Soal dan Jawaban Pengelolaan Wakaf

Hallo kawan-kawan, berikut ini adalah contoh soal tentang pengelolaan wakaf beserta jawabannya. Mudah-mudahan contoh soal tentang pengelolaan wakaf beserta jawabannya ini bermanfaat banyak.

Soal Pilihan Ganda Pengelolaan Wakaf Beserta Jawabannya

Soal No. 1). Islam sangat menganjurkan bagi orang-orang yang kaya agar mau mewariskan sebagian harta atau tanahnya guna kepentingan islam. Karena wakaf akan…
a. Meresahkan umat
b. Menyengsarakan umat
c. Memajukan dan menyejahterakan umat
d. Mempercepat penyembuhan
e. Menghilangkan kejenuhan

Jawaban: C

Soal No. 2). Sahabat nabi Muhammad Saw. Yang pertama kali melakukan wakaf adalah Khalifah…
a. Umar bin Khattab
b. Ali bin Abi Thalib
c. Usman bin Affan
d. Hasan bin Ali
e. Abu bakar Ash-Shiddiq

Jawaban: A

Soal No. 3). Mengingat manfaat yang begitu besar, maka wakaf merupakan ibadah yang….
a. Membuat pelakunya menjadi orang yang tersanjung di lingkungannya
b. Boleh dilakukan oleh siapa saja yang menghendaki
c. Sangat berat bagi orang pada umumnya
d. Dapat membawa efek yang sangat luas
e. Sangat mulia dan dianjurkan dalam Islam

Jawaban: E

Soal No. 4). Setelah calon wakaf melengkapi surat-surat yang diperlukan bagi perwakafan tanah, maka dia harus menyerahkan kepada…
a. Kantor Depag
b. Camat
C. PPAIW
d. AIW
e. BPD

Jawaban: C

Soal No. 5). Dalam mewakafkan harta, sebaiknya harta yang akan diwakafkan adalah harta yang….
a. Kamu simpan
b. Tidak kamu pakai
c. Kamu sayangi
d. Hendak engkau jual
e. Kamu benci

Jawaban: B

Soal No. 6). Berikut yang menjadi dasar diperbolehkannya memindahkan harta wakaf dalam syari’at Islam adalah….
a. fatwa dari ulama setempat
b. Kebajikansanaan pemerintah
c. Fleksibilitas redaksi kalimat ikrar dan terima wakaf
d. Kesamaan persepsi antara wakif dan mauquf’alaih
e. Alasan dan pertimbangan maslahat dan manfaat

Jawaban: E

Soal No. 7). Harta yang diwakafkan tidak boleh dijual atau dihibahkan, tetapi untuk …
a. Diberikan
b. Digadaikan
c. Dijaminkan
d. Diwariskan
e. Dimanfaatkan

Jawaban: D

Soal No. 8). Hukum berwakaf kepada hamba sahaya dan kepada anak yang masih dalam kandungan adalah…
a. Haram
b. Sah
c. Mubah
d. Tidak sah
e. Sunah

Jawaban: C

Soal No. 9). Tanah yang akan diwakafkan baik sebagaian atau seluruhnya harus merupakan tanah milik…
a. Orang lain
b. Tetangga
c. Saudara
d. Sendiri
e. Teman

Jawaban: D

Soal No. 10). Berikut yang bukan, merupakan syarat bagi orang yang mewakafkan adalah…
a. Balig
b. Gila
c. Dewasa
d. Pemilik sah harta benda wakaf
e. Berakal

Jawaban: B

Soal No. 11). Salah satu komponen yang harus ada dalam kegiatan wakaf adalah nazir yang memiliki pengertian…
a. Harta yang diwakafkan
b. Pembuat akta yang berisi ikrar serah terima harta wakaf
c. Orang yang mewakafkan harta bendanya
d. Pencatat dan pengawas harta wakaf
e. Pihak penerima dan pengelola harta wakaf

Jawaban: E

Soal No. 12). Orang atau orang-orang ataupun badan hukum yang mewakafkan tanah miliknya disebut….
a. Wakaf
b. Wakif
c. Ikrar
d. Nazir
e. Muzakir

Jawaban: B

Soal No. 13). Tata pendaftaran tanah mengenai perwakafan tanah milik diatur dalam….
a. Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 7 Tahun 1977
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 6 Tahun 1978
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 7 Tahun 1978
d. Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 6 Tahun 1976
e. Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 6 Tahun 1977

Jawaban: E

Soal No. 14). Wakaf adalah termasuk salah satu amal saleh yang dikategorikan sebagai ibadah….
a. Maliah
b. Rohaniah
c. Badaniah
d. Fikliah
e. Kauliah

Jawaban: A

Soal No. 15). Pemberian Sesuatu kepada seseorang di waktu hidupnya, dengan tidak mengharapkan balasan atau ikatan, baik lisan maupun tulisan disebut…
a. Hibah
b. Hadiah
c. Wakaf
d. Upah
e. Infak

Jawaban: C

Soal No. 16). Wakaf hakikatnya menyerahkan harta milik pribadi kepada pihak lain untuk dapat digunakan/dimanfaatkan….
a. Dengan imbalan jasa sesuai dengan penggunaanya
b. Secara cuma-cuma oleh masyarakat yang menggunakan
c. Bagi kepentingan umum/keagamaan
d. Bagi siapun yang dikehendaki
e. Oleh keluarga yang agak jauh

Jawaban: C

Soal No. 17). Islam sangat menganjurkan umatnya berwakaf untuk kepentingan … Umat Islam.
a. Kerukunan
b. Kesatuan
c. Kesengsaraan
d. Kesejahteraan
e. Persatuan

Jawaban: D

Soal No. 18). Dalam rangka mencapai tujuan dan fungsi wakaf, maka harta benda wakaf diperuntukkan untuk hal-hal dibawah ini, kecuali……
a. Peningkatan Pribadi bukan kelompok
b. Kemajuan dan peningkatan ekonomi umat
c. Sarana kegiatan ibadah
d. Sarana dan kegiatan pendidikan
e. Bantuan kepada fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, dan beasiswa

Jawaban: A

Soal No. 19). Salah satu rukun wakaf adalah…
a. Orang yang tidak wakaf
b. Tempat yang baik untuk ikrar
c. Orang yang berwakaf (wakif)
d. Barang yang digadaikan
e. Bukti ikrar

Jawaban: C

Soal No. 20). Dalil yang menganjurkan untuk berwakaf adalah…
a. Q.S Ali ‘Imran, 3:92
b. Q.S Ali ‘Imran, 3:93
c. Q.S Al-Baqarah, 2:91
d. Q.S Al-Baqarah, 2:93
e. Q.S Ali ‘Imran, 3:91

Jawaban: A

Soal Essay Pengelolaan Wakaf dan Jawabannya

Soal No. 21). Apa yang dimaksud dengan wakaf?

Jawaban:
Wakaf adalah Sedekah Jariyah, yakni menyedekahkan harta kita untuk kepentingan ummat. Harta Wakaf tidak boleh berkurang nilainya, tidak boleh dijual dan tidak boleh diwariskan. Karena wakaf pada hakikatnya adalah menyerahkan kepemilikan harta manusia menjadi milik Allah atas nama ummat.

Soal No. 22). Apa saja Syarat-syarat wakaf?

Jawaban:

  • orang yang berwakaf ini mestilah memiliki secara penuh harta itu, artinya dia merdeka untuk mewakafkan harta itu kepada sesiapa yang ia kehendaki.
  • dia mestilah orang yang berakal, tak sah wakaf orang bodoh, orang gila, atau orang yang sedang mabuk.
  • dia mestilah baligh.
  • dia mestilah orang yang mampu bertindak secara hukum (rasyid). Implikasinya orang bodoh, orang yang sedang muflis dan orang lemah ingatan tidak sah mewakafkan hartanya.

Soal No. 3). Apa yang dimaksud Nadzir?

Jawaban:
Nadzir berasal dari kata kerja bahasa Arab nadzara-yandzuru-nadzaran yang mempunyai arti, menjaga, memelihara, mengelola dan mengawasif. Adapun nadzir adalah isim fa’il dari kata nadzir yang kemudian dapat diartikan dalam bahasa Indonesia dengan pengawas (penjaga). Sedangkan nadzir wakaf atau biasa disebut nadzir adalah orang yang diberi tugas untuk mengelola wakaf.

Soal No. 4). Syarat-syarat menjadi Nadzir?

Jawaban:
Menurut undang-undang nomor 41 tahun 2004 pasal 10 ayat (1) tentang wakaf Syarat untuk nadzir perorangan adalah :

  • Warga negara Indonesia
  • Beragama Islam
  • Dewasa
  • Amanah
  • Mampu secara jasmani dan rohani
  • Tidak terhalang melakukan perbuatan hukum.

Soal No. 5). Sebutkan Nadzir organisasi dan Nadzir badan hukum syaratnya adalah?

Jawaban:
Untuk nadzir organisasi.

  • Pengurus organisasi yang bersangkutan memenuhi syarat-syarat nadzir perorangan,
  • Organisasi yang bersangkutan bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan dan atau keagamaan Islam.

Syarat untuk nadzir badan hukum.

  • Pengurus organisasi yang bersangkutan memenuhi syarat-syarat nadzir perorangan,
  • Badan hukum Indonesia yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan
  • Organisasi yang bersangkutan bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan dan atau keagamaan Islam.

Soal No. 6). Apa saja Syarat-syarat harta yang diwakafkan (al-mauquf)?

Jawaban:

  • barang yang diwakafkan itu mestilah barang yang berharga.
  • harta yang diwakafkan itu mestilah diketahui kadarnya. Jadi apabila harta itu tidak diketahui jumlahnya (majhul), maka pengalihan milik pada ketika itu tidak sah.
  • harta yang diwakafkan itu pasti dimiliki oleh orang yang berwakaf (wakif).
  • harta itu mestilah berdiri sendiri, tidak melekat kepada harta lain (mufarrazan) atau disebut juga dengan istilah (ghaira shai’).

Soal No. 7). Jelaskan tentang keistimewaan/Hikmah wakaf?

Jawaban:
Wakaf merupakan salah satu amalan ibadah yang termasuk istimewa, hal ini karena pahala waqaf akan terus mengalir walaupun kita telah meninggal dunia. Berbeda dengan amalan-amalan seperti shalat, zakat, puasa, Haji dll yang pahalanya akan terputus ketika kita meninggal dunia.

Soal No. 8). Jelaskan perbedaan dari wakaf, hibah, dan hadiah?

Jawaban:

  • Wakaf ialah menahan suatu benda yang kekal zatnya, yang dapat diambil manfaatnya guna diberikan di jalan kebaikan
  • Hibah adalah memberikan hak memiliki sesuatu benda kepada orang lain yang dilandasi oleh ketulusan hati, atas dasar saling membantu kepada sesama manusia dalam hal kebaikan.
  • Hadiah adalah memberikan sesuatu secara cuma-cuma dengan maksud untuk memuliakan seseorang karena sesuatu kebaikan yang telah diperbuat. Dengan kata lain, hadiah berfungsi sebagai imbalan jasa dengan jumlah tidak ditentukan terlebih dahulu antara pemberi dan penerima.

Soal Essay dan Jawaban Pengelolaan Wakaf

Selamat berjumpa kembali, di bawah ini ada contoh soal essay beserta jawaban pengelolaan wakaf untuk SMA/MA/MAK/MTs Sederajat. Semoga contoh soal essay beserta jawaban pengelolaan wakaf untuk SMA/MA/MAK/MTs Sederajat ini bermanfaat banyak.

Soal No. 1). Apa saja Syarat-syarat harta yang diwakafkan (al-mauquf)?

Jawaban:

  • barang yang diwakafkan itu mestilah barang yang berharga.
  • harta yang diwakafkan itu mestilah diketahui kadarnya. Jadi apabila harta itu tidak diketahui jumlahnya (majhul), maka pengalihan milik pada ketika itu tidak sah.
  • harta yang diwakafkan itu pasti dimiliki oleh orang yang berwakaf (wakif).
  • harta itu mestilah berdiri sendiri, tidak melekat kepada harta lain (mufarrazan) atau disebut juga dengan istilah (ghaira shai’).

Soal No. 2). Jelaskan tentang keistimewaan/Hikmah wakaf?

Jawaban:
Wakaf merupakan salah satu amalan ibadah yang termasuk istimewa, hal ini karena pahala waqaf akan terus mengalir walaupun kita telah meninggal dunia. Berbeda dengan amalan-amalan seperti shalat, zakat, puasa, Haji dll yang pahalanya akan terputus ketika kita meninggal dunia.

Soal No. 3). Jelaskan perbedaan dari wakaf, hibah, dan hadiah?

Jawaban:
a. Wakaf ialah menahan suatu benda yang kekal zatnya, yang dapat diambil manfaatnya guna diberikan di jalan kebaikan
b. Hibah adalah memberikan hak memiliki sesuatu benda kepada orang lain yang dilandasi oleh ketulusan hati, atas dasar saling membantu kepada sesama manusia dalam hal kebaikan.
c. Hadiah adalah memberikan sesuatu secara cuma-cuma dengan maksud untuk memuliakan seseorang karena sesuatu kebaikan yang telah diperbuat. Dengan kata lain, hadiah berfungsi sebagai imbalan jasa dengan jumlah tidak ditentukan terlebih dahulu antara pemberi dan penerima.

Soal No. 4). Apa yang dimaksud dengan wakaf?

Jawaban:
Wakaf adalah Sedekah Jariyah, yakni menyedekahkan harta kita untuk kepentingan ummat. Harta Wakaf tidak boleh berkurang nilainya, tidak boleh dijual dan tidak boleh diwariskan. Karena wakaf pada hakikatnya adalah menyerahkan kepemilikan harta manusia menjadi milik Allah atas nama ummat.

Soal No. 5). Apa saja Syarat-syarat wakaf?

Jawaban:

  • orang yang berwakaf ini mestilah memiliki secara penuh harta itu, artinya dia merdeka untuk mewakafkan harta itu kepada sesiapa yang ia kehendaki.
  • dia mestilah orang yang berakal, tak sah wakaf orang bodoh, orang gila, atau orang yang sedang mabuk.
  • dia mestilah baligh.
  • dia mestilah orang yang mampu bertindak secara hukum (rasyid). Implikasinya orang bodoh, orang yang sedang muflis dan orang lemah ingatan tidak sah mewakafkan hartanya

Soal No. 6). Apa yang dimaksud Nadzir?

Jawaban:
Nadzir berasal dari kata kerja bahasa Arab nadzara-yandzuru-nadzaran yang mempunyai arti, menjaga, memelihara, mengelola dan mengawasif. Adapun nadzir adalah isim fa’il dari kata nadzir yang kemudian dapat diartikan dalam bahasa Indonesia dengan pengawas (penjaga). Sedangkan nadzir wakaf atau biasa disebut nadzir adalah orang yang diberi tugas untuk mengelola wakaf.

Soal No. 7). Syarat untuk nadzir badan hukum!

Jawaban:

  • Pengurus organisasi yang bersangkutan memenuhi syarat-syarat nadzir perorangan,
  • Badan hukum Indonesia yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan
  • Organisasi yang bersangkutan bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan dan atau keagamaan Islam.

Soal No. 8). Syarat-syarat menjadi Nadzir?

Jawaban:
Menurut undang-undang nomor 41 tahun 2004 pasal 10 ayat (1) tentang wakaf Syarat untuk nadzir perorangan adalah :
a. Warga negara Indonesia,
b. Beragama Islam,
c. Dewasa,
d. Amanah,
e. Mampu secara jasmani dan rohani, serta
f. Tidak terhalang melakukan perbuatan hukum.

Soal No. 9). Sebutkan Nadzir organisasi dan Nadzir badan hukum syaratnya adalah?

Jawaban:
Untuk nadzir organisasi.
– Pengurus organisasi yang bersangkutan memenuhi syarat-syarat nadzir perorangan,
– Organisasi yang bersangkutan bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan dan atau keagamaan Islam.

Hukum Menjual Barang Wakaf

Barang yang diwakafkan tidak boleh dijual, sekalipun telah rusak. Seandainya sebuah masjid rusak dan sulit direnovasi, maka masjid tersebut tidak boleh dijual dan tidak dapat dikembalikan lagi menjadi milik pewakaf, sebab tanahnya masih dapat dipakai untuk salat dan i’tikaf.

Seandainya pohon yang diwakafkan kering (mati) atau tumbang karena angin besar, maka status wkafnya tidak batal. Untuk itu, pohon tersebut tidak boleh dijual atau dihibahkan, melainkan dimanfaatkan oleh si penerima wakaf; sekalipun kayunya dipakai untuk daun pintu jika tidak mungkin menyewakannya dalam bentuk kayu semata.

Jika pemanfaatannya sulit dilakukan kcuali dengan memakainya, misalnya tidak terpakai lagi kecuali sebagai kayu bakar, barulah status wakafnya terputus. Dengan kata lain, bila keadaannya demikian menjadi ilik penerima wakaf, menurut pendapat yang dapat dipegang; tetapi penerima wakaf harus memanfaatkannya sendiri secara langsung, denga kata lain dia tidak boleh menjualnya.

Diperbolehkan menjual tikar masjid yang diwakafkan jika telah rusak, misalnya keindahannya sudah pudar dan manfaatnya sudah tak berfungsi lagi. Hal ini merupakan suatu kemaslahatan. Demikian pula apabila menjual tiang-tiang penyangga masjid yang patah. Lain halnya menurut segolongan ulama yang berpendapat berbeda dalam kedua masalah tersebut.

Kemudian hasil penjualannya dibelanjakan buat kepentingan masjid jika tidak memungkinkan untuk membeli tikar atau tiang yang baru.

Perselisihan perndapat yang menyangkut boleh tidaknya menjual barang wakaf (setelah tidak berfungsi lagi), sekalipun barang wakaf tersebut berasal dari si nazhir sendiri yang ia beli kemudian diwakafkan.

Lain halnya dengan barang yang dihibahkan dan yang dibelikan buat keperluan masjid, semua itu boleh dijual secara pasti semata-mata karena perlu penjual, sekalipun keadaannya masih belum rusak. Demikian pula halnya dengan lampu penerangan masjid.

Inilah Syarat Nazhir Atau Pengurus Wakaf

Syarat bagi seorang nazhir, baik dia merangkap sebagai pewakaf ataupun selainnya, ialah adil dan berkemampuan melaksanakan tugas yang diserahkan kepadanya sebagai pengemban harta wakaf.

Nazhir boleh menerima upah

Nazhir boleh menerima upah yang disyaratkan pewakaf, sekalipun jumlahnya lebih besar daripada upah yang sepantasnya, selagi dia bukan pewakaf sendiri. Jika pewakaf tidak mensyaratkan suatu upah pun buat nazhir, maka nazhir tidak berhak menerima upah.

Memang dibenarkan, pihak nazhir boleh melaporkan perkaranya kepada hakim agar hakim menetapkan upah buat dirinya dalam batas di bawah kebutuhan nafkah dan upah yang sepantasnya; perihalnya sama dengan wali anak yatim.

Ibnush Shabbagh berfatwa bahwa nazhir boleh menentukan sendiri hal tersebut dengan bebas tanpa melalui hakim lagi.

Nazhir melakukan kefasikan

Seorang nazhir tercatat dengan sendirinya jika melakukan kefasikan, kemudian kedudukan nazhir berpindah ke tangan hakim.

Seorang pewakaf berhak memecat nazhir yang diangkatnya, lalu menggantikannya dengan orang lain, kecuali jika jabatan nazhir-nya dimasukkan ke dalam persyaratan di saat pewakafan.

Seandainya orang-orang yang berhak meminta kepada nazhir kitab yang diwakafkan untuk mereka buat salinannya demi memelihara hak mereka, maka nazhir wajib mempermudah permintaan mereka

Bolehkah Pewakaf Tidak Menentukan Nazhir Wakafnya

Seandainya seorang pewakaf mensyaratkan hendaknya dirinya menjadi nazhir wakaf itu sendiri atau orang lain, maka syaratnya itu harus diikuti; sama halnya dengan persyaratan lainnya.

Kabul nazhir sama dengan kabul wakil

Kabul dari orang yang disyaratkan sebagai nazhir sama halnya dengan kabul wakil, menurut pendapat yang kuat alasannya (dengan kata lain tidak perlu adanya kabul, yang penting asal jangan menolak).

Pewakaf tidak berhak memecat nazhir yang telah ia sebut dalam syarat wakaf

Pewakaf tiadk berhak memecat nazhir yang disebutkannya dalam syarat wakaf di saat dia mewakafkannya, sekalipun demi kemaslahatan.

Pewakaf tidak menentukan nazhir wakafnya

Jika pewakaf tidak menyaratkan kepada seorang pun sebagai nazhir wakafnya, maka yang menjadi nazhir adalah kadi kota tempat barang wakaf berada bila dikaitkan dengan pemeliharaan dan penyewaannya; dan kadi kota tempat orang yang diwakafi berada bila dikaitkan dengan keadaan selain itu, menurut mazhab Syafii. Karena kadi merupakan nazhir umum, dia lebih berhak daripada yang lainnya, sekalipun pewakaf sendiri atau orang yang diwakafi.

Keputusan yang ditetapkan oleh Al-Khawarizmi, yaitu nazhir wakaf adalah pewakaf sendiri dan keturunannya bila dalam pewakafan tidak dipersyaratkan, merupakan pendapat yang lemah.

As-Subuki mengatakan bahwa kadi tidak berhak mengambil sesuatu yang disyaratkan pewakaf buat nazhir, jika pewakaf menyebut nazhirnya dengan jelas. Tiada hak pula bagi kadi mengambil sesuatu dari bagian ‘amil zakat.

At-Taj, putra As-Subuki mengatakan bahwa yang demikian itu berkaitan dengan kadi yang mendapat gaji sesuai dengan kecukupannya.

Sebagian ulama ada yang mengadakan penelitian; seandainya dikhawatirkan kadi akan memakan barang wakaf karena sikapnya yang kelewat batas, maka orang yang memegang barang wakaf tersebut diperbolehkan membelanjakannya untuk hal-hal yang berhak di belanjai oleh harta wakaf, jika dia mengetahuinya. Jika tidak mengetahuimua, hendaklah dia menyerahkan barang wakaf tersebut kepada seorang ahli fiqih yang mengetahuinuya, atau bertanya kepadanya, lalu membelanjakannya.

Pewakaf budak perempuan atau penerimanya tidak boleh menyetubuhinya

Tidak boleh menyetubuhi budak perempuan yang diwakafkan, sekalipun pelakunya adalah pemberi wakaf sendiri atau penerima wakaf, sebab keduanya tidak berhak memilikinya; bahkan jika keduanya melakukan hal tersebut, mereka harus dikenai hukuman rajam.

Kadi atau hakim lah yang berhak mengawinkan budak perempuan tersebut dengan seizin penerima wakaf, tetapi bukan dikawinkan dengan pemberi dan penerima wakaf.

Perlu diketahui bahwa hak pemilikan barang yang diwakafkan kepada orang tertentu atau kepada suatu kemaslahatan pada hakikatnya berpindah menjadi milik Allah swt. Dengan kata lain, terlepas dari pemilikan khusus anak-anak Adam.