Ucapan Atau Nasihat Ulama Yang Berdampak Besar Umat

Disini akan dijelaskan cirinya kalam hukama yang cahayanya mendahului terhadap omongannya. Yaitu tiap-tiap omongan yang memberikan tapak (jejak) di dalam hatinya mustami’in, sehingga bila didengar oleh orang yang ghaflah langsung eling (sadar). Dan apabila didengar oleh orang yang sering melakukan ma’siyat, maka dia langsung berhenti, serta bila didengar oleh ahli tho’at maka langsung bertambah tho’atnya, dan besar sekali rasa rindunya untuk berbakti kepada Allah swt.

Kalau didengar oleh orang yang sedang berjuang mencapai titel mulya untuk menaikkan martabat yang tinggi, dengan mendengar ucapan hukama, jadi hilang segala rasa capenya, yang berat jadi ringan, sebab semangatnya besar dalam menghasilkan martabat yang tinggi.

Jadi ucapan itu sifatnya mutakallim, dimana-mana mutakallimnya mempunyai cahaya, maka ucapannya bakal menancap di dalam hatinya sami’in. Bila mutakallim nya tidak mempunyai cahaya, hasil khasyah nya kepada Allah, maka ucapannya hanya sekedar sampai ke telinga saja. Sehingga menurut ulama para ahli hikmah bahwa dimana-mana ucapan muncul dari dalam hati, maka akan menancap didalam hatinya para sami’in. Dan kalau ucapan itu hanya sekedar dari lisan saja, maka terdengarnya hanya oleh telinga saja.

Kesimpulannya adalah ahli ma’rifat itu omongannya muncul dari dalam hati yang penuh dengan cahaya hasil khasyah ke Allah, maka cahayanya tembus ke dalam hati sami’in. Dan setelah hatinya sami’in kedatangan cahaya, maka ucapannya para ulama akan besar sekali tapaknya (dampaknya).

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tujuh puluh enam)