7 Wasiat Para Wali Abdal

Abdal ialah jamak bagi kalimah badal atau bidl, juga disebut badil yang dijamakkan dengan kata budala’. Yaitu suatu kumpulan/golongan dari kalangan para wali Allah SWT, apabila salah seorang daripada mereka meninggal dunia, maka Allah akan menggantikan tempatnya dengan seorang wali yang lain.

Mereka termasuk para auliya yang hidup di bumi. Hal ini sebagimana hadits nabi yang diriwayatkan oleh al-hakim dalam kitabnya al-kuna, Rasulullah saw bersabda: “Abdal termasuk para Auliya dan tidak ada yang membenci Auliya kecuali orang munafik”.

Menurut Ibrahim bin Adham bahwa ada beberapa orang tamu singgah ke tempatnya, beliau mengetahui bahwa mereka adalah para wali abdal. Maka Ibrahim kemudian berkata, “Berilah aku wasiat dengan sebuah wasiat sehingga aku dapat takut kepada Allah seperti takutmu.”

Mereka kemudian berkata, “Kami wasiatkan kepadamu tujuh macam hal, yaitu:

  1. Orang yang banyak bicara, janganlah engkau harapkan kewaspadaan hatinya.
  2. Orang yang banyak makannya, janganlah engkau harapkan hikmahnya.
  3. Orang yang banyak bergaul dengan manusia, janganlah engkau harapkan kemanisan ibadahnya.
  4. Orang yang mencintai dunia, jangan engkau harapkan kebaikan akhir hayatnya.
  5. Orang yang bodoh, janganlah engkau harapkan hatinya hidup.
  6. Orang yang memilih berkawan dengan orang yang berbuat dhalim, maka janganlah engkau harapkan lurus agamanya.
  7. Orang yang memberi ridha manusia, maka janganlah engkau harapkan dia mendapatkan ridha Allah swt. (Hadits Arba’in)

Diriwayatkan bahwa keluarga Nabi Dawud selalu mengerjakan shalat malam.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

 

Kelebihan Yang Diberikan Allah Kepada Para Wali

Antalladzii asyraqtal anwara fii quluubi au liyaaa ika hattaa ‘arafuuka wawahhiduuka wa antalladzii azaltal aghyaara min quluubi ahbaabika hattaa laa yuhibbuu siwaka walam yaljiuu ilaa ghairika antal mu’nisu lahum au hasytahum al ‘awalihim.

Allah adalah yang dzat yang menerangi cahaya-cahaya di hatinya kekasih-kekasih-Nya. Sehingga pada berma’rifat kepada-Nya dan bertauhid kepada-Nya. Dan sebenar-benarnya Allah adalah dzat yang sudah menghilangkan macam-macam aghyar (gambaran keindahan alam) di dalam hatinya kekasih-Nya. Sehingga tidak mencintai kekasih Allah ini kepada selain Allah, dan tidak mengungsi kepada selain Allah. Allah lah yang memberikan ketenteraman hati kepada kekasih-Nya, sehingga keindahan alam jauh dari hatinya kekasih-Nya. Allah adalah dzat yang menunjukkan kepada kekasih-Nya, sehingga dhahir (nyata) kepada kekasih-Nya ciri-cirinya kebenaran.

Diatas diterangkan tentang sifatnya para wali, yang hatinya sudah dipenuhu dengan cahaya-cahaya. Sehingga bisa ma’rifat kepada Allah swt, dan hatinya dibersihkan dari keindahan alam, dan tidak menghalangi rasa cintanya kepada Allah.

Wali itu diberi ketenteraman hati oleh Allah, dengan rasa cintanya kepada Allah. Mereka juga diberi petunjuk sehingga bisa melihat ciri-cirinya kebenaran.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa para wali itu diberi kelebihan apabila dibandingkan dengan manusia yang lainnya. Mereka dalam hidupnya selalu lebih mengutamakan Allah dalam setiap hembusan nafas dan perbuatannya. Sehingga tidak ada waktu bagi mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Keutamaan Para Wali dan Ucapan Yang Memberikan Dampak Yang Sempurna Terhadap Pendengar

Orang yang sudah mencapai taraf ilmu kema’rifatan, sehingga dirinya sudah diizinkan oleh gurunya, maka ucapannya beres dan bisa dimengerti.

Ilmu kema’rifatan terkadang bisa dikemukakan serta fashehat dan bilaghah oleh orang yang belum bisa sampai ilmunya dan belum mendapat izin gurunya. Tapi keadaan cahayanya suram, sehingga tidak terasa tapak (jejak) manisnya bahasa, dan tidak terlalu terasa enaknya omongan, sehingga tidak mendatangkan tapak (dampak) yang sempurna.

Berbeda sekali dengan ucapan yang muncul dari hukama’ yang sudah mendapatkan izin mengucapkannya (oleh gurunya atau langsung dari Allah), yaitu seperti yang datang kepada wali-walinya Allah, maka cahaya ucapannya sudah bersinar tembus ke dalam hati sami’in. Sehingga bahasa atau ucapan yang dikemukakan oleh hukama’ masuk ke dalam hati sami’in yang sudah bercahaya.

Alasan kenapa orang yang belum sampai ke taraf ma’rifat ucapannya tidak masuk ke dalam hatinya sami’in, adalah karena cahayanya masih suram. Para wali itu diberi keutamaan oleh Allah, sehingga mereka bisa mendatangkan ‘ibarat-‘ibarat kema’rifatan dan macam-macam ilmu hakikat dengan jelas.

Menurut Abu al ‘Abbas al mursyi bahwa para wali Allah itu sudah dipenuhin dengan macam-macam kema’rifatan, macam-macam ilmu, dan macam-macam hakikat dari Allah swt. Dimana-mana mereka mendatangkan ‘ibarat, maka ‘ibarat itu seolah-olah sudah mendapatkan izin dari Allah. Omongan yang mendapatkan izin dari Allah yaitu omongannya muncul dari isi hatinya serta terlihat keindahannya.

Sedangkan ucapan yang tidak mendapat izin dari Allah suram cahayanya. Sehingga bila ada satu omongan (ucapan) dalam kema’rifatan diucapkan oleh dua orang serta bahasanya (ucapannya) sama, maka orang yang sudah diizinkan oleh Allah pasti akan mendatangkan tapak (dampak) yang sempurna. Sedangkan orang yang tidak diizinkan oleh Allah tidak ada tapaknya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tujuh puluh delapan)

Mengapa Manusia Harus Istiqamah dan Karomah Yang Ada di Para Wali

Orang yang belum sempurna istiqamahnya terkadang oleh Allah diberi amrun khariqun lil’adat. Hal tersebut (amrun khariqun lil’adat) oleh para ahli tahqiq dan ahli ma’rifat tidak dianggap bangga, dan tidak dijadikan pokok tujuan.

Dalam karomah itu ada dua, yaitu:

  1. Karomah hissi, yaitu yang diartikan kharqun lil’adat. Seperti bisa berjalan diatas air, bisa terbang, atau berjalan cepat.
  2. Karomah haqiqi atau yang disebut karomah ma’nawi, yaitu istiqamahnya seorang ‘abdi terhadap Allah dalam dhohirnya (lahirnya) maupun batinnya. Yang kembalinya yaitu sempurnanya keimanan dan sempurna ittiba’ kepada Rasulullan saw. Karomah haqiqi juga diartikan istiqamah, maksudnya jujur dalam menjalankan agama serta menghasilkan keyakinan yang sempurna.

Maka siapa saja yang kedatangan amrun khariqun lil’adat sambil sudah bisa mendiami di karomah haqiqi, maka oleh kita wajib diagungkannya. Yaitu seperti karomah yang muncul dari para wali, nah mereka oleh kita wajib diagungkan. Sebab mereka merupakan orang-orang yang dihormati oleh Allah, sehingga diberi ciri dengan karomah.

Misalnya kewalian Syeikh Abduk Qadir Jailani yang sangat masyhur (terkenal), sebab beliau dhohir istiqamahnya atau karomah haqiqinya, dan karomah kharqul ‘adatnya.

Menurut ulama bahwa tidak dianggap sebagai sebuah urusan yang agung seseorang yang bisa melipat bumi (seperti dari Indonesia berangkat ke Mekah dengan waktu yang sangat singkat/sejam). Tapi yang dianggap agung iu adalah yang bisa melipat sifatnya diri, misalnya yang tadinya jauh dari Allah tiba-tiba jadi dekat kepada-Nya. Atau bisa melipat waktu dari sekarang ke akhirat, sehingga dalam zaman/waktu yang lama dari sekarang sudah bisa dirasakan, maka orang tersebut merasa sudah sampai di akhirat.

Siapa saja orang yang sudah merasa dekat ke akhirat, sehingga bisa beramal untuk kepentingan akhirat, maka dia sudah benar-benar sudah mendapatkan kebanggaan dan mendapatkan keagungan. Oleh sebab itu para ahli tahqiq dan ahli karomah, membanggakannya terhadap karomah haqiqi bukan karomah kharqul’adat. Sebab kalau karomah kharqul’adat itu terkadang orang yang belum bisa istiqamah juga memilikinya. Sehingga para ulama mengatakan bahwa sebenar-benarnya kita jangan tertipu dan jangan merasa aneh apabila ada kharqul’adat. Banyak sekali contohnya, seperti orang yang bisa berjalan diatas air, bisa terbang, ini tidak harus dibanggakan. karena burung juga bisa terbang, atau kodok bisa berjalan diatas air.

Tidak setiap orang yang mendapatkan keistimewaan itu sempurna keihklasannya, sehingga banyak orang yang tidak ikhlas tapi memiliki keanehan.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tujuh puluh dua)