Hukum Menolong Orang Untuk Berwudhu

Minta pertolongan ketika wudhu itu ada 4 :

  1. Yang wenang (diperbolehkan), seperti minta tolong didekatkan air.
  2.  Menghilangkan keutamaan, misalnya minto tolong dikucurkan air ke yang berwudhu/yang lain. Artinya kita wudhu dikucurkan airnya oleh orang lain walupun bukan ahli ibadah dan tidak diperintah.
  3. Yang di makruhkan, minta tolong dibersihkan anggota wudhu.
  4. Yang diwajibkan, minta tolong nya orang yang sakit (parah). Artinya wajib menolong orang yang sakit tersebut walupun dibayar.

Bahkan ada lagi minta minta tolong yang disunatkan, seperti menolong orang yang sholat munfarid (sendirian) dari barisan dengan menyamai di tempatnya. Ada juga yang diharamkan yaitu menolong /minta tolong dalam perkara haram.

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi

Pengertian Wudhu dan 10 Syaratnya

Wudu adalah salah satu cara menyucikan anggota tubuh dengan air. Seorang muslim diwajibkan bersuci setiap akan melaksanakan salat. Berwudu bisa pula menggunakan debu yang disebut dengan tayammum. Syarat wudhu ada 10, yaitu :

  1. Yang menjadikan sahnya wudhu adalah islam, maka apabila orang kafir berwudhu itu tidak sah. Karena wudhu adalah ibadah nya anggota badan, sedangkan orang kafir bukan ahli ibadah.
  2. Tidak sah wudhunya orang yang belum baligh, seperti anak kecil dan orang gila (karena bukan ahli ibadah).
  3. Suci dari haid dan nifas.
  4. Tidak ada yang menghalangi datangnya air ke kulit, walaupun sedikit seperti minyak yang keras, bekas tinta, bekasnya kutek, bekas cat, ada bekas lilin, atau aspal.
  5. Jangan ada di anggota wudhu perkara yang merubah air, misalnya za’faron.
  6. Tahu fardhu wudhu, jadi apabila ada orang yang tidak tau maka tidak sah wudhunya.
  7. Jangan menganggap/bertekad bahwa fardhu wudhu adalah sunat, misalkan membersihkan kaki itu sunat,, padahal fardhu, nah itu tidak sah wudhunya.
  8. Airnya suci dan mensucikan. Karena ada air yang suci tapi tidak bisa mensucikan seperti air teh dan air kopi atau air susu, nah itu boleh diminum tapi tidak boleh dipakai bersuci.
  9. Sudah tiba waktunya bagi orang yang langgeng hadast, seperti orang yang istihadoh. Jadi apabila ada perempuan istihadoh wudhu sebelum tiba waktunya maka itu tidak sah. Harus terus-terus bagi orang yang langgeng hadast
  10. Dan lagi orang yang daimil hadast kalau berwudhu tidak boleh berhenti-berhenti, seperti setelah membasuh tangan berhenti dulu, baru kemudian setelah agak lama membasuh yang setelahnya. Dan dimana-mana berwudhu juga harus langsung mengerjakan shalat, tidak boleh diselingi oleh pekerjaan lain, seperti jalan kaki ketempat shalat, dll.

 

4 Perkara Tidak Boleh Dilakukan Oleh Orang Yang tidak memiliki wudhu

Haram bagi orang yang memiliki hadast asgor/tidak memiliki wudhu untuk :

1. Sholat. Baik itu sholat wajib ataupun sholat sunat, serta mensholatkan mayit.

2. Thowaf. Apakah itu thowaf fardhu ataupun thowaf sunat, thowaf sepangkat dengan sholat, tetapi Allah mengalalkan atau membolehkan bicara yang bagus-bagus di thowaf, tetapi di sholat tidak boleh.

Kalau sujud tilawah dan sujud syukur itu sama dengan shalat, kecuali orang yang tidak punya air atau tanah untuk wudhu dan tayamum, maka dia sholat saja tanpa wudhu dan tayamum karena untuk menghormati waktu. Apabila ada tanah untuk tayamum dan air untuk berwudhu, maka orang tersebut harus mengqodo lagi sholat yang sudah terlewat.

3. Memegang Al Quran (mushaf). Yang disebut mushaf yaitu setiap perkara/hal yang ada tulisan quran serta untuk dibaca saat menulisnya, walaupun di kayu, kulit, kertas. Dan tidak apa-apa apabila tulisan itu untuk mendapatkan berkah, seperti ‘azimah atau hal lainnya.

Kalau kita membawa Al Quran dalam tas, asal disatukan dengan barang lain, dan niatnya membawa barang bukan niat membawa Al Quran. Tidak apa-apa bagi anak kecil. Yang belum baligh, misalkan seorang anak dibangunkan waktu shubuh tujuannya untuk mengaji, lalu bangun mengambil Quran yanpa wudhu, maka tidak dosa.Tetapi haram bagi orang tua yang menyuruh anak yang belum baligh untuk mengambil quran, sambil orang tuanya itu dalam keadaan batal, padahal air (untuk wudhu) dekat.

4. Membawa Al Quran. Kecuali digabung dengan barang yang lain, seperti dijelaskan diatas. Tidak apa-apa membawa Quran karena madharat walupun mempunyai hadast, malah menjadi wajib, misalkan karena akan diduduki, akan terbawa banjir, atau akan menimpa barang najis. Serta harus melarang apabila anak yang ghoir tamyiz mempermainkan Al Quran, karena menghormat Al Quran.

4 Perkara Yang Membatalkan Wudhu

Yang membatalkan wudhu ada 4, yaitu :

1. Ada yang keluar dari kubul atau dubur, apakah angin (kentut), apakah bersuara atau tidak bersuara, kecuali air mani. Kalau yang keluarnya air mani maka wajib adus (mandi besar). Misalkan yang keluarnya itu adalah sesuatu yang langka, seperti keluar darah, atau cacing, atau ari zakar keluar pasir, itu batal wudhunya. Tetapi menurut Imam Malik apabila yang keluarnya itu barang langka maka tidak membatalkan wudhu.

2. Hilang akal, apakah disebabkan oleh tidur atau bukan tidur, seperti gila, ayan, dll. Kecuali yang tidurnya sambil duduk,merapatkan bokongnya ke tempat duduknya, atau karena mengantuk. kalau orang tersebut was was apakah bokongnya nempel di tempat duduk, tetapi was was nya itu setelah tidur, maka tidak batal wudhunya.

Begitu juga kalau tidurnya lama, bahkan sampai bermimpi, tidak batal wudhunya asalkan tetap bokongnya, tidak berubah. Cirinya orang yang mengantuk yaitu mendengar terhadap obrolan orang lain. Tidurnya para nabi itu tidak membatalkan wudhunya.

Yang namanya naum yaitu angin yang halus yang datangnya dari arah otak, maka nutupin angin itu terhadap mata dan sampai angin tersebut ke hati. Apabila tidak sampai angin ke hati maka terbukti orang itu mengantuk, serta kendor urat otak disebabkan asap yang keluar dari perut.

3. Bersentuhan kulit lelaki dan perempuan yang sudah besar dua-duanya serta orang lain sambil tidak ada yang menghalangi. Masalah perempuannya itu adalah wanita ajnabi, yaitu wanita yang halal dinikahin.

Yang disebut besar di perempuan ialah perempuan tersebut sudah menarik perasaan lelaki, kalau lelaki sudah sisenangi perempuan, menurut watak yang salah. Kadang-kadang ada orang tua yang cinta kepada perempuan berusia dibawah7 taun, itu gila namanya, seperti cinta terhadap hewan. Jadi apabila laki-laki besar cinta terhadap anak kecil dan sebaliknya, maka bersentuhannya itu tidak membatalkan wudhu.

Syaratnya jangan ada yang menghalagi seperti baju, itu tidak batal wudhu, dan lagi bersentuhannya itu apakah ada syahwat ataupun tidak. Kalau perempuannya dipaksa (dipegang) itu batal wudhu.

Bersentuhan yang menjadikan batal wudhu :

  • Apabila yang bersentuhan/menempelnya itu kulit, tidak batal kalau yang menempelnya rambut, gigi, kuku, atau ada yang menghalangi (baju), walaupun bajunya tipis.
  • Yang bersentuhannya itu kuli wanita dan lelaki, tidak batal kalau lelaki dan lelaki, atau wanita dengan wanita.
  • Yang bersentuhannya itu sudah sama-sama besar, tidak batal misalnya wanitanya gede lelakinya kecil (belum memiliki syahwat).
  • Bersentuhannya bukan muhrim, sekarang kalau orang meninggal dan sudah baligh, dipegang oleh orang yang hidup yang baligh, yang meninggalnya tidak batal, tidak harus diwudhuan lagi, sedangkan orang yang hidupnya batal wudhunya

Sekarang kalau suami istri kira-kira bersentuhan , kemudian mati lampu, sambil suaminya punya wudhu, si suami itu was was apakah bersentuhannya itu ke rambut atau ke kulit, maka tidak batal wudhunya.

Sama halnya ketika misalkan ada perkumpulan/hajat, lalu kita lewat kesitu sambil punya wudhu, lalu timbulah was was apakah kita bersentuhan dengan lelaki atau perempuan, maka hal itu tidak batal wudhunya. Atau juga was was nya itu apakah bersentuhan dengan mahram atau ajnabi, maka itu tidak batal wudhunya. Sekarang mahramnya itu dari nasab atau sesusu atau dari jihat mertua.

4. Memegang kubul atau memegang bundaannya dubur pake tangan atau tapak jari tangan.

Tegasnya lubang vagina perempuan dan zakar pria, walalupun yang dipegangnya itu punya orang lain, apalagi punya sendiri, itu juga batal wudhu. Serta walaupun farji nya itu sudah terpotong (dubur atau kubul), atau farji’nya orang yang meninggal, ketika dipegang maka tetap batal wudhu.

Apabila yang dipegang farjinya anak kecil, juga batal wudhunya. Kalau kita memegang bagian yang terpotong dari kemaluan laki-laki atau perempuan, itu tidak membatalkan wudhu. Dubur yang membatalkan wudhu ketika dipegang adalah tempat nutupnya lubang. Tidak membatalkan wudhu diatasnya dan dibawahnya dubur.
Yang disebut farji membatalkan wudhu adalah tempat bertemunya dua bibir vagina. Yang disebut zakar yaitu dari mulai batang sampai ke ujungnya.

Tidak batal memegang bulu kemaluan, tetapi disunatkan wudhu. Telapak tangan itu yaitu telapak tangan kanan dan kiri, kemudian dirapatkas sambil agak ditekan, nah yang rapatnya itu dihitung telapak tangan beserta jari-jarinya. Seperti telah dijelaskan diatas, memegang kubul dan dubur adalah batal. Serta kalau yang dipegangnya itu kubul dan dubur kuda, maka itu tidak batal, karena yang batal itu adalah kubul dan dubur manusia.

Fardhu Wudhu, Sunat Wudhu, Makruh Wudhu

Fardhu Wudhu, sunah wudhu dan makruhnya wudhu akan dijelaskan dibawah ini :

Fardhu wudhu ada 6 :

1. Niat, mempunyai 2 makna. Menurut lughot yaitu kadar-kadar bermaksud serta mutlak mau dibarengin dengan pekerjaan ataupun tidak. Makna niat menurut istilah syara’ yaitu bermaksud suatu perkara sambil dibarengin dengan mengerjakannya. Tempatnya niat di dalam hati, mengucapkannya adalah niat, waktu niat adalah ketika mulai pertama kali membasuh juz di wajah. Yang menempel di niat ada 7 :

  • Hakikatnya adalah bermaksud suatu perkara sambil dibarengi dengan mengerjakannya.
  • Hukumnya niat adalah wajib.
  • Tempatnya niat di dalam hati.
  • Waktu niat adalah ketika membasuh satu juz di wajah.
  • Perilaku niat adalah tergantung apa yang diniatkannya.
  • Syaratnya niat yaitu ada 5 : islam, harus ngerti, tahu apa yang diniatannya, tahu apa yang membatalkan niat, niatnya jangan ditempelkan terhadap yang lain.
  • Maksudnya adalah untuk membedakan antara ibadah dan bukan ibadah.

2. Membasuh muka, yang dimaksud muka disini adalah diatasnya dari mulai batas tumbuhnya rambut kepala, bawahnya ujung dagu atau ujung tempat tumbuhnya janggut dari depan sampai samping dan kanan kiri. Itu termasuk wajah/muka yang wajib dibasuhnya.

Sedangkan hal-hal yang tumbuh di muka seperti daging jadi atau kesampingnya itu sampai ke dalam cuping telinga wajib dibasuh bukan diusap. Kalau jenggot dan cambang apabila sekira-kiranya tidak terlihat di sela-selanya bulu oleh orang yang berhadap-hadapan itu wajib dibasuh dari luarnya saja. Tegasnya tidak apa-apa air tidak sampai kedalamnya juga, tetapi sunat diusap-usap pakai jari yang sudah dibasahi. Sedangkan apabila ada perempuan yang berjanggut dan bercambang maka wajib dibersihkan (dibasuh) luar dan dalamnya walupun tebal. Kenapa seperti itu karena jarang ada perempuan yang berjanggut dan bercambang, malah apabila ada yang demikian sunat untuk dicukur sampai bersih.

Hukumnya mencukur janggut di laki-laki adalah makruh, tidak haram. Tetapi apabila laki-laki di keronggkongannya ada bulu, ketika mencukur nya ada 2 pendapat (ikhtilaf), sebagian menghukumi wenang dan sebagian lagi makruh. Mencukur kumis atau menggunting hukumnya makruh, tetapi sunat disetik sebagian sehingga terlihat merah bibirnya.

3. Membasuh tangan dua-duanya dan kedua sikunya, kalau sikunya tidak terbasuh maka tidak jadi wudhunya. Apabila tidak ada sikunya itu sekedarnya saja, terhadap siku yang lainnya sambil sama dengan adegan dianya. Tetapi apabila ada siku yang diitung nya itu sikunya saja. Atau apabila ada orang yang sikunya hampir kena dengan pergelangannya, itu membasuh lengannya sampai dengan sikunya saja.

Kalau orang yang sikunya hampir kena dengan pundak itu juga membasuh lengannya sampai dengan sikunya, jangan di ukur kan dengan siku orang lain, karena dia juga mempunyai siku. Serta wajib juga membasuh apa-apa yang ada di lengan bulu-bulu daging jadi atau jari dan sejenisnya. Apabila ada orang yang buntung sampai tengahnya hasta, cara membasuh sekedarnya saja, tidak harus dilebihin sampai peupeuteuyan. Tapi kalau buntungnya sampai sikunya banget, maka wajib dibasuhnya ujung tulang peupeuteuyan. Kalau buntungnya sampai diatas siku, maka tidak wajib apa-apa, tetapi sunat membasuh sekedarnya peupeuteuyan saja.

4. Mengusap satu perkara di kepalanya (apakah dalamnya kulit kepala atau rambutnya). Mengusap kepala sedikit atau ngusap rambut selembar atau kulit kepala sebesar rambut selembar, atau mengusap yang ada di batas kepala walaupun selembar rambut atau lebih, tetapi syarat rambutnya jangan keluar dari batas kepala. Jadi apabila ngusap nya ujung rambut yang keluar dari batas kepala itu hukumnya tidak sah. Yang utamanya adalah membasuh seluruh kepalanya.

Cara-caranya mengusap kepala semuanya adalah seperti ini, basahi semua telapak tangan dan jari-jari, pertamanya jempol kiri dan kanan, tekan ke pelipis, lalu ujung telunjuk tempelkan yang kiri dan kanan lalu tekankan ke pertamanya jadi rambut kepala. Kemudian semua jari dimajukan ke belakang sampai batas kepala belakang, kalau kepalanya tidak ada rambut atau ada tapi pendek tidak melipat, itu cukup sebalik kebelakang saja. Tetapi apabila ada rambut yang berlipat, itu balikin lagi ke depan sampai ke yang awal tadi. Nah pekerjaan itu baru dihitung sekali, apabila mau 3 kali tinggal tambah 2 kali lagi. Apabila orang yang rambutnya panjang, sampai muka, tidak sah diusap sebelah mukanya. Atau tergerainya sampai belakang, diusap sebelah punggung itu tidak sah.

5. Membasuh kaki dua-duanya sampai kedua mata kakinya. Apabila orang yang tidak ada mata kaki, maka diukur kan saja dengan mata kaki orang lain yang sama postur nya. Kalau orang buntung kakinya sampai dibawah mata kaki, maka sekedarnya kaki yang ada dan mata kakinya wajib dibasuh. Kalau buntungnya diatas mata kaki, itu tidak diwajibkan apa-apa, tetapi sunat membasuh betisnya sebagian.

Apabila dikakinya ada duri, terus duri tersebut menonjol sebagian, maka wajib orang tersebut mencabut duri, dan wajib membasuh bekas duri tersebut. Kemudian apabila dikakinya atau anggota tubuh/wudhu yang lain ada bisul, maka tidak wajib membasuh dalamnya bisul tersebut selagi pecah, tetapi apabila terbuka maka wajib membasuh bisul tersebut sampai kedalamnya.

6. Tertib, mendahulukan yang awal dan mengakhirkan yang akhir. Tegasnya mendahulukan membasuh muka dan mengaskhirkan membasuh tangan, mendahulukan membasuh tangan daripada mengusap kepala, dan seterusnya.

Jadi kesimpulannya fardhu wudhu yang diatas terbagi menjadi 2 bagian :
a. Yang ada didalam hadist yaitu niat dan tertib (hasil penyelidikan sahabat bahwa Rasulullah ketika berwudhu sikapnya terus seperti itu).
b. Yang ada di Al Quran yaitu membasuh muka, membasuh tangan dua-duanya sampai siku, membasuh kepala sedikit, membasuh kaki dua-duanya sampai mata kaki.

Sunat wudhu ada banyak sekali, tetapi diantaranya adalah :

a. Membaca Bismillaahirrahmaanirrahiim
b. Nyusur
c. Membasuh dua tangan
d. Berkumur
e. Memasukan air ke hidung.
f. Membasuh kepala semuanya.
g. Membasuh seluruh telinga
h. Mendahulukan sebelah kanan.
i. Tuluy-tuluy (terus menerus).
j. Menggosok anggota wudhu.
k. Tiga kali-tiga kali
l. Membaca do’a setelah berwudhu.

Makruhnya wudhu ada 3, yaitu :

• Berlebihan dalam menggunakan air.
• Melebihi atau mengurangi.
• Mendahulukan sebelah kiri daripada kanan.

Tetapi menurut yang lain makruhnya wudhu itu banyak, diantaranya : minta tolong ke orang lain ketika membasuh (di wudhu in oleh orang lain) ketika tidak ada uzur atau madharat, dan berlebihan berkumur atau memasukan air ke hidung bagi orang yang berpuasa. Kenapa wudhu diwajibkan menurut Qoul yang mu’tamid itu adalah hal yang masuk akal sebab-sebabya, karena Sholat itu adalah munajat kepada Allah. Maka diperlukan bagi orang yang akan munajat harus bersih. Kalau kepala cukup dengan diusap, karena gholibnya (biasanya) kepala itu ditutupin, maka cukup sekedarnya saja.

Sedangkan anggota badan yang lain (4) itu adalah tempat berbuat dosa, maka membersihkannya agak berat yaitu disiram (dibersihkan). Atau karena dahulu Nabi Adam as, ketika memakan buah Kholdi berangkat ke pohon Kholdi dengan kakinya, terus memetik buah dengan tangannya, lalu memakan buah dengan lidahnya, serta kena kepalanya dengan daun-daunnya pohon tersebut.

Fardhu, rukun dan wajibnya selain bab naik haji itu sama. Yaitu suatu barang yang dibutuhkan oleh suatu perkara , yang mana barang tersebut merupakan jiwa raganya perkara, seperti membasuh wajah itu dibutuhkan oleh sah nya wudhu, serta membasuh muka juga merupakan jiwa raganya wudhu. (cabe dibutuhkan oleh sah nya sambel, sambil cabe tersebut jadi temannya sambal tersebut).

Beda halnya dengan syarat, kalau syarat yaitu suatu barang yang dibutuhkan dalam suatu perkara, tetapi barang itu tidak menjadi jiwa raganya perkara tersebut. Seperti wudhu dibutuhkan oleh sah nya sholat, tetapi wudhu itu tidak menjadi jiwa raganya sholat. (ulekan dibutuhkan ketika akan membuat sambal, tetapi ulekan tersebut bukan sambal).

Apabila di bab haji masalah rukun dan fardhu itu sama, yang apabila dikerjakan sah dan tidak dikerjakan tidak sah hajinya, contohnya thowaf ifadhoh. Kalau wajib yaitu kalau dikerjakan sah hajinya dan kalau tidak dikerjakan sah juga hajinya, tetapi wajib dam (denda).