Riwayat 6 Makhluk Allah Yang Tawadhu’

Ada enam hal atau sesuatu yang bertawadhu’ karena Allah swt, maka Allah kemudian mengangkat derjatnya di antara sesamanya, yaitu:

Pertama, Allah telah menurunkan wahyu kepada semua gunung dan berfirmanlah Allah, “Aku akan menempatkan perhu Nabi Nuh beserta orang-orang mukmin yang bersamanya di atas sebuah gunung di antara kamu.”

Lalu semua gunung merasa sombong dan membanggakan dirinya, tetapi gunung Al Judi sendiri yang merendah dan berkata, “Dari mana aku memiliki kedudukan sehingga Allah mendaratkan perahu Nabi Nuh di atasku?”

Maka Allah mengangkatnya mengalahkan semua gunung yang ada, dan mendaratkan perahu itu di atasnya sebab tawdhu’nya itu.

Seperti firman Allah dalam surat Huud ayat 44, “Dan mendaratlah perhu itu di atas gunung Judi.”

Ia adalah sebuah gunung di Al Jazirah (Armenia selatan) dekat dengan Mosol (Mesopotamia)

Berkatalah gunung-gunung, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau mengutamakan Al Judi mengalahkan kami, sedang dia adalah yang terkecil di antara kami.”

Allah berfirman, “Karena sesungguhnya dia bertawdhu’ kepada-Ku, sedang kamu sombong. Seharusnyalah Aku mengangkat derajat orang yang bertawadhu’ kepada-Ku dan merendahkan orang yang sombong kepada-Ku.”

Kedua, Allah telah menurunkan wahyu kepada semua gunung, berfirmanlah Dia, “Aku akan berfirman kepada seorang dari hamba-Ku pada kamu.” Lalu semua gunung menyombogkan diri kecuali Thursina. Dia sendiri yang bertawadhu’ kepada Allah dan berkata, “Siapakah aku ini? Hingga Allah memberi firman pada seorang hamba-Nya di atas aku?” karena itulah firman Allah kepada Musa di gunung Thur itu.

Ketiga,  Allah memberi wahyu kepada semua ikan. Berfirmanlah Dia, “Aku akan memasukkan Yunus dalam perut seekor ikan dari kamu.” Semua ikan merasa sombong kecuali seekor ikan saja. Dia berkata, “Siapakah aku ini? Hingga Allah menjadikan aku sebagai tempat dari Nabi-Nya?” maka Allah pun mengangkat derajatnya dan memuliakannya sebab tawadhu’ nya.

Keempat, Allah memberi wahyu kepada semua burung dan berfirman, “Aku akan meletakkan minuman pada seekor dari kamu untuk obat manusia. Semua bangsa burung (yang dapat terbang) menyombongkan diri kecuali lebah. Dia berkata, “Siapakah aku ini? Hingga Allah meletakkan minuman sebagai obat padaku?” maka Allah mengangkatnya dan meletakkan obat itu padanya karena tawadhu’nya.

Kelima, Allah telan menurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim, berfirmanlah Dia, “Siapakah engkau ini?” dia menjawab, “Aku adalah Al Khalil (kekasih Allah).” berfirmanlah juga kepada Nabi Musa, “Siapakah engkau ini?” diapun menjawab, “Aku adalah Al Kalim (yag diberi firman tanpa perantara).” Dan Allah berfirman kepada Nabi Isa, “Siapakah engkau ini?” diapun menjawab, “Aku adalah Ar Ruh (ruh yang ditiupkan oleh Allah).”

Akhirnya Allah berfirman kepada Nabi Muhammad, “Siapakah engkau ini?” beliau bersabda, “Aku adalah seorang anak yatim.” Maka Allah mengangkat derajatnya di atas semua Nabi. Seperti firman Allah dalam surat Adh Dhuha ayat 5, “Dan sungguh Tuhanmu akan memberikan karunia kepadamu lalu engkau akan menjadi puas.”

Keenam, orang mukmin yang bertawadhu’ kepada Allah dengan mau bersujud dan meng Esa kan Allah, maka Allah akan memuliakan mereka, yaitu dilapangkan-Nya hati orang itu kepada Islam, lalu dia selalu berada dalam Nur dari Tuhan-Nya.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Keutamaan Sifat Tawadhu’ Menurut Islam

Tawadhu’ merupakan sifat yang harus dimiliki oleh setiap umat muslim, karena sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Banyak sekali dalil yang menerangkan mengenai keutamaan tawadhu’ ini, seperti yang berikut ini:

Di dalam hadis disebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad telah keluar dari Mekah berhijrah ke Madinah, dan telah masuk pintu gerbang Madinah maka orang-orang kaya di Madinah bergantung pada tali kendali unta Nabi.

Bersabdalah Nabi Muhammad, “Biarkan unta ini karena dia telah diperintahkan oleh Allah.” maka mereka melepaskan tali kendali unta itu pada unta. Unta itu maju di depan pasukan. Setiapunta itu melewati rumah seorang dari penduduk Madinah pemiliknya akan bersedih dan berkata, “Jika seandainya aku memiliki kedudukan tentu Nabi Muhammad akan menjadi tamuku.”

Ketika unta itu sampai di depan pintu rumah Ali Ayyub Al Anshari, mendekamlah unta itu. Maka orang-orang membangkitkannya agar berdiri tetapi tetap saja unta itu tidak mau berdiri.

Turunlah malaikat Jibril dan berkata, “Turunlah disini, karena Ayyub pemilik rumah ini telah bertawadhu’ kepada Allah ketika engkau singgah di pintu gerbang Madinah. Saat semua orang sibuk dan mencurahkan perhatiannya serta menghiasi rumah-rumah mereka. Mereka berkata, ‘Mudah-mudahan Rasulullah singgah di rumah kami.’ Tetapi Abu Ayyub berkata dalam hatinya, ‘Aku adalah orang fakir, darimana aku mendapat kedudukan di sisi Allah sehingga Nabi Muhammad mau singgah di rumahku?’ lalu Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk singgah di rumahnya karena tawadhu’nya.

Diriwayatkan dari Ka’b bin Al Ahbar, dia berkata, “Allah swt telah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa. Berfirmanlah Allah, ‘Hai Musa, tahukah engkau ketika Aku mengambilmu sebagai orang yang mendapat firman tanpa perantara?’ Musa menjawab, “Engkau lebih mengetahui semua itu, ya Tuhanku.’

Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku melihat dalam semua hati hamba-Ku dan tidak Aku temukan hati yang lebih besar tawadhu’ nya dari pada hatimu. Karena itulah engkau Aku pilih menjadi orang yang mendapat  firman-Ku.’

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Keistimewaan Tawadhu’ dan Larangan Sombong

Tawadhu’ merupakan sifat yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, jadi hendakya kita sebagai umatnya meneladani Nabi saw. Sedangkan sombong merupakan sifat tercela, bahkan setan terjerumus dan durhaka akibat kesombongannya.

Diriwayatkan bahwa Mutharrif bin Abdillah pernah melihat Mahlab membanggakan dirinya dengan jubahnya. Berkatalah dia, “Hai hamba Allah, ini adalah cara berjalan yang dibenci Allah dan Rasul-Nya.”

Mahlab berkata, “Apakah engkau tidak mengenal aku?” Mutharrif berkata, “Ya, aku kenal. Permulaanmu adalah setetes air mani yang menjijikkan, sedang akhirmu adalah bangkai yang busuk, sedang di antara keduanya engkau selalu membawa tinja.”

Maka berlalulah Mahlab dan meninggalkan cara berjalannya itu serta bertaubat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Umar bin Khaththab pernah mengirimkan seorang penguasa ke Bahrain, sedang dia naik unta. Maka berkatalah Umar, ‘Berilah jalan. Mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah, budi pekerti mereka adalah tawadhu’, padahal mereka adalah orang-orang paling mulia di antara manusia di sisi makhluk, di sisi malaikat dan di sisi Allah swt.’

Diriwayatkandari Wahb bin Munabbih, dia berkata, “Ada orang dari kaum Bani Isra’il. Dia telah beribadah kepada Allah selama 70 tahun, dia tidak berbuka kecuali dari tahun ke tahun yang lain. kemudian dia memohon kepada Allah sebuah hajat, tetapi Allah tidak memenuhi hajatnya. Berkatalah dia, ‘Seandainya engkau memiliki kedudukan di sisi Allah tentu dia akan memenuhi hajatmu.’ Lalu Allah menurunkan malaikat yang berkata kepadanya, ‘Hai anak cucu Adam, tawadhu’ mu sekarang ini lebih utama daripada ibadahmu selama 70 tahun di sisi Allah.’ maka Allah memenuhi hajatmu karena tawadhu’ mu kepada-Nya.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Kisah Tawadhu’ Umar Bin Khaththab

Setiap umat islam diharuskan untuk memiliki sifat tawadhu’, dan dilarang memiliki sifat angkuh dan sombong.

Di bawah ini adalah kisah mengenai sifat tawadhu’ yang dimiliki Umar bin Khaththab, walaupun dia adalah seorang khalifah tetapi tidak bersifat sombong.

Diriwayatkan dari Qais bin Hazim bahwa ketika Umar bin Khaththab pergi ke Syam, dia membuat giliran naik kendaraan antara dia dengan budaknya. Umar lebih dahulu naik unta sedang budaknya memegang kendali unta dan berjalan sejauh satu pos.

Kemudian Umar turun dan naiklah budaknya serta Umar memegang tali kendali unta itu dan berjalan sejauh satu pos lagi, lalu turunlah budak itu.

Ketika telah dekat dengan Syam, giliran itu jatuh pada budaknya, maka nailah budak itu dan Umar memegang tali kendali. Suatu ketika dia menjumpai air di tengah jalan, maka dia terjun ke dalam air itu, sedang dia masih memegang tali unta dan kedua sandalnya diletakkannya di bawh ketiaknya sebelah kiri.

Saat itu keluarlah untuk menjemputnya, Abu Ubaidah bin Al Jarrah penguasa Syam. Dia adalah 10 orang yang dijamin masuk surga. Berkatalah Ubaidah, “Wahai Amirul Mukminin, semua pembesar Syam keluar menjemputmu. Maka tidak baik jika mereka harus melihatmu dalam keadaan seperti ini.”

Berkatalah Umar, “Sesungguhnya Allah memuliakan kita hanyalah karena Islam, jadi aku tidak peduli apa kata orang.”

Begitulah keluhuran akhlak Umar, hendaknya kita semua bisa belajar dari beliau.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Keutamaan Memiliki Sifat Tawadhu Tawadhu

Pengertian tawadhu artinya rendah hati dan tidak sombong. Secara istilah, tawadhu adalah bersikap rendah hati di hadapan Allah dan di hadapan hambaNya yakni sesama manusia.

Tawadhu’ merupakan sifat yang terpuji, dan setiap orang harus memiliki sifat ini.

Allah berfirman dalam surat Al Furqaan ayat 63, “Hamba-hamba Tuhan Yanag Maha Pengasih (hamba yang terpuji) yang berjalan di muka bumi dengan merendahkan diri (tawadhu’), dan apabila orang-orang yang boleh berbicara dengan mereka akan mengatakan keselamatan (yang mengandung selamat).”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah saw, “Tiada seseorang kecuali di atas kepalanya terdapat dua buah rantai. Rantai pertama sampai ke langit ketujuh dan rantai kedua sampai bumi ke tujun. Lalu apabila dia bertawadhu’, Allah akan mengangkatnya dengan rantai yang menuju ke langit ketujuh, dan apabila dia menyombongkan diri maka Allah akan merendahkannya dengan rantai yang menuju bumi ketujuh.”

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda, “Barang siapa yang bertawadhu’ maka Allah akan mengangkat derajatnyan dan barang siapa yang sombong maka Allah akan merendahkannya.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Nabi Muhammad telah bersabda, “Di antara tawadhu adalah seseorang mau minum sisa saudaranya. Tidaklah seseorang minum dari sisa saudaranya kecuali ditulis baginya 70 macam kebaikan, dihapus darinya 70 macam kejahatan dan diangkatlah derajatnya di surga Illiyyin tertinggi.”

Diriwayatkan dari Umar, dia berkata, “Pokok dari tawadhu’ adalah engkau mau memulai memberi salam pada orang yang engkau jumpai, engkau puas dengan tempt rendah dari suatu majlis dan engkau merasa tidak suka disebut orang yang berbuat kebajikan dan takwa.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin