Taubat Nasuha Dari Segala Dosa dan Kesalahan

Setiap manusia hendaklah selalu memohon ampun kepada Allah, tidak berbuat durhaka kepada-Nya, serta selalu membaca istighfar. Karena manusia sering berbuat kesalahan, maka seharusnya bertaubat kepada Allah. Hal ini seperti yang diuraikan dalam kisah di bawah ini.

Dari Anbi Hasyim Ash Shuufi berkata, “Aku pernah pergi menuju Bashrah. Datanglah aku pada sebuah perahu yang hendak aku naiki. Di dalam perahu itu terdapat seorang laki-laki disertai budak perempuan. Berkatalah laki-laki itu, ‘Tidak ada sebuah tempat dalam perahu ini.’ Tetapi budak perempuan itu minta kepadanya agar membawa aku beserta mereka, dan diapun mengabulkan.

Ketika kami telah berlayar, laki-laki memanggil untuk dibawakan makanan pagi, dan dihidangkanlah makanan pagi itu. Budak perempuan itu berkata, ‘Panggilah orang miskin itu agar dapat ikut makan bersama kita.’ maka datanglah aku sebagai orang miskin.

Ketika kami sedang makan berkatalah laki-laki itu, ‘Hai budak perempuan, bawa kemari minumanmu.’ Lalu minumlah laki-laki itu dan memerintahkan kepada perempuan itu memberiku minum.

Berkatalah budak perempuan itu, ‘Mudah-mudahan Allah memberimu rahmat, sesungguhnya tamu itu mempunyai sebuah hak.’ Lalu laki-laki itu membiarkan aku (tidak ikut minum arak). Ketika minuman itu telah menjalar pada laki-laki itu, maka dia berkata, ‘Hai budak perempuan, bawalah kemari gitarmu dan tunjukkan kebolehanmu.’

Lalu budak perempuan itupun mengambil gitarnya dan menyanyi. Kemudian laki-laki itu berpaling kepadaku dan berkata, ‘Apakah engkau juga dapat melakukan seperti ini?’ aku menjawab, ‘Aku mempunyai yang lebih bagus dan lebih utama daripada itu.’ Laki-laki itu berkata, ‘Coba katakanlah.’

Lalu akupun membaca, ‘A’uudzu billaahi minas syaithaanir rajiimi (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.’

Kemudian akupun membaca, ‘Apabila matahari telah digulung. Apabila bintang-bintang telah berjatuhan. Apabila gunung-gunung telah dihancurkan.’

Laki-laki itu kemudian menangis. Ketika aku sampai pada firman Allah, ‘Apabila buku-buku catatan amal telah dibuka.’ (At Takwir ayat 10). Berkatalah laki-laki itu, ‘Hai budak perempuan, pergilah. Sekarang engkau menjadi orang merdeka karena ridha Allah.’

Dilemparkan minuman arak yang ada padanya dan gitar dipecahkan. Kemudian dia kembali kepadaku dan merangkulku. Dia berkata, ‘Hai saudaraku, apakah engkau berpendapat bahwa Allah akan menerima taubatku?’

Aku menjawab, ‘Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai pula orang-orang yang menyucikan diri.’ (Al Baqarah ayat 222)

Setelah itu aku bersaudara dengannya dan kamipun berkawan selama 40 tahun hingga meninggal. Lalu aku bermimpi bertemu dengannya dalam tidurku. Aku bertanya kepadanya, ‘Kemanakah tempat tinggalmu?’ dia menjawab, ‘Ke surga.’ Aku bertanya lagi, ‘Sebab apa?’ diapun menjawab, ‘Sebab bacaanmu kepadaku (At Takwir ayat 10).’

Para ahli hikmah berkata bahwa siapa saja yng dianugerahi empat hal maka tidak akan terhalang dari empat yang lain, yaitu:

  1. Orang yang dianugerahi doa tidak akan terhalang dari terkabul. Karena firman Allah dalam surat Al Mu’min ayat 60, “Berdoalah kamu kepada-Ku, tentu Aku akan mengabulkan kepada kamu.”
  2. Orang yang dianugerahi bacaan istighfar tidak akan terhalang dari pengampunan. Karena firman Allah dalam surat Nuh ayat 10, “Sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang maha pengampun.”
  3. Orang dianugerahi syukur tidak akan terhalang dari tambahan nikmat. Karena firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7, “Sungguh jika kamu bersyukur maka Aku benar-benar akan menambahmu.”
  4. Orang yang dianugerahi taubat maka tidaklah dia dihalngi dari diterima. Karena firman Allah dalam surat Asy Syuuraa ayat 25, “Dialah Tuhan yang menerima taubat dari hamba-Nya dan memaafkan segala macam kejahatan, serta mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Keberkahan Taubat

Taubat merupakan sebuah hal yang hendaknya selalu dilakukan oleh setiap umat manusia. Artinya bahwa kita harus selalu memohon ampun kepada Allah, menyesali segala kesalahan yang telah dilakukan, serta tidak akan berbuat dosa lagi.

Keberkahan taubat itu akan menghinggapi orang-orang yang melakukan taubat secara sungguh-sungguh (taubatan nasuha), seperti kisah wanita pelacur di bawah ini.

Ada seorang wanita pelacur dari kaum Bani Israil, dia telah membuat banyak laki-laki tergila kepadanya. Pintu rumahnya selalu terbuka untuk siapa saja, dan laki-laki yang melihatnya pasti akan tergiur. Setiap orang rela membayar kepadanya agar bisa bersamanya.

Pada suatu hari ada seorang abid lewat di depan pintu rumahnya, dia memandang perempuan itu dan diapun tergoda. Abid itu berdoa kepada Allah agar menghilangkan gejolak jiwanya, tetapi dia tetap tidak bisa menghilangkan gejolak tersebut.

Abid itu menjual kain-kainnya dan apa saja yang ada pada dirinya. Dia telah berhasil mengumpulkan uang yang diperlukan, kemudian dia datang ke rumah pelacur tersebut.

Pelacur itu menyuruh agar dinar yang dibawa si abid diserahkan kepada tetangganya, yang memang ditugasi untuk mengumpulkan uang. Abid tersebut dijanjikan waktu kapan harus datang ke rumah pelacur.

 

Pada waktu yang telah dijanjikan datanglah abid tersebut ke rumah pelacur, kemudian dia masuk ke kamarnya. Setelah abid mengulurkan tangannya kepada wanita itu, Allah memberikan rahmat kepada si abid dengan sebab berkah ibadahnya dan taubatnya yang telah lalu.

Si abid berfikir bahwa Allah sedang melihatnya sedang dalam keadaan maksiat, kemudian dia menjadi takut, kulitnya berubah menjadi pucat. Pelacur itu berkata, “Apa yang menimpamu?” Abid menjawab, “Aku takut kepada Allah, maka ijinkan aku keluar.” Perempuan itu kemudian berkata lagi, “Celaka engkau, banyak sekali laki-laki yang mengharapkan apa yang telah engkau temukan ini. Lalu apa artinya yang engkau lakukan ini?”

Abid itu berkata, “Aku takut kepada Allah, dan uang yang aku serahkan itu adalah halal untukmu (aku relakan). Maka ijinkanlah aku keluar.” Perempuan itu berkata, “Apakah engkau tidak pernah mengerjakan seperti ini?” dia menjawab, “Tidak.”

Perempuan itu berkata, “Dari manakah engkau dan siapakah namamu?” Abid itu memberitahukan pada perempuan itu bahwa dia dari desa Anu dan namanya Fulan. Maka perempuan itu mengijinkannya keluar dari sisinya.

Abid itu keluar dengan menyerukan kata kecelakaan dan kerusakan serta menangisi dirinya. Timbul ketakutan di hati pelacur tersebut disebabkan berkah dari si abid. Berkatalah perempuan itu, “Perbuatan ini adalah dosa pertama yang mau dikerjakan laki-laki ini, tetapi dia telah mengalami ketakutan seperti itu. Sedang aku telah mengerjakan dosa sejak lama. Dan Tuhan yang ditakuti laki-laki ini adalah Tuhanku juga, maka ketakutanku kepada-Nya adalah harus lebih besar daripada laki-laki ini.”

Maka bertaubatlah pelacur itu kepada Allah dan mengunci pintu rumahnya untuk semua orang. Dia memakai pakaian usang dan menghadap kepada Allah, serta dia sangat taat dalam ibadahnya. Berkatalah dia, “Jika aku dapat sampai ke rumah laki-laki itu mungkin dia mau menikahi aku. Aku selalu berada di sisinya dan belajar perihal agama darinya, serta dia membantu aku dalam beribadah kepada Allah.”

Maka bersiaplah dia dan membawa harta dan pelayan yang dikehendakinya. Sampailah dia di desa itu dan bertanya mengenai laki-laki yang dimaksudnya. Abid pun diberitahu mengenai kedatangan seorang perempuan yang mencarinya.

Ketika perempuan itu melihat abid, dibukalah wajahnya agar abid dapat mengenalinya. Tetai ketika abid mengenalnya dan ingat kejadian yang ada di antara dirinya dengan perempuan itu, berteriaklah dia dengan keras dan keluarlah nyawanya saat itu juga.

Tinggallah perempuan itu bersedih dan berkata, “Aku keluar hanya untuk menemuinya, tetapi sekarang dia telah meninggal. Lalu apakah dia masih memiliki keluarga yang memerlukan seorang perempuan?”

Orang-orang yang ditemuinya berkata, “Sesungguhnya dia memiliki seorang saudara laki-laki shalih, hanya saja dia miskin.” Perempuan itu berkata, “Tidak mengapa, karena aku memiliki harta yang cukup.”

Datanglah saudaranya dan menikahinya. Akhirnya mereka dikaruniai 7 orang anak laki-laki dan semuanya menjadi Nabi dalam kalangan Bani Israil disebabkan keberkahan taubat.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Kemuliaan Yang Diberikan Oleh Allah Kepada Umat Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad merupakan Nabi dan Rasul yang terakhir, tidak akan ada lagi Nabi dan Rasul setelahnya. Nabi Muhammad merupakan teladan terbaik bagi seluruh umat manusia. Sebagai umatnya, kita harus selalu mencontoh dan berpedoman kepada sikap hidup Nabi Muhammad.

Taubat

Disebutkan bahwa Nabi Adam as berkata, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kepada ummat Muhammad SAW empat buah kemuliaan yang tidak diberikan-Nya kepadaku, yaitu:

  1. Diterimanya taubatku harus di Mekkah, sedang ummat Muhammad SAW dapat bertaubat di setiap tempat lalu Allah akan menrima taubat mereka itu.
  2. Sesungguhnya mulanya aku berpakaian, tetapi setelah aku berbuat durhaka Allah menjadikan aku telanjang. Sedangkan ummat Muhammad, mereka durhaka dalam keadaan telanjang lalu Allah memberi mereka berpakaian.
  3. Ketika aku berbuat durhaka Allah memisahkan aku dengan istriku. Sedangkan ummat Muhammad, mereka berbuat durhaka kepada Allah dan Allah tidak memisahkan di antara mereka dengan istri-istrinya.
  4. Aku berbuat durhaka di surga lalu Allah mengusirku dari surga itu. Sedangkan ummat Muhammad durhaka kepada Allah SWT di luar surga lalu mereka masuk ke dalamnya apabila mau bertaubat.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Kisah Taubat Hasan Al Bashri

Setiap manusia pernah melakukan kesalahan (dosa). Oleh karena itu kita harus selalu mohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan yang dilakukan, dan bertaubat dengan sesungguhnya.

Di bawah ini adalah kisah mengenai taubat yang dilakukan oleh Hasan Al Bashri.

Diceritakan dari Syaikh Imam Abu Nashr As Samarqandi, dia berkata, “Hasan Al Bashri pada waktu mudanya adalah pemuda yang tampan, memakai pakaian terbagus dan berkeliling dalam perkampungan di kota Bashrah serta bersenang-senang disana.

Pada suatu hari dia sedang berjalan-jalan, tiba-tiba dilihatnya seorang perempuanyang cantik dan baug potongan tubuhnya. Maka dia berjalan di belakangnya dan menolehlah perempuan itu kepadanya dan berkata, ‘Tidakkah engkau malu?’ Hasan menjawab, ‘Malu dengan siapa?’ perempuan itu berkata, ‘Malu dengan orang yang mengetahui pengkhianatan semua mata, dan apa yang dirahasiakan oleh dada manusia.’

Terpengaruhlah Hasan dan terjadi pergolakan dalam hatinya. Tetapi dia tidak dapat menahan diri dan tidak bisa menguasai nafsunya, serta tidak berhenti membuntuti perempuan tersebut.

Berkatalah perempuan itu setelah sampai di rumahnya, ‘Mengapa engkau datang kemari?’ Hasan berkata, ‘Aku tergoda dengan kedua matamu.’ Perempuan itu berkata, ‘Duduklah sehingga aku dapat mengatakan kepadamusesuatu yang engkau kehendaki.taubat

 

Hasan mengira bahwa perempuan itu telah tertarik kepadanya sebagaimana dia tertarik kepada perempuan tersebut. Maka duduklah dia dan ternyata seorang budak perempuan keluar membawa sebuah baki yang tertutup sapu tangan. Dibukanya baki tersebut, dan ternyata di atas baki itu ada kedua mata perempuan itu.

Berkatalah budak perempuan itu, ‘Tuanku puteri berkata bahwa dia tidak ingin sebuah mata yang menyebabkan seseorang terfitnah (tergoda).’

Setelah itu dia mendengar dan melihat penuturan budak tersebut, meremanglah kulitnya dan diapun memegang jenggot dengan tangannya seraya berkata, ‘Percuma engkau ini mempunyai jenggot tetapi engkau rendah daripada seorang perempuan.’

Dan menyesallah dia serta bertaubat seketika itu juga. Dia pulang dan semalaman menangis di rumahnya. Ketika pagi harinya dia datang ke rumah perempuan itu untuk meminta halal darinya. Ternyata diamelihat pintu rumahnya tertutup rapat, sedang perempuan-perempuan tukang menangisi mayat sedang menangis.

Hasan bertanya mengenai kejadian itu dan mendapatkan jawaban bahwa perempuan yang dimaksud dirinya telah meninggal. Maka kembalilah dia dan menangis sampai 3 hari. Lalu dia bermimpi pada malam ketiga bahwa dia melihat perempuan itu sedang duduk di surga.

Berkatalah Hasan kepada perempuan itu, ‘Jadikanlah aku dalam halal.’ Perempuan itu menjawab, ‘Aku telah menjadikanmu dalam halal. Karena aku telah memperoleh kebaikan besar dari Allah karena sebab engkau.’

Hasan kemudian berkata, ‘Berilah nasehat kepadaku.’ Perempuan itu berkata, ‘Apabila engkau menyadari maka berdzikirlah kepada Allah dan ketika pagi dan petang mohonlah ampun kepada Allah serta bertaubatlah kepada Allah.’

Hasan merupakan orang yang dikenal di kalangan manusia sebagai ahli zuhud dan taat, dan dia memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah serta termasuk wali-wali Allah SWT.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Keutamaan Bertaubat

Setiap umat manusia haruslah selalu bertaubat kepada Allah, memohon ampun kepada-Nya atas segala dosa yang telah dilakukan.

Allah berfirman dalam surat Asy Syuuraa ayat 25-26, “Dan Dalah Tuhan yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, dan memaafkan kejahatan-kejahatan serta mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dia mengabulkan orang-orang beriman dan beramal shalih dan menambah mereka dari sebahagian karunia-Nya, dan orang-orang kafir bagi mereka siksa yang dahsyat.”

dari Ali ra, taubat itu sebuah isim yang mempunyai enam arti, yaitu:

  1. Menyesali dosa yang telah lewat.
  2. Mengulang (menyusuli) fardhu-fardhu yang disia-siakan.
  3. Mengembalikan semua bentuk penganiayaan.
  4. Menghancurkan nafsu dalam perbuatan taat sebagaimana telah dipelihara dalam kemaksiatan.
  5. Membuatnya terpaksa menelan pahitnya taat setelah dibuatnya merasakan kelezatan maksiat.
  6. Menangis sebagai ganti dari tertawa-tawa yang pernah dilakukan.

Tergesa-gesa (Bersegera) yang disunnahkan

Disebutkan bahwa tergesa-gesa adalah dari perbuatan setan. Tetapi tergesa-gesa (bersegera) itu disunnatkan dalam lima tempat, yaitu:

  • Menguburkan mayat
  • Menikahkan anak-anak perempuan.
  • Membayar hutang.
  • Bertaubat setelah maksiat.
  • Menghidangkan makanan bagi musafir.

Dari Abu Dzar, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya bagi setiap penyakit terdapat obat, sedangkan obat bagi segala dosa adalah istighfar.”

Nabi Muhammad bersabda, “Hai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena aku sendiri selalu bertaubat dalam sehari seratus kali.”

Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang tidak memohon ampun kepada Allah dalam sehari dua kali, maka dia benar-benar telah menganiaya kepada dirinya sendiri.”

Diceritakan bahwa ada seorang pemuda dari kaum Bani Israil yang telah beribadah kepada Allah selama 20 tahun, kemudian diapun berbuat durhaka kepada Allah selama 20 tahun juga. Suatu hari dia memandang ke cermin, dilihatnya sebuah rambut putih pada jenggotya. Bersedihlah pemuda itu karena keadaan itu. Dia berkata, “Tuhanku, aku telah taat kepada-Mu selama 20 tahun, kemudian aku mendurhakai-Mu selama 20 tahun. Lalu jika aku kembali kepada-Mu, apakah Engkau akan menerimaku?” didengarlah orang berkata, “Engkau telah mencintai Kami maka Kamipun mencintaimu, engkau meninggalkan Kami maka Kamipun meninggalkanmu, dan engkau telah mendurhakai Kami lalu Kami menangguhkanmu. Jika sekarang engkau kembali maka Kamipun menerimamu.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin