Thoma Itu Menimbulkan Kehinaan

Lantaran mengikuti mudah-mudahan, itu sering menimbulkan thoma’, dan dengan adanya thoma’ sering menimbulkan kehinaan dan menjadi ‘abid. Sebenar-benarnya nya kita itu jadi merdeka, tegasnya bebas dari segala tekanan, dari perkara yang diputuskan oleh kita. Kita akan jadi ‘abid dari perkara yang diinginkan dan diharap-harapkan.

Kalau kita berharap-harap satu perkara, maka kita harus melaksanakan yang cape untuk menghasilkan perkara tersebut, tidak menghiraukan panas, gelap, hujan, berjuang ingin berhasil yang diinginkannya. Sehingga kita dibuat repot dengan keinginan kita, maka yakin bahwa kita menjadi ‘abid dari perkara yang diinginkan oleh kita itu. Padahal kalau kita tidak menginginkannya, maka kita tidak akan repot alias merdeka.

Orang yang memutus segala perkara selain Allah, bakal melekat hatinya ke Allah yang menciptakan segala perkara. Sedangkan orang yang melekatkan cita-citanya kepada Allah, maka akan ditaklukkan segala perkara oleh Allah terhadap orang itu. Sehingga akhirnya segala perkara menjadi ‘abidnya orang itu.

Kesimpulannya yaitu hidup kita jangan sampai diperbudak oleh dunia, atau diperbudak oleh keinginan yang menggebu-gebu, sehingga akhirnya kita lalai dari Allah, lalai dari yang menciptakan kita. Seharusnya kitalah yang memegang kendali terhadap dunia, terhadap perkara atau keinginan kita.

Banyak sekali orang yang ambisius terhadap dunia, sehingga akhirnya dia melupakan akhirat. Kita harus yakin bahwa Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi kita. Baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, dan buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keenam puluh dua)

Perkara Yang Menjadi Penyebab Sifat Thoma’

Perkara yang menjadi sebab datangnya sifat thoma’ itu macam-macam, tetapi yang sangat kuat adalah adanya wahmun, tegasnya bayangan yang ada di dalam hati yang dibawahnya was was. Dan yang dimaksud disini yaitu perkara yang selain dari yakin, jadi adanya thoma’ itu timbul dari mengikuti sangkaan atau ke was was an, terus dipupuk dengan mudah-mudahan, yakin akan nyata padahal sangat jauh.

Jadi orang yang thoma’ itu dituntun oleh waham, tegasnya dibawa oleh ketidakyakinan. Padahal kalau hatinya dipenuhi dengan keyakinan, lalu ingat terhadap segala janjinya Allah dan ketentuan-Nya, maka hatinya tidak akan guncang, mengikuti ketidakyakinan.

Untuk menjauhi sifat thoma’ ini maka harus ingat bahwa orang yang akan diberi oleh Allah itu tidak akan bisa dihalangi, dan orang yang tidak akan diberi oleh Allah itu tidak akan bisa diperjuangkan. Tidak ada manfaatnya dalam hakikatnya segala perjuangan. Maka beribu-ribu penghalang, beribu-ribu dukungan tidak ada pengaruhnya dihadapan Allah. Firman Allah swt “lan yusiibanaa illaa maa kataballaahu lanaa”, tidak akan datang segala kejadian melainkan seperti yang sudah dituliskan Allah, tegasnya yang sudah ditentukan oleh sifat irodatnya Allah dan diketahui oleh sifat ‘ilmunya Allah yang tercatat di lauh mahfud

Oleh karena itu kita harus menjauhi sifat thoma’ ini, karena sangat buruk sekali buat kita. Kita harus yakin kepada Allah dan terhadap segala ketentuan-Nya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keenam puluh satu)

Mengapa Kemuliaan Terhalang Oleh Sifat Thoma’

Tingkah yang menghalangi datangnya kemulyaan, tegasnya orang yang ingin pangkat tinggi, tidak akan jadi tingginya dan tetap ada didalam kehinaan. Macam-macam kehinaan itu muncul dari sifat thoma’ , maksudnya melekatkan hati terhadap perkara yang merupakan kepunyaan orang lain, dan melihatnya hati kepada selain Allah.

Kenapa thoma’ jadi pokoknya kehinaan sebab orang yang thoma’ sudah meninggalkan Allah yang gagah perkasa, terus melekat melekat ke ‘abdi yang hina, maka dia akan hina. Meninggalkan Allah yang Maha Pemurah, terus melekat ke ‘abdi yang fakir, maka dia akan jadi fakir.

Dan sudah meninggalkan dengan meninggikan cita-cita menuju Allah yang Maha Kaya dan Maha Pemurah, menurunkan cita-citanya ke yang rendah dan yang buruk. Sedangkan Allah akan memberi rizki kepada ‘abdinya sesuai dengan ukurannya cita-cita.

Maka kalau cita-citanya tinggi, akan ditinggikan, dan kalau cita-citanya rendah maka akan direndahkan. Sedangkan orang thoma’ itu tukang menghina-hinakan diri, maka akan dihinakan oleh Allah.

Kesimpulan yang bisa diambil dari penjelasan diatas adalah kita jangan sampai memiliki sifat thoma’. Kita harus meminta segala hal kepada Allah, jangan sampai menggantungkan diri kepada makhluk. Karena makhluk itu diciptakan oleh Allah, maka sudah seharusnya lah kita menggantungkan diri terhadap yang menciptakan makhluk (Allah swt). Apabila kita berharap dan selalu berdoa kepada Allah, maka Allah pasti akan memenuhi segala kebutuhan kita.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah enam puluh)