Mengapa Harus Bertakwa Kepada Allah

Siapa saja orang yang tidak menghadap Allah swt yang tidak disebabkan datangnya kebaikan yang halus, maka bakal diikat dengan macam-macam rantai cobaan.

Penjelasan : Tiap detik Allah swt memberikan kenikmatan yang tidak terbilang kepada ‘abdi-Nya. Oleh karena itu ‘abdinya Allah harus menjadikan kenikmatan itu harus dijadikan jalan untuk menggapai ridho Allah.

Siapa saja orang yang tidak menghadap kepada Allah atau merasa tidak diberi oleh Allah, maka oleh Allah akan diborgol dengan rantai cobaan, tegasnya akan dipenuhi dengan macam-macam cobaan, agar kembali kepada Allah.

Oleh karena itu kita harus sadar sendiri sebelum disentil/ditegur oleh Allah. Kalau kita tidak ingin banyak cobaan, maka harus sadar menghadap Allah, membuat kenikmatan yang diberikan-Nya sebagai jalan untuk taqwa kepada Allah.

Perlu diketahui juga bahwa ‘abdinya Allah ada tiga golongan :

  1. Golongan ashabussimaal. Yaitu tidak menghadap Allah.
  2. Golongan ashabul yamin. Orang-orang yang menghadap Allah tetapi belum punya keistimewaan, sebab golongan ini masih menganggap cukup dengan dhohirnya syariat. Maka tidak sampai ke jalan thoriqot dan hakikat.
  3. Golongan sabiqun. Menghadap Allah sambil berusaha ingin sampai ma’rifat ke Allah.
  4. Menghadap Allah karena Allah memberi macam-macam kebaikan, serta mensyukuri macam-macam kenikmatan dan karunianya. (golongan maqoomussukaari). Golongan ini menghadap Allah dengan kesadaran
  5. Menghadap Allah dengan adanya macam-macam cobaan, sehingga cobaan itu dipakai sarana untuk bersabar dan ridho. Golongan ini menghadap dengan paksaan.

Firman Allah swt : walillaahi yasjudu man fissamaawati walardi thou’an wakarhan.

Menurut Abu Madin ra : sebenar-benarnya Allah sering membuat seseorang merasa cukup (kaya hati), dan keselamatan supaya tho’at kepada Allah, serta agar balik ke Allah dengan kenikmatannya. Dan kalau tidak kembali ke Allah, maka oleh Allah sering dicoba dengan kesibukan agar mereka kembali.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keenam puluh tiga)