Inilah Kemulyaan (Karomah) Yang Diberikan Kepada Para Wali

Ilaahii kaifa yurjaa siwaka wa anta maa qatha’tal ihsaani wakaifa yuthlabu min ghairika wa anta maa badalta ‘aadatal imtinaani.

Ya Allah, bagaimana diharapkan selain Engkau, sedangkan Engkau tidak pernah memutuskan dari membuat kebaikan. Dan kenapa dicari selain Engkau, padahal sebenar-benarnya Engkau tidak pernah merubah kebiasaan memberi. Buat apa aku mengharap-harap kepada selain Engkau, karena Engkau tidak menghentikan membuat kebaikan. Dan buat apa mencari keuntungan dari selain Engkau, kan Engkau terus-terusan memberi, tidak di rubah-rubah.

Allah memberikan kepada para kekasih-Nya rasa manisnya ketenteraman, maksudnya nikmatnya mendapatkan ketenteraman dari Allah, lalu menghadap kepada-Nya, sambil menyatakan kehinaan diri.

Allah sudah memakaikan pakaian kepada para kekasih-Nya dengan pakaian keagungan.

Manusia harus berdoa kepada Allah swt, dzat yang memberi rasa nikmatnya tenteram kepada para wali-Nya. Yaitu ketika para kekasih-Nya (wali) tidak diakui oleh sesama manusia, ketika keluarga dan tetangga tidak mendukung dan tidak bisa dimintai tolong. Kemudian mengungsi kepada Allah, dan disambut oleh Allah. Nah, disini para kekasih Allah tersebut mendapatkan rasa manisnya ketenteraman dari Allah, terus menghadap Allah dengan menyatakan diri yang rendah dan memerlukan pertolongan Allah.

Allah suka memberi pangkat kemuliaan kepada para wali, maka kemudian mereka hidup dengan memiliki keagungan dari Allah. Maksudnya adalah setelah wali Allah ma’rifat dan sampai menjadi kekasih-Nya, terkadang oleh Allah dikembalikan lagi agar bersatu (berbaur) dengan manusia. Maka wali tersebut diberikan keagungan, sehingga dengan diagungkan oleh Allah, manusia yang lainnya memulyakannya dan mencintainya. Dan dikembalikannya oleh Allah adalah agar ada manfaatnya bagi manusia yang lainnya (‘abdinya Allah).

Mengapa Wali Allah Tidak Bisa Diketahui Oleh Manusia Biasa

Para wali Allah adalah orang yang mendapatkan keagungan dari Allah, yang diberikan sifat-sifat kemulyaan oleh Allah. Para wali tersebut tidak bisa diketahui kewaliannya, sebab Allah tidak membuat dalil yang menyatakan bahwa orang tersebut adalah wali Allah. Tetapi kadang wali-wali itu bisa diketahui kewaliannya dari ciri-cirinya, seperti adanya karomah. Dan orang-orang tidak bisa mengetahui kewalian seseorang kecuali bagi orang yang sudah dikehendaki oleh Allah (yang sudah wushul ke Allah). Oleh sebab itu sering dikatakan oleh para ulama: “laa ya’lamul waliyya illal waliyyu”.

Allah swt menutupi asrar nya para wali, sehingga tidak ada yang tahu bahwa dia itu wali, sebab wali-wali itu adalah orang-orang yang diberi kemulyaan oleh Allah. Maka seperti dzat Allah, disebabkan keagungan-Nya dan kemulyaan-Nya, itu tidak bisa dilihat oleh manusia. Begitu juga dengan walinya Allah, yang merupakan pangkat keagungan dari Allah, nah hal ini juga ditutupi oleh Allah. Sehingga tidak bisa dilihat dan tidak diketahui oleh umumnya manusia.

Paling juga orang yang menyebutkan tentang kewalian seseorang, dia mengetahuinya dar ciri-cirinya kewalian. Sehingga ada ulama yang berkata bahwa mengetahui wali itu lebih sulit daripada mengetahui Allah. Sebab kalau mengetahui Allah bisa diketahui dari sifat kesempurnaan-Nya dan keagungan-Nya, yaitu ada ciptaan-Nya. Dengan adanya ciptaan Allah bisa mengetahui akan adanya Allah.

Sedangkan walinya Allah yang kehidupannya seperti manusia biasa, kewaliannya sulit diketahui. Sehingga dikatakan oleh Abu Yazid ra, walinya Allah itu adalah seperti orang yang sedang menjadi pengantin, tidak akan ada orang yang mengetahui apa yang terjadi di kamar kecuali pengantin tersebut (mahramnya),  maksudnya tidak ada yang mengetahui pengantin perempuan kecuali suaminya. Dan tidak ada yang bisa melihat pengantin laki-laki kecuali istrinya. Begitu juga dengan wali Allah, tidak akan ada yang melihat kewaliannya kecuali oleh para wali lagi.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus lima puluh tiga)

Allah Sering Menutupi Keistimewaan Yang Ada Di Para Wali

Maha bersih dzat Allah yang sering menutupi rahasianya keistimewaan ‘abdi-Nya, yang dicintai dengan mendhohirkan sifat kemanusiaan, dan Allah sering mendhohirkan terhadap sifat keagungan-Nya dalam keadaan abdi-Nya tersebut mendhohirkan sifat ke’abdiannya.

Penjelasan : Sebenar-benarnya dari sebagiannya welas asihnya Allah adalah sering menutupi keistimewaan yang diberikan kepada para wali, yaitu sering menutupinya Allah terhadap cahaya yang dipancarkan oleh Allah dalam hatinya kekasih Allah, yang sering mendekatkan diri ke Allah, setelah membersihkan hatinya dari berbagai macam kotoran dan dosa. Sehingga tenggelam dalam lautan musahadah yang dicintainya, dirinya tidak melihat ada daya dan upaya didirinya melainkan atas kehendak Allah.

Begitu juga ditimpakan didalam hatinya perkara yang diliputi dengan cahaya, yaitu macam-macam sifat keistimewaan yang luhur, sifat keagungan dan kekuatan, kemulyaan, dan kekuasaan yang sempurna. Nah sifat-sifat ini oleh Allah swt ditutupin, yaitu dengan mendhohirkan sifat-sifat ke’abdian, seperti sifat fakirnya dan sifat lemahnya. Serta tidak ada kekuasaannya dan dengan macam-macam sifat yang sering lazim di manusia, seperti makan, minum, nikah dan tidur.

Kenapa keistimewaan ini sering ditutupin oleh Allah swt, sebab bahayanya besar, dan keistimewaan ini sering disamakan dengan permata yang mahal, dan simpanan barang antik. Maka hal tersebut seharusnya disembunyikan, jangan diperlihatkan.

Menurut Ibnu Abbas al marisi, apabila dibukakan cahaya wali, maka akan beribadah manusia kepada wali tersebut.

Dengan ditutupinya keistimewaan yang ada di para wali, itu termasuk kebaikan Allah terhadap wali. Tapi terkadang keistimewaan ini didhohirkan oleh Allah kepada para wali, sehingga mendatangkan dari wali tersebut terhadap amrun khowariq lil’adat yang jadi karomah, tetapi hal ini tidak langgeng, karena oleh Allah dicabut lagi, sehingga wali tersebut biasa lagi (tertutup).

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus lima)