Ketaatan Manusia Kepada Allah Akan Dibalas Di Dunia dan di Akhirat

Apabila kita menemukan buahnya tha’at di alam dunia, itu merupakan penggembira untuk orang yang shalih, dan akan dibalas dengan pembalasan yang sempurna di akhirat nanti.

Tho’at kepada Allah itu sering terlihat buahnya. Dan buahnya tho’at kepada Allah itu seperti adanya ketenteraman hati, yaitu ketika berbakti kepada Allah tidak terganggu oleh kebingungan dunia.

Atau juga mudahnya mendapatkan/menghasilkan fadholnya Allah, atau bisa mencegah dari kemaksiyatan dan menjauhi dari hal-hal yang tidak berguna.

Dengan adanya orang-orang menemukan macam-macam buahnya tho’at di alam dunia, maka itu merupakan penggembira dari Allah. nanti di akhirat akan dibalas dengan pembalasan yang sempurna.

Allah itu Maha Adil, sehingga setiap tingkah laku dan perbuatan manusia di alam dunia akan dibalas dengan seadil-adilnya. Oleh karena itu kita semua harus hati-hati dalam berperilaku di alam dunia. Laksanakanlah semua perintah dari Allah swt dan jangan melakukan perbuatan yang dilarang oleh-Nya. Selain itu kita harus meneladani setiap perbuatan dari Nabi saw, para sahabat, dan para ulama, bergaullah dengan orang-orang shalih dan orang-orang berilmu.

Berimanlah kepada setiap ketentuan dari Allah, yakinlah bahwa setiap perkara yang terjadi di alam dunia ini dan yang menimpa diri kita sudah ada qadha dan qadarnya.

Lakukanlah amal baik sebanyak-banyaknya, lakukanlah dengan ikhlas dan hanya ingin mendapatkan ridha dari Allah swt.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus empat puluh dua)

Jangan ‘Ujub dan Takabur Kalau Bisa Melakukan Tho’at

Orang yang bisa tho’at kepada Allah itu harus lebih butuh terhadap hilminya Allah, maksudnya kalau kita bisa tho’at harus merasa takut terhadap siksaan Allah daripada butuhnya kita terhadap hilminya Allah ketika ma’siyat. Artinya ketika kita ma’siyat, kita  harus butuh terhadap hilminya Allah. Sehingga merasa khawatir, merasa takut, merasa hina dan inkisar hati.

Tapi kalau kita bisa tho’at, maka harus sangat butuh terhadap hilminya Allah. Kenapa demikian, karena sifatnya diri kita kalau bisa tho’at biasanya akan merasa sombong, merasa diri baik, dan merasa lebih baik daripada orang lain, malah sering ‘ujub dan takabur, menganggap rendah orang lain, dan merasa diri nge haq atas pembalasan dari Allah (merasa diri dimanja oleh Allah), yang akhirnya membuat kita tidak sopan di hadapan Allah. Nah sifat-sifat hati yang barusan adalah dosa-dosa hati yang paling besar.

Dikhawatirkan dari tho’at menjadi ma’siyat. Padahal dimana-mana kita bisa tho’at harus merasa bahagia dan syukuran ke Allah bahwa kita diberi hadiah bisa tho’at Allah. Nah sekarang kita ‘ujub bisa tho’at, sehingga dipuji, merasa dimanja yang akhirnya tidak sopan atau kurang ajar kepada Allah. Hal ini mendekatkan kita kepada tidak sukanya atau bencinya Allah.

Oleh karena itu dimana-mana kita bisa tho’at harus khawatir mendapat siksa dari Allah, karena sering kedatangan hati yang buruk. Sedangkan orang yang ma’siyat biasanya dipenuhi dengan ketakutan, sebab sudah ma’siyat sehingga dirinya merasa hina. Maka butuhnya terhadap hilmi nya Allah sambil dalam keadaan inkisar hati, itu dibawah butuhnya terhadap hilminya Allah ketika ‘ujub karena bisa beramal.

Kesimpulannya adalah kalau kita bisa beramal kita harus khawatir takut tidak diterima karena belum bisa menghadap dengan sebenarnya dan karena masih gegabah. Dan harus bahagia bahwa diri dijadikan oleh Allah bisa tho’at (mendapat hadiah dari Allah). Apabila kita bisa beramal kita harus menjaga diri agar jangan ‘ujub. Karena walaupun manusia terus-terusan beribadah pasti saja ada kesalahan. Kalau keadilan Allah ditegakkan, maka pasti mendapat siksaan.

Walaupun  kita terus-terusan ibadah, tetap saja harus merasa khawatir  dan harus lebih butuh terhadap Allah, sehingga dalam sebuah hadist diterangkan bahwa “sebenar-benarnya Allah itu memberi wahyu ke seorang nabi dari sebagiannya nabi-nabi.”

Orang yang tho’at kepada Allah harus hati-hati jangan sampai ‘ujub dan takabur atau merasa diri sudah baik, sebab apabila keadilan Allah ditegakkan maka orang tersebut akan disiksa. Begitu juga sebaliknya bagi orang yang selalu melakukan ma’siyat, jangan sampai putus harapan dari rahmat Allah karena merasa dirinya banyak dosa. Karena Allah akan mengampuninya apabila orang tersebut benar-benar bertaubat, walupun dosanya sebanyak buih di lautan.

Menurut Abu Yazid taubat dari dosa itu cukup sekali, sedangkan taubat dari bisa tho’at itu harus seribu kali.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus dua puluh sembilan)

Mengapa Allah membuat macam-macam Tho’at

Allah menjadikan rupa-rupa tingkah tho’at adalah supaya tidak bosan, dan Allah mengekang atau menekan tho’at dalam tiap waktu supaya tidak ribut mengerjakannya.

Nah dua hal diatas merupakan dua kenikmatan yang sangat besar yang diberikan oleh Allah kepada ‘abdi-Nya. Sebab bosan dan rakus adalah dua fitnah yang besar yang bisa memutus hubungan antara ‘abdi dan Allah swt.

Dengan adanya bosan sering timbul benci yang mengakibatkan membelokkan orang beramal, biasanya timbul dari masyaqatnya (kesulitannya), hal ini sangat berbahaya. Begitu juga apabila ribut sudah beribadah (maksudnya ‘ujub sudah bisa beramal), ini juga sering mendatangkan kekurangan dan gegabah dalam melaksanakannya.

Oleh karena itu Allah membuat rupa-rupa tho’at, serta tho’at juga di waktu-waktu. Sehingga shalat fardhu dilarang dilakukan apabila bukan waktunya, begitu juga shalat sunah dilarang dilakukan pada waktu yang makruh, yaitu supaya cita-cita atau ibadah kita terarah dalam melaksanakan ibadahnya (shalat). Shalat nya sambil menjaga syarat, rukun dan menjaga hati, maksudnya menghadirkan hati bersama Allah pada waktu shalat, bukan mengadakan shalat. Sebab tidak tiap-tiap orang yang shalat itu melaksanakan. Tegasnya shalat fardhu itu hanya 5 waktu dalam sehari semalam, atau puasa ramadhan hanya satu bulan dalam setahun. Hal ini supaya kita tenang dalam melaksanakannya serta khusyu dan tidak membuat bosan.

Dan dalam shalat itu ada 2 tingkah :

  1. Iqaamatussholat, menjaga patokannya disertai dengan adab-adabannya.
  2. Mengadakan shalat, maksudnya mengadakan tingkah shalat yang sekedarnya seperti yang sedang shalat.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus lima belas)

Ma’siyat Yang Membuat Kita Merasa Rendah Di Hadapan Allah Lebih Baik Daripada Tho’at Yang Membuat Takabur

Ma’siyat yang mewaris atau membuat kita merasa fakir dan rendah di hadapan Allah, itu lebih baik daripada tho’at yang mewaris (membuat) kita takabur.

Penjelasan :

Perhitungan Allah itu adalah dari buahnya tho’at dan ma’siyat. Sebab Allah tidak melihat rupa kita dan amal, kecuali pasti melihat hati kita dan buahnya amal. Ma’siyat yang jadi wasilah terhadap buahnya tho’at itu lebih bagus daripada tho’at yang tidak memunculkan buahnya.

Buahnya tho’at itu adalah merendah-rendahkan diri di hadapan Allah, khusyu dan pasrah kepada Allah, dan inkisar hatinya dihadapan Allah. Maka apabila tho’at tidak menghasilkan sifat yang barusan, malahan menjadikan takabur dan ‘ujub, merasa diri agung. Hal ini apabila dibandingkan dengan ma’siyat yang menjadikan buahnya tho’at, lebih bagus yang kedua.

Intinya adalah lebih bagus ma’siyat yang menimbulkan rasa rendah diri dihadapan Allah, khusyu dan inkisar hati, pasrah kepada Allah. Sebab tho’at yang tidak berbuah dan ma’siyat yang tidak berbuah itu hanya sebagai gambaran saja. Maksudnya tho’at itu hanya sepertinya, dan ma’siyat itu hanya sepertinya.

Oleh karena itu harus dikembalikan ke pokok nya, yaitu orang harus khudhu’ dan tawadhu ke Allah, maka kalau ma’siyat yang menimbulkan khudhu’ dan tawadhu itu lebih bagus daripada tho’at yang menjadikan khudhu’ dan tawadhu.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kesembilan puluh empat)

Mengapa Kita Harus Menyesal Apabila Kita Tidak Bisa Melaksanakan Tho’at

Nelangsa terhadap sepinya tho’at, sambil tidak ada kegiatan untuk melaksanakan tho’at, itu adalah sebagian dari cirinya tertipu.

Penjelasan : Mengapa Kita Harus Menyesal Apabila Kita Tidak Bisa Melaksanakan Tho’at? Disini akan dijelaskan tentang merasa prihatin yang benar dan merasa prihatin yang salah.

Prihatinnya orang atau merasa nelangsa dengan tidak melakukan tho’at, sambil tidak ada kegiatan untuk menyusul terhadap kekurangan tho’at nya, maka itu merupaka penyesalan yang bohong dan cirinya orang yang tertipu. Sebab penyesalan yang benar adalah, setelah nelangsa dan prihatin itu terus meningkatkan tho’atnya dan berusaha untuk mengejar tho’at yang sudah terlewat atau ketinggalan.

Seperti yang dikatakan oleh Abu ‘Ali addaqom bahwa orang yang prihatin itu harus meningkatkan ‘amal selama sebulan bisa nempuh terhadap perkara yang harus ditempuh selama setahun.

Serta dikatakan oleh Abu Sulaiman ad daroni ra “bukan nangis yang benar dengan mengeluarkan air mata, tapi pastinya nangis yang benar adalah harus meninggalkan dosanya yang ditangisi dan menyusul (mengganti ) amal yang ditinggalkan.”

Kita jangan tertipu dengan tangisnya seseorang, karena saudara-saudara Rasulullah berdatangan sambil menangis, tetapi mereka khianat. Atau seperti tangisnya buaya, yang hanya berpura-pura, padahal hatinya penuh dengan kemunafikan.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah ketujuh puluh enam)