daripada yang kiri.

Mengusap sebagian kepala

Membasuh kedua kaki sampai mata kaki

Tertib

Artinya berturut-turut. Yaitu mendahulukan anggota yang harus dahulu, dan mengakhirkan anggota yang harus diakhirkan. Jadi tidak boleh di balik mengerjakannya.

Dari sebuah hadis riwayat Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah telah diberi air untuk berwudhu, kemudian beliau berwudhu, membasuh muka 3 kali, mengisap air ke hidung 3 kali, kemudian disapunya kepalanya dan kedua telinganya sebelah luar dan dalam.

Diriwayatkan bahwa Utsman bin Affan meminta air wudhu lalu ia cuci dua tangannya 3 kali, kemudian ia berkumur, menghisap air ke hidung dan menghempaskan 3 kali, kemudian ia basuh mukanya 3 kali, lalu tangan yang kanan sampai siku-siku 3 kali lantas yang kiri seperti tadi. Akhirnya ia cuci kakinya yang kanan 3 kali, lalu yang kiri, lalu berkatalah ia, “Aku lihat Rasulullah berwudhu serupa ini.”

Oleh karena itu, Nabi Muhammad mengerjakan wudhu dengan urutan sebagai berikut:

  1. Niat, ialah ikrar atau menyengaja untuk wudhu.
  2. Membasuh telapak tangan dengan membaca Bismillah.
  3. Berkumur 3 kali.
  4. Menghisap air ke hidung untuk dihempaskan.
  5. Membasuh wajah antara dagu dan ubun-ubun dan telinga.
  6. Membasuh kedua tangan sampai pada siku-siku.
  7. Mengusap kepala dari muka (tempat otak besar) sampai belakang (tempat otak kecil).
  8. Membasuh kedua telinga bagian dalam dan luar.
  9. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.
  10. Tertib, artinya berturut-turut, tidak di balik kanan dulu baru kiri.

Syarat Wudhu

  1. Islam
  2. Tamyiz, artinya dapat membedakan antara hal-hal yang baik dan yang buruk.
  3. Suci dari haid dan nifas.
  4. Tidak ada sesuatu yang menghalangi sampainya air pada bagian tubuh yang di basuh, misalnya cat, aspal, plastik, dan lain-lain.
  5. Bagian yang dibasuh tidak ada sesuatu yang bisa merubah air, seperti bedak, tinta, dan lain-lain.

Sunah Wudhu

  1. Membaca Bismillaahir rahmaanir rahiim pada permulaan wudhu.
  2. Bersugi, yaitu membersihkan gigi dengan sikat gigi atau siwak, selain orang yang sedang berpuasa.
  3. Membasuh 2 telapak tangan sampai pergelangan.
  4. Berkumur-kumur (menyikat gigi).
  5. Menghisap air dalam hidung lalu dikeluarkan lagi.
  6. Mengusap anggota-anggota wudhu dengan 3 kali hitungan.
  7. Menyapu seluruh kepala
  8. Menyapu kedua telinga, baik bagian luar maupun bagian dalam.
  9. Mendahulukan anggota kanan daripada yang kiri.
  10. Mengusap sela-sela jari kedua tangan dan kedua kaki.
  11. Menjaga supaya percikan air itu jangan kembali kepada badan.
  12. Berturut-turut, artinya sebelum kering anggota pertama, anggota kedua sudah di basuh, begitu seterusnya. Jadi tidak dipisahkan terlalu lama.
  13. Membaca doa sesudah wudhu.

Makruhnya Wudhu

  1. Israf, artinya berlebih-lebihan dalam menggunakan air.
  2. Meninggalkan sunat-sunat wudhu.
  3. Melebihkan dalam membasuh (mengusap lebih dari 3 kali)
  4. Bercakap-cakap selam berwudhu.
  5. Mengeringkan anggota wudhu, kecuali karena sebab sakit, dingin dan sebagainya.

Orang yang tidak berwudhu dinamakan orang yang sedang menanggung hadas kecil. Orang yang demikian ini diharamkan:

  • Mengerjakan shalat, baik shalat wajib maupun sunat.
  • Mengerjakan thawaf.
  • Menyentuh Al Qur’an.

Yang membatalkan wudhu

  1. Keluar sesuatu dari kubul dan dubur, seperti kotoran, kencing, darah dan lain-lain.
  2. Hilang akalnya sebab mabuk, gila atau pingsan.
  3. Bersentuh kulit laki-laki dan kulit perempuan yang bukan muhrimnya dan sudah sama-sama baligh. Muhrim artinya keluarga yang tidak boleh dinikah.
  4. Menyentuh dubul atau qubul (walaupun kepunyaan sendiri) dengan telapan tangan atau jari-jari.
  5. Tidur nyenyak.

Yang dimaksud dengan muhrim ialah keluarga atau orang yang tidak boleh dinikahi. Apabila menyentuh atau disentuh orang, maka wudhunya tidak batal.

Yang termasuh muhrim ada 11 macam, yaitu:

  1. Ibu
  2. Anak perempuan
  3. Saudara perempuan
  4. Saudara ayah (‘ammah).
  5. Saudara ibu (khalah)
  6. Anak perempuan saudara laki-laki.
  7. Anak saudara perempuan
  8. Ibu tiri
  9. Menantu (perempuan)
  10. Anak tiri (perempuan)
  11. Mertua (perempuan)

4 hal yang tidak boleh dilakukan orang yang batal wudhu dan Junub

Orang yang batal wudhu atau tidak mempunyai wudhu, tidak boleh melakukan beberapa hal. Artinya berdosa apabila melakukannya. Keempat hal tersebut ialah:

1. Shalat

Hal ini berdasarkan ijma para ulama tentang tidak sah dan haram hukumnya bagi orang yang melakukan shalat tanpa berwudhu.

Berdasarkan hadis Muslim, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak diterima shalat seseorang di antara kamu apabila berhadas, sampai ia berwudhu.”

2. Thawaf

Thawaf haram bagi orang yang berhadas, sebab thawaf sebangsa shalat, sebagaimana diterangkan dalam hadis:

Nabi bersabda, “Thawaf itu sama kedudukannya dengan shalat, hanya saja Allah membolehkan bercakap-cakap. Barang siapa bercakap-cakap hendaklah bercakap-cakap dengan baik.”

Sesungguhnya Rasulullah berwudhu untuk thawaf, kemudian beliau bersabda, “Hendaklah kamu mengambil dariku cara-cara ibadahmu.”

3. Menyentuh Mushaf Al Qur’an

Hal ini berdasarkan firman Allah, “Tidak menyentuh kecuali hamba-hamba yang disucikan.”

Rasulullah bersabda, “Janganlah menyentuh Al Qur’an kecuali orang-orang yang suci dari hadas.”

Imam Malik meriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah mengirim surat kepada Amir bin Hajm, “Janganlah menyentuh Al Qur’an bagi orang yang tidak suci dari hadas.”

4. Membawa Mushaf Al Qur’an

Haram membawa mushaf Al Qur’an bagi orang-orang yang mempunyai hadas, dikiaskan kepada haramnya menyentuh mushaf sebagaimana dikemukakan oleh As Sarqowi.

Orang yang junub haram baginya:

  1. Shalat
  2. Thawaf
  3. Menyentuh mushaf.
  4. Membawa mushaf.
  5. Diam di dalam mesjid, berdasarkan firman Allah dalam surat An Nisa ayat 43, “Janganpula hampiri mesjid sedang kamu dalam keadaan junub terkecuali sekedar berlalu saja.” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku tidak memperbolehkan mesjid bagi orang yang haid dan junub.”
  6. Membaca Al Qur’an, berdasarkan hadis Turmudzi, dari Ibnu Umar , dari Nabi beliau bersabda, “Orang-orang yang haid dan junub tidak diperbolehkan membawa satu ayat pun dari Al Qur’an.”

Hal-Hal Yang Membatalkan Wudhu

Ada beberapa perkara yang membatalkan wudhu, yaitu:

1. Ada yang keluar dari kubul dan dubur, baik benda padat atau cair, kecuali mani.

Adapun yang keluar itu ada yang biasa dan ada yang tidak biasa. Yang sudah biasa ialah:

Kotoran dan air seni

Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 6, “…. atau kembali dari tempat buang air (kakus)….”

Madzi

Dari Ali berkata, “Aku ialah seorang laki-laki yang sering keluar madzi, tetapi aku malu untuk bertanya kepada Rasulullah karena kedudukan putrinya, maka aku menyuruh Mikdad bin Al Aswad dan ia menanyakannya. Beliau berkata, ‘Basuhlah zakarnya (kemaluan) dan kemudian berwudhu.”

Wadi

Berdasarkan hadis Baihaqi, dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas, mereka berkata kalau keluar wadi maka harus berwudhu.

Keluar angin (kentut)

Berdasarkan hadis Bukhari, dari Abu Hurairah ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak diterima shalat seseorang yang punya hadas sampai dia berwudhu. seorang dari Hadrolmaut bertanay, ‘Apakah hadas itu?’ Abu Hurairah menjawab, ‘Kentut tidak bunyi.”

Dari Abdillah bin Zaed Ibnu Ashim, dari Abad bin Tamim dari pamannya. Sesungguhnya ia telah mengajukan orang yang terlintas dalam hatinya suatu keraguan sehingga menemukan sesuatu dalam shalatnya kepada Rasulullah. Rasul bersabda, “Janganlah ia bubar dan berpaling dari shalatnya hingga ia mendengar suara atau menemukan angin.”

Yang dimaksud dalam hadis ini adalah seseorang yang berpaling dari shalatnya sampai ia mengetahui ada angin yang keluar dari duburnya.

Adapun yang keluar dari dubul dan kubul tapi sifatnya jarang (nadzir) maka hukumnya diqiaskan kepada yang biasa keluar.

Keluar mani tidak membatalkan wudhu, hal ini sesuai dengan kaidah, “Sesungguhnya kewajiban yang lebih tinggi dalam dua perkara dengan kekhususannya, tidak mewajibkan yang lebih rendah dengan keumumannya.

Mani yang nyata-nyata telah mewajibkan mandi berdasarkan hadis yang sahih, menurut kaidah ini tidak mewajibkan wudhu.

Wudhu

2. Hilang akal baik karena tidur atau sebab lain

Wudhu itu batal dikarenakan hilang akal, baik itu disebabkan oleh tidur ataupun sebab yang lainnya, kecuali tidurnya orang yang menetapkan pantatnya pada tempat duduk.

Batal wudhu karena tidur didasari oleh hadis Ibnu Dawud dan Ibnu Majah:

Dari Ali, Rasulullah bersabda, “Kedua mata itu seolah-olah tali dubur, bila kedua mata itu terpejam (tidur) maka lepaslah tali itu, oleh sebab itu barang siapa yang tertidur maka hendaklah dia berwudhu.”

Maksud hadis di atas adalah bahwa mata yang terbangun akan dapat menjaga hadas seperti air dalam bejana.

Adapun orang yang tidur sambil duduk dan merapatkan pantatnya dengan tempat duduk maka wudhunya tidak batal, penetapan hukum ini berdasarkan hadis Abu Dawud:

Dari Anas, ia berkata bahwa para sahabat Rasulullah menunggu shalat isya sampai akhir, dan mereka tertidur, kepala mereka hampir mengenai tanah, kemudian mereka shalat dan tidak berwudhu terlebih dahulu.

Adapun hilang akal yang disebabkan oleh mabuk berat, gila atau lainnya, maka hukumnya diqiaskan pada tidur dan bahkan sebab ini lebih berat.

3. Bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan

Batal wudhu apabila bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan yang keduanya sudah besar (menurut adat), bukan muhrim dan tanpa penghalang.

Allah berfirman dalam surat Al Maidah ayat 6, “Atau menyentuh perempuan.”

Hadis Imam Malik:

Dari Abdillah bin Umar, sesungguhnya dia berkata, “Ciuman laki-laki kepada istrinya dan meraba dengan tangannya termasuk musalamah, maka barang siapa mencium atau meraba dengan tangannya maka hendaklah dia berwudhu.”

4. Menyentuh kemaluan (manusia) atau lingkaran dubur dengan telapak tangan

Hal ini berdasarkan hadis bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Apabila seorang diantaramu meraba dzakarnya maka hendaklah dia berwudhu.”

Hadis dari Siti Aisyah, bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Celakalah bagi orang yang meraba kemaluannya lantas shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu,” Siti Aisyah berkata, “Demi orang tuaku, kutebus ini untuk kaum lelaki, beritahukanlah aku tentang perempuan, NAbi berkata: jika salah seorang diantara kamu (perempuan) meraba kemaluannya maka hendaklah dia berwudhu.”

Hadis Abu Hurairah:

Sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Apabila diantaramu menggenggam kemaluan dengan tangannya tanpa terhalang, maka hendaklah dia berwudhu untuk shalat.”

Syarat Sahnya Wudhu

Wudhu merupakan sebuah perkara yang dilakukan untuk menghilangkan hadas. Selain itu wudhu merupakan sebuah hal yang diharuskan ketika akan melakukan shalat, membaca Al Qur’an, dan lain sebagainya.

Wudhu

Ada beberapa syarat wudhu yang harus dilakukan, jadi apabila tidak dilaksanakan maka tidak sah wudhunya. Adapun syarat wudhu itu adalah:

Islam

Karena wudhu termasuk ibadah badaniah yang membutuhkan niat sedangkan kafir bukan ahli niat.

Tamyiz

Tamyiz itu ialah apabila seorang anak telah sampai pada batas usia dan telah mempunyai pengertian, sedangkan dia termasuk ahli shalat (muslim) maka ia sah menjadi imam dalam shalat.

Yang dimaksud dengan batas usia adalah apabila anak itu sudah tamyiz. Jadi tamyiz merupakan predikat yang disandang oleh seorang anak apabila ia sudah sampai pada batas dimana ia telah mengerti sesuatu, oleh karena itu batas mulai tamyiz berbeda-beda.

Imam Nawawi berpendapat bahwa batas tamyiz berbeda-bedas esuai dengan daya nalar anak itu sendiri, ada yang enam tahun, tujuh tahun, bahkan ada yang 10 tahun atau lebih, adapun yang ditetapkan oleh kebanyakan ulama ahli hadis ialah lima tahun.

Hadis yang menerangkan tentang sahnya jadi imam anak yang sudah tamyiz ialah:

Dari Amer dan Ibnu Salamah berkata, “Aku menjadi imam di masa Rasulullah, dan pada waktu itu aku adalah anak laki-laki yang baru berusia 7 tahun.”

Suci dari haid dan nifas.

Tidak ada yang menghalangi datangnya air ke kulit, walaupun sedikit seperti minyak yang keras, bekas tinta, bekasnya kutek, bekas cat, ada bekas lilin, atau aspal.

Jangan ada di anggota wudhu perkara yang merubah air, misalnya za’faron.

Tahu fardhu wudhu, jadi apabila ada orang yang tidak tau maka tidak sah wudhunya.

Jangan menganggap/bertekad bahwa fardhu wudhu adalah sunat, misalkan membersihkan kaki itu sunat,, padahal fardhu, nah itu tidak sah wudhunya.

Airnya suci dan mensucikan.

Karena ada air yang suci tapi tidak bisa mensucikan seperti air teh dan air kopi atau air susu, nah itu boleh diminum tapi tidak boleh dipakai bersuci.

Sudah tiba waktunya bagi orang yang langgeng hadast, seperti orang yang istihadoh.

Jadi apabila ada perempuan istihadoh wudhu sebelum tiba waktunya maka itu tidak sah. Harus terus-terus bagi orang yang langgeng hadast.

Dan lagi orang yang daimil hadast kalau berwudhu tidak boleh berhenti-berhenti, seperti setelah membasuh tangan berhenti dulu, baru kemudian setelah agak lama membasuh yang setelahnya. Dan dimana-mana berwudhu juga harus langsung mengerjakan shalat, tidak boleh diselingi oleh pekerjaan lain, seperti jalan kaki ketempat shalat, dll.

 

Fardu Wudu atau Rukun Wudhu

Ada beberapa hal atau perbuatan yang termasuk ke dalam fardu wudu, bila hal ini tidak dilakukan maka tidak sah wudunya.

Niat

Hal ini berdasarkan hadis:

Dari Umar bin Khaththab yang berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sesunguhnya sah nya amal itu dengan niat dan sesungguhnya bagi seseorang itu apa yan diniatniya.”

Juga berdasarkan firman Allah dalam surat Al Bayyinah ayat 5, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dan memurnikan keta’atannya dalam menjalankan agama yang lurus.”

Hadis Bukhari, “Tidak sah amalnya seseorang tanpa niat.”

Hadis dari Ibnu Majah, “Sesungguhnya manusia akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya.”

Juga hadis, “Sesungguhnya sempurnanya amal itu dengan niat.”

Wudhu

Membasuh Muka

Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu…”

Membasuh kedua tangan sampai siku

Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 6, “…… dan tanganmu sampai dengan sikut.”

Menyapu sebagian kepala dengan air

Berdasarkan firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 6, “….. dan sapulah kepalamu.”

Membasuh kedua kaki sampai mata kakinya.

Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 6, “Dan basuh kakimu sampai mata kaki.”

Dari Ibnu Abbas bahwa sesungguhnya dia berwudhu maka ia membasuh muka, sampai rowi (Syeikh Atho bin Yasar) berkata, “Kemudian ia mengambil seceduk air membasuhnya kemudian ia mengambil seceduk lagi lalu ia membasuh kaki kirinya dan berkata, ‘Beginilah saya melihat Rasulullah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tertib

Hal ini berdasarkan perilaku Nabi sebagaimna yang telah dijelaskan dalam atsar.

Juga berdasarkan hadis Nasai, “Mulailah kamu dengan apa yang memulai Allah.”