4 perkara yang bisa membuat manusia taqwa

Menurut ba’dhul hukama i rahimahullah ta’ala, bahwa diantara harapan taqwa itu ada lima tanjakan, maksudnya tangga untuk naik. Siapa saja orang yang bisa melewati tanjakan tersebut, maka dia berarti merawat terhadap taqwa. Yang dimaksud tanjakan disini adalah meninggalkan macam-macam perkara yang diinginkan nafsu, serta menjauhi larangan Allah.

  1. memilih kesulitan atau berat dan mengakhirkan nikmat.
  2. memilih kepayahan atau kemasyaqatan, meninggalkan kesenangan (hilangnya kelelahan).
  3. memilih kelemahan atau dhaif, meninggalkan kegagahan atau kekuatan.
  4. memilih diam, dan meninggalkan berlebihan bicara (pembicaraan yang tidak ada kebaikannya).

Dan yang kelima adalah memilih mati dan mengakhirkan kehidupan. Dan yang disebut mati menurut ahlullah yaitu menundukan hawa nafsu. Siapa saja orang yang mati (yang melemahkan) hawa nafsunya, maka dia benar-benar hidup dengan menundukan hawa nafsu.

Mati itu ada empat bagian:

  • Mati ahmar (merah), yaitu membelakangi hawa nafsu.
  • Mati abyadh (putih), yaitu perut lapar, karena sebenar-benarnya perut lapar itu menerangi batin dan memutihkan wajah. Maka siapa saja orang yang mati dengan perut kenyang jadi hidup kepintarannya
  • Mati akhdhar (hijau), yaitu memakai pakaian yang ditambal lantaran sebagiannya sobek, yang sudah dibuang yang tidak ada harganya, dan lain-lain, disebabkan sangat qana’ahnya orang itu.
  • Mati aswad (hitam), memikul penderitaan dari makhluk (sesama manusia). Artinya eling kepada Allah dengan melihat penderitaan itu fana’ seperti fana’nya ciptaan Allah yang dicintai manusia.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Apa sajakah yang menjadi ciri-ciri orang yang bertaqwa

Keterangan yang diterima dari Sayyidina Utsman Radhiyallaahu ‘anhu, bahwa ada lima perkara yang menjadi ciri dari orang-orang yang bertaqwa.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan sampai seorang ‘abdi terhadap bukti sebagiannya muttaqin, sehingga dia tidak meninggalkan perkara yang tidak apa-apa, karena takut terhadap perkara yang ada akibatnya (jadi dosa).” Hadist Riwayat Tirmidzidan Hakim

Yang lima perkara itu adalah:

  • Tidak pernah mau duduk bareng atau berkumpul, kecuali bersama dengan orang-orang yang bisa menjadikan kemaslahatan dalam agamanya, serta bisa menutup nafsu syahwatnya dan juga lidahnya. Misalnya seperti melarang orang itu terhadap berlebihan dalam berjima dan omongan (pembicaraan).
  • Dimana-mana kena atau menimpa suatu perkara yang besar kepada seseorang dalam bidang dunia, maka dia sering melihat terhadap perkara dunia yang besar itu kerepotan, artinya repot karena buruk akibatnya.
  • Apabila menimpa ke ‘abdi (seseorang) perkara yang sedikit dalam bidang agama, maka dia akan merasa untung terhadap perkara tersebut. Artinya dia berprinsip bahwa sedikitnya dalam perkara agama, itu adalah untung yang sangat besar.
  • Orang yang tidak memenuhi perutnya dengan perkara yang halal, karena takut tercampuri dengan perkara yang haram.
  • Orang yang melihat orang lain atau teman-temannya semua sudah selamat. Artinya selamat dari kecelakaan karena bagus dalam mu’amalahnya/pergaulannya dan hubungannya dengan Allah (hablum minallaah). Sedangkan dia melihat dirinya sendiri ada dalam kecelakaan, maksudnya terhadap dosanya, keburukan mu’amalahnya dan buruknya dia kepada Allah swt.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Inilah Keutamaan dan Pentingnya Ibadah serta Taqwa

Ibadah itu merupakan suatu pekerjaan, maksudnya perusahaan atau tempat usaha dari berbagai jihat (sisi). Sedangkan warungnya adalah hirfah, yaitu berdiam diri. Artinya warungnya hirfah adalah berbicara sir (rasa) dengan Allah sekira-kiranya tidak ada siapa-siapa.

Sedangkan modalnya usaha (hirfah) adalah taqwa, artinya yang menjadi pokoknya tingkah ibadah adalah menjaga badan dari perkara yang menjadi sebab mendapat siksa dari mengerjakannya atau meninggalkannya.

Dan kalau untungnya usaha itu  (hirfah) adalah surga, yaitu tempat ganjaran dan segala perkara yang ada di dalam surga.

Setiap manusia yang hidup di dunia ini hendaknya mengetahui fungsi dirinya, atau tugas dia hidup di dunia. Manusia itu adalah khalifah di muka bumi, oleh karena itu seharusnya bisa memaksimalkan kemampuan dirinya dalam beribadah kepada Allah.

Di dalam agama islam terdapat segala aturan yang mengatur hidup manusia di muka bumi. Ketika manusia bisa melaksanakan aturan ini dengan baik, maka pasti semuanya akan berjalan dengan baik.

Setiap manusia hendaknya melaksanakan segala perkara yang diperintahkan oleh Allah, dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena apabila kita amal shalihnya banyak dan mendapat ridha Allah, maka kita akan masuk surga, dan apabila kita lebih banyak berma’siyat kepada Allah, maka akan masuk neraka.

Surga dan neraka diciptakan oleh Allah sebagai balasan bagi makhluk-Nya selama hidup di dunia. Oleh karena itu, kita harus takut akan siksaan Allah, dan mengharapkan ridha Allah agar memasukkan kita ke dalam surga.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar