Soal Essay dan Jawaban Meraih Berkah Dengan Mawaris

Selamat berjumpa kembali kawan-kawan, berikut ini akan disajikan 10 contoh soal essay dan jawaban tentang meraih berkah dengan mawaris. Mudah-mudahan saja 10 contoh soal essay dan jawaban tentang meraih berkah dengan mawaris ini bermanfaat banyak untuk kita semua.

Soal No. 1). Sebutkan Syarat-syarat mendapatkan warisan!

Jawaban:
a. Tidak adanya salah satu penghalang dari penghalang- penghalang untuk mendapatkan warisan.
b. Kematian orang yang diwarisi, walaupun kematian tersebut berdasarkan vonis pengadilan.
c. Ahli waris hidup pada saat orang yang memberi warisan meninggal dunia.

Soal No. 2). Sebutkan sabab-sabab menerima warisan!

Jawaban:
a. Nasab (Keturunan)
b. Pernikahan
c. Wala

Soal No. 3). Apa yang dimaksud ahli waris?

Jawaban:
Ahli waris adalah orang-orang yang berhak menerima harta warisan baik laki-laki maupun perempuan. Selain beberapa ahli waris yang haknya untuk mendapatkan warisan tidak terhalang.

Soal No. 4). Sebutkan tiga kewajiban yang harus dipenuhi ahli waris sebelum harta warisan dibagikan!

Jawaban:
a. Diambil untuk biaya perawatan mayat sewaktu sakit. Misalnya biaya pengobatan, biaya rumah sakit, dan sebagainya.
b. Diambil untuk biaya pengurusan mayat. Misalnya kain kafan, papan, dan lain-lainnya.
c. Diambil untuk zakat, sekiranya harta tersebut belum dizakati.
d. Diambil untuk membayar utang, nadzar, sewa, dan lain-lain.
e. Diambil untuk wasiat apabila ada, dengan catatan tidak lebih dari 1/3 dari harta.

Soal No. 5). Sebutkan sabab-sabab seseorang tidak mendapatkan harta warisan?

Jawaban:
a. Kekafiran
b. Pembunuh
c. Perbudakan
d. Perzinaan
e. Li’an

Soal No. 6). Tuliskan Manfaat memepelajari Hukum Mawaris

Jawaban:
a. Mengetahui kepada siapa dan seberapa besar bagian yang diterima oleh ahli waris tersebut.
b. Mengamalkan ayat-ayat suci dalam Al Quran yang membahas tentang pembagian harta warisan.
c. Menyelamatkan harta orang yang meninggal dari pengambil alihan oleh orang yang tidak bertanggungjawab
d. Mengetahui syarat dan rukun pembagian warisan.
e. Mengetahui sebab-sebab pewarisan.

Soal No. 7). Apakah yang anda ketahui mengenai al-furud al-muqaddarah?

Jawaban:
Kata al-furud adalah bentuk jamak dari kata fard artinya bagian (ketentuan). Al-Muqaddarah artinya ditentukan. Jadi al-furud al-muqaddarah adalah bagian-bagian yang telah ditentukan oleh syara’ bagi ahli waris tertentu dalam pembagian harta peninggalan. Bagian itulah yang akan diterima ahli waris menurut jauh dekatnya hubungan kekerabatan.

Soal No. 8). Jelaskan yang dimaksud dengan warisan menurut Istilah!

Jawaban:
Harta Warisan yang dalam istilahfara’id dinamakan tirkah (peninggalan) adalah sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal, baik berupa uang atau materi lainyayang dibenarkan oleh syariat Islam untuk diwariskan kepada ahli warisnya.

Soal No. 9). Apa yang dimaksud dengan Zawil furud?

Jawaban:
Pengertian Zawil Furud adalah ahli waris yang dapat bagian tertentu sebagaimana yang ditentukan dalam al-Quran maupun sunnah. Furud al-Muqaddarah, yakni bagian-bagian tertentu yang diterima oleh ahli waris, yakni 2/3, 1/3, 1/6, ½, ¼, dan 1/8.

Soal No. 10). Jelaskan yang dimaksud dengan asabah!

Jawaban:
Ahli waris Asabah adalah perolehan bagian dari harta warisan yang tidak ditetapkan bagiannya dalam furud yang enam (1/2, 1/4, 1/3, 2/3, 1/6, 1/8)

Pengertian dan Contoh Ashabah

Orang-orang yang mendapat ‘ashabah ialah anak laki-laki, lalu anak lelaki dari anak laki-laki hingga terus ke bawah. Kemudian ayah dan kakek hingga terus ke atas, lalu saudara laki-laki seibu seayah dan saudara laki-laki seayah, begitu pula anak keduanya. Lalu paman yang seibu seayah dan paman yang seayah, begitu pula anak keduanya. Kemudian paman ayah dan anak-anaknya, lalu paman kakek dan anak-anaknya, demikianlah seterusnya.

Ashabah karena hak wala

Setelah ‘ashabah karena nasab menyusul ‘ashabah karena hak wala, yaitu orang yang memerdekakan, baik laki-laki ataupun perempuan. Setelah orang yang memerdekakan menyusul para ‘ashabah laki-lakinya, sedangkan yang perempuannya tidak berhak mewaris. Dalam hal ini kedudukan kakek diakhirkan daripada saudara laki-laki dan anak laki-lakinya.

Sesudah itu baru orang yang berjasa kepada orang yang memerdekakannya karena dia telah memerdekakannya, kemudian para ‘ashabah-nya.

Membagi harta berdasarkan bagian seorang lelaki

Seandainya berkumpul anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan atau saudara-saudara lelaki dan saudara-saudara perempuan, maka harta peninggalan yang dibagikan kepada mereka berdasarkan ketentuan bagian seorang lelaki sama dengan bagian dua orang perempuan.

Ahli waris laki-laki memperoleh keutamaan tersebut (yakni mendapat bagian sebanyak bagian dua orang perempuan) karena lelaki mempunyai keistimewaan tersendiri, yaitu berkewajiban melakukan hal-hal yang tidak wajib bagi wanita, misalnya jihad dan lain-lainnya.

Anak lelaki dari anak laki-laki sama dengan anak laki-laki dan saudara laki-laki seayah, sama dengan saudara laki-laki seibu seayah dalam kaitannya dengan hal yang telah disebutkan di atas (yakni bila bertemu dengan saudara perempuan, masing-masing memperoleh bagian semisal bagian dua orang saudara perempuan).

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Jelaskan Pembagian Waris Dalam Islam Sesuai Sunnah

Anak-anak perempuan dari anak lelaki terhalang hak warisnya oleh seorang anak laki-laki atau dua orang anak perempuan si mayat atau lebih dari dua orang, jika ia tidak di ‘ashabah-kan oleh saudara laki-laki atau oleh anak lelaki paman. Jika ia di-‘ashabah-kan olehnya, maka ia mendapat sisa bagian bersamanya setelah dua anak perempuan mengambil dua pertiganya.

Yang menghijab saudara-saudara perempuan seayah

Saudara-saudara perempuan seayah terhalang hak warisnya oleh keberadaan dua orang saudara perempuan seibu seayah atau lebih dari dua orang. Kecuali jika mereka dibarengi oleh saudara lelaki seayah, maka saudara lelaki seayah mengikutkan mereka ke dalam ‘ashabah-nya.

Saudara-saudara perempuan seayah terhalang pula hak warisnya oleh keberadaan seorang saudara perempuan seibu seayah yang dibarengi dengan seorang anak perempuan atau seorang anak perempuan dari anak laki-laki si mayat.

Kedudukan anak lelaki dari anak laki-laki sama dengan anak lelaki

Perlu diketahui, kedudukan anak lelaki dari anak laki-laki sama dengan anak lelaki, hanya saja dia tidak memperoleh dua bagian dari anak perempuan jika dibarengi olehnya.

Kedudukan nenek sama dengan ibu

Kedudukan nenek sama dengan ibu, hanya saja nenek tidak mendapat sepertiga dan tidak pula sepertiga dari sisa (seperti dalam masalah gharrawain), melainka bagiannya hanya seperenam saja selamanya.

Kedudukan kakek sama dengan ayah

Kakek sama kedudukannya dengan ayah, hanya saja kakek tidak dapat menghalangi saudara-saudara lelaki seibu seayah atau seayah saja.

Kedudukan anak perempuan dari anak laki-laki sama dengan anak perempuan

Kedudukan anak perempuan dari anak laki-laki sama dengan anak perempuan, hanya saja anak perempuan dari anak laki-laki terhalang hak warisnya oleh anak laki-laki.

Kedudukan saudara laki-laki seayah sama dengan saudara laki-laki seibu seayah

Kedudukan saudara laki-laki seayah sama dengan saudara laki-laki seibu seayah. Hanya saja bila dia bersama dengan saudara perempuan seibu seayah, maka ia tidak mendapat bagian dua kali lipatnya.

Ahli waris laki-laki berhak atas sisa harta setelah dibagi

Harta peninggalan yang lebih setelah diambil oleh ahli waris yang mempunyai bagian-bagian tertentu, atau seluruh harta peninggalan jika tidak ada ahli waris yang mempunyai bagian tertentu, adalah untuk ‘ashabah (ahli waris laki-laki). Tetapi hak ‘ashabah menjadi gugur bila harta peninggalan telah habis terbagikan oleh ahli waris yang mempunyai bagian-bagian tertentu.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Aturan Waris Dalam Islam

Saudara laki-laki seibu dihalangi hak warisnya oleh ayah dan juga oleh ayahnya hingga ke atas, juga oleh anak keturunan si mayat yang mewaris, baik laki-laki maupun perempuan hingga ke bawah.

Yang menghijab anak lelaki dari saudara laki-laki seibu seayah

Anak lelaki dari saudara laki-laki yang seibu seayah dihalangi hak warisnya oleh ayah, kakek, anak laki-laki, dan anak lelaki dari anak laki-laki hingga terus ke bawah; dihalangi pula oleh saudara lelaki yang seibu seayah atau seayah saja.

Yang menghijab anak laki-laki dari saudara lelaki

Anak laki-laki dari saudara lelaki seayah dihalangi hak warisnya oleh mereka yang enam orang tersebut, juga oleh anak lelaki dari saudara laki-laki yang seibu seayah karena dia lebih kuat nasabnya dengan si mayat.

Yang menghijab paman seibu seayah

Paman (yakni saudara laki-laki ayah) yang seibu seayah dihalangi hak warisnya oleh mereka yang tujuh orang itu dan juga oleh anak lelaki dari saudara laki-laki yang seayah.

Yang menghijab paman seayah

Paman seayah dihalangi hak warisnya oleh mereka yang 8 orang di atas dan juga oleh paman seibu seayah.

Yang menhijab anak lelaki dari paman seibu seayah

Anak lelaki dari paman yang seibu seayah dihalangi hak warisnya oleh mereka yang 9 orang itu dan juga oleh paman seayah.

Yang menghijab anak lelaki dari paman seayah

Anak lelaki dari paman yang seayah (saudara sepupu si mayat) dihalangi hak warisnya oleh mereka yang 10 orang itu dan juga oleh anak lelaki dari paman seibu seayah.

Yang menghijab anak lelaki dari anak laki-laki saudara laki-laki seibu seayah

Anak lelaki dari anak laki-laki saudara laki-laki seibu seayah dihalangi hak warisnya oleh anak laki-laki dari saudara lelaki yang seayah karena yang kedua ini lebih dekat kepada si mayat daripada yang pertama.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Hijab Atau Penghalang Hal Waris Dalam Islam

Yang menghijab anak laki-laki dari anak laki-laki

Anak laki-laki dari anak lelaki dihijab (dihalangi) hak warisnya oleh anak laki-laki, atau cucu lelaki dari anak laki-laki dihalangi oleh orang yang lebih dekat nasabnya kepada si mayat (yakni oleh anak laki-laki dari anak lelaki). Ayahnya ayah dihalangi hak mewarisnya oleh ayah.

Yang menghijab ibunya ibu (nenek)

Ibunya ibu dihalangi hak warisnya oleh ibu, sebab ibunya ibu berkaitan nasab dengan si mayat melalui ibu (dengan kata lain, bila ibu mayat masih ada, maka ibunya ibu tidak mewaris). Ibunya ayah dihalangi hak warisnya oleh ayah, sebab ibunya ayah berkaitan nasab dengan si mayat melalui ayah, dan ibunya ayah dihalangi pula oleh keberadaan ibunya mayat, menurut kesepakatan semua ulama.

Yang menghijab saudara lelaki seibu dan seayah

Saudara lelaki seibu seayah dihalangi hak warisnya oleh keberadaan ayah atau anak laki-laki dari anak laki-laki si mayat hingga terus ke bawah (yakni cicit dan seterusnya).

Yang menghijab saudara laki-laki seayah

Saudara laki-laki seayah dihalangi hak warisnya oleh kedua orang tersebut, yakni oleh ayah atau anak laki-laki atau oleh anak lelaki dari anak laki-laki si mayat hingga terus ke bawah. Demikian pula saudara lelaki se ayah, dihalangi hak warisnya oleh keberadaan saudara laki-laki seibu seayah, serta terhalang pula oleh keberadaan saudara perempuan seibu seayah yang dibarengi dengan keberadaan anak perempuan atau anak perempuan dari anak laki-laki.

Dikatakan demikian, karena saudara seibu seayah bila bertemu dengan anak perempuan atau anak perempuan dari anak laki-laki si mayat, dia mendapat ‘ashabah ma’al ghair, sehingga dalam masalah terebut terjadilah dua ‘ashabah. Hal ini tidak diperbolehkan kecuali salah satunya harus digugurkan, dan yang digugurkan adalah pihak yang nasabnya terjauh dari si mayat, sedangkan yang dimenangkan adalah yang dekat nasabnya dengan si mayat.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani