Tanda-tanda Takut Orang Beriman

Menurut Al Faqih Abul Laits, bahwa tanda-tanda takut itu dapat terlihat dari delapan hal, yaitu:

  1. Terlihat jelas dari lidahnya, yaitu dia menahan lidahnya dari bohong, menggunjing, perkataan yang tidak ada gunanya serta menjadikan lidah itu selalu sibuk dengan dzikir kepada Allah, membaca Al Qur’an dan mudzakarah ilmu.
  2. Takut mengenai perihal perutnya. Dia tidak memasukkan ke dalam perutnya kecuali perkar halal yang sedikit dan makan yang halal menurut kadar keperluannya saja.
  3. Dia akan takut mengenai perihal penglihatannya saja. Dia tidak akan memandang kepada hal yang haram, dan tidak pula memandang dunia dengan pandangan cinta tetapi memandangnya dengan mengambil pelajaran.
  4. Dia takut dalam perihal tangannya. Dia tidak akan mengulurkan tangannya kepada hal yang haram, tetapi dia hanya mengulurkan kepada apa saja yang berbau taat kepada Allah.
  5. Dia takut dalam perihal kedua telapak kakinya. Dia tidak akan berjalan ke dalam maksiat kepada Allah, tetapi dia hanya berjalan menuju taat kepada Allah.
  6. Dia takut dalam perihal hatinya. Dia akan mengusir dari hatinya permusuhan, benci dan dengki kepada saudara muslim, tetapi mengisi hatinya nasehat dan belas kasih terhadap kaum muslim.
  7. Dia akan takut dalam urusan taatnya kepada Allah. dia akan menjadikan taatnya ikhlas untuk Allah swt, dan takut riya serta kemunafikan.
  8. Dia takut mengenai perihal pendengarannya. Dia tidak akan mendengarkan kecuali sesuatu yang haq.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Rasa Takut Terhadap Siksa Allah

Seluruh makhluk harus takut kepada Allah, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 40, “Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus takut (tunduk).”

Surat Ali Imran ayat 175, “Dan takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

Dalam kedua ayat tersebut, ternyata Allah memerintahkan kita selaku hamba-Nya untuk takut kepada siksaan-Nya, bahkan diwajibkan. Oleh sebab itu, belum dikatakan sempurna iman seseorang, jika tidak merasa takut kepada Allah, menunjukkan ma’rifat dan keimanan kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah diantara kamu da yang paling takut kepada-Nya.”

Rasulullah bersabda, “Pangkal hikmah ialah takut kepada Allah.”

Ibnu Hibban juga telah meriwayatkan sebuah hadis qudsi yang bersumber dari Abu Hurairah, yang artinya sebagai berikut:

Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan dua ketakutan di hati hamba-Ku, dan Aku juga tidak mengumpulkan juga dua kesentosaan di dalamnya. Jika hamba-Ku merasa sentosa dari siksaan-Ku, maka akan Kutakuti nanti pada hari kiamat. Jika di dunia takut pada siksaan-Ku, maka nanti pada hari kiamat akan Kusentosakan.

Rasulullah bersabda, “Jika kulit hamba menggigil lantaran takut kepada siksaan Allah, maka dosa kesalahannya akan gugur sebagaimana daun rontok dari pohon yang kering.”

Al Hasan berkata, “Sesungguhnya seorang lelaki mengerjakan dosa, lalu diingatnya, kemudian dihantui rasa takut kepada Allah atas perbuatannya itu, akhirnya ia dimasukkan ke dalam surga.”

Ka’bul Ahbar juga berkata, “Sesungguhnnya seorang lelaki dari kalangan Bani Israil berbuat dosa, lalu susah, akhirnya pergi kesana kemari hanya untuk mencari perbuatan yang dapat menyebabkan ridhanya Allah, sehingga tercatat sebagai shiddiq.

Sementara menurut Al Fudhail, “barang siapa yang takut akan siksaan Allah, maka sikapnya yang sedemikian ini akan memerangi jalan untuk dipermudah berbuat kebajikan.”

Sa’id bin Jubair ketika ditanya tentang takut kepada Allah, jawabnya, “Hendaklah kamu takut pada-Nya sehingga ketakutan ini dapat menghalangimu untuk mengerjakan perkara yang dilarang.”

Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda”

Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah gunung. Dia selalu takut kejatuhan gunung. Dan sesungguhnya orang yang durhaka akan melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap pada hidungnya, lalu masuk ke lubangnya dengan tangannya akhirnya terbang lagi.

Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Uqbah bin Amir diterangkan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Amal perbuatan apakah yang dapat menyelematkan, wahai Rasulullah?” lalu beliau bersabda, Kuasailah lidahmu, dan menangislah atas kesalahanmu.”

Rasulullah SAW bersabda:

Seorang lelaki yang menangis karena takut kepada siksaan Allah yang Maha Tinggi, tidak akan masuk ke dalam neraka, sebagaimana air susu yang tidak dapat kembali ke dalam tetek. Dan tidak akan bersatu debu (yang pernah menempel ke tubuh orang yang berjihad di jalan Allah) dengan asap neraka jahanam.

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah telah bersabda:

Tujuh orang yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan Arsy-Nya di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu:

  1. Pemimpin yang adil
  2. Pemuda yang setiap harinya selalu beribadah kepada Allah.
  3. Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah yang Maha Mulia lagi Maha Agung.
  4. Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan cantik untuk berzina, tetapi lelaki itu berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada siksaan Allah.”
  5. Seorang lelaki yang bersedekah dengan tangan kanannya, lalu tangan kirinya tidak mengetahuinya (bersedekah dengan cara yang samar).
  6. Seorang lelaki yang hatinya selalu tertarik untuk pergi ke masjid (untuk berjamaah di dalamnya).
  7. Orang-orang yang selalu ingat kepada Allah di tempat yang sunyi lalu meneteskan air matanya.

Keutamaan Takut Kepada Allah

Dalam menjalani hidup di dunia ini, setiap orang harus merasa takut kepada Allah, dan harus memiliki perasaan bahwa Allah tahu setiap perbuatan dan gerak-gerik kita di dunia. Sehingga bila hal ini (perasaan takut kepada Allah) tertanam dalam jiwa, maka akan menjauhkan kita dari kemaksiatan.

Banyak sekali keterangan dari hadis dan perkataan para ulama mengenai keharusan memiliki perasaan takut kepada Allah, beberapa diantaranya adalah:

Abdullah bin Amar bin Al Ash berkata, “Aku mencucurkan air mata setetes itu lebih senang daripada aku bersedekah seribu dinar.”

Ka’bul Ahbar berkata, “Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan kekuasaan-Nya, aku menangis karena takut pada Allah, sehingga ar mataku bercucuran membasahi pipiku lebih aku sukai daripada aku bersedekah dengan satu gunung emas.”

Auf bin Abdullah pernah berkata, “Aku pernah mendengar bahwa tubuh seseorang yang terkena tetesan air mata yang menangis karena takut kepada Allah, diharamkan dibakar dengan api neraka.”

Muhammad bin Al Mundakir jika menangis karena takut kepada Allah, maka mengusapkan air matanya itu ke muka jenggotnya, lalu berkata, “Aku pernah mendengar bahwa api neraka tidak akan membakar daerah tubuh yang dibasahi dengannya.”

Atha’ juga berkata, “Aku bersama Ubaid bin Umar masuk ke rumah Aisyah, lalu Aisyah berkata, “Sungguh telah tiba saat bagimu untuk berkunjung kepada kami.” Lalu aku berkata, “Wahai istri Rasulullah, aku akan berkata sebagaimana ada pepatah yang mengatakan, ‘Berjuanglah jarang-jarang, kamu akan bertambah senang.’ Aisyah berkata, “Sudahlah, aku tidak membutuhkan segala omongan ini, sekarang apa yang menjadi kebutuhanmu?” ibnu Umar menjawab, “Beritahukanlah aku tentang sesuatu yang mengagumkan yang pernah kamu lihat pada diri Rasulullah SAW.” Lalu Aisyah diam sejenak, kemudian berkata, “Pada suatu malam Rasulullah SAW bersabda kepadaku sebagai berikut:

“Wahai Aisyah, biarkan aku malam ini beribadah untuk Tuhanku.” Aku berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku senang berdekatan denganmu, tapi aku juga senang memberikan apa yang menjadi kesenanganmu.” Lalu Aisyah melanjutkan pembicaraannya, “Lalu Rasulullah bangun dan bersuci, kemudian berdiri untuk mengerjakan shalat. Lalu tak henti-hentinya beliau menangis sehingga membasahi pangkuannya.”

Aisyah berkata, “Rasulullah SAW duduk, lalu tak henti-hentinya menangis, hingga tetesan air matanya membasahi jenggotnya.”

Aisyah melanjutkan perkataannya, “Kemudian beliau menangis lagi, bahkan kali ini tak berhenti menangis sehingga air matanya membasahi tanah. Akhirnya datanglah Bilal untuk mengumandangkan azan salat subuh. Ketika Bilal melihat Rasulullah SAW menangis, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa kamu menangis, sungguh Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Lalu Rasulullah bersabda, “Tidakkah selayaknya aku menjadi hamba yang selalu bersyukur kepada Allah?”

Rasa Takut Kepada Allah

Dalam menjalani hidup di dunia ini, setiap orang harus merasa takut kepada Allah, dan harus memiliki perasaan bahwa Allah tahu setiap perbuatan dan gerak-gerik kita di dunia. Sehingga bila hal ini (perasaan takut kepada Allah) tertanam dalam jiwa, maka akan menjauhkan kita dari kemaksiatan.

Dibawah ini keterangan atau kisah yang menjelaskan mengenai penyesalan atau rasa takut dari Nabi Adam dan Nabi Nuh setelah melakukan dosa kepada Allah.

Imam Ghazali telah menerangkan bahwa Nabi Adam sebagai orang yang terpilih di sisi Allah, sekaligus sebagai nabi yang diciptakan langsung dengan tangan Allah. para malaikat diperintahkan bersujud kepadanya, bahkan para malaikat yang memikulnya pergi ke surga. Tapi ketika Nabi Adam memakan makanan yang dilarang oleh Allah, maka tidak diizinkan lagi untuk tinggal di surga. Lalu ada suara yang memanggilnya, “Tidak layak duduk berdekatan dengan-Ku (Allah) orang yang bermaksiat kepada-Ku.” Lalu Allah memerintahkan kepada malaikat yang memikulnya agar menurunkannya dari langit ke langit yang lebih rendah, hingga sampai ke bumi.

Pada waktu itu, Nabi Adam juga telah bertaubat, tapi ternyata tidak diterima oleh Allah, sehingga menurut sebagian riwayat, bahwa Nabi Adam tersu menangis (lantaran kesalahan sekali) selama seratus tahun. Akhirnya Nabi Adam mengalami beberapa cobaan yang sangat berat. Sehingga anak cucunya juga turut menanggung resikonya untuk selamanya.

Sesungguhnya Nabi Nuh telah mengalami beberapa cobaan dalam dakwahnya. Tapi pada suatu malam ia berkata yang dianggap tidak layak di sisi Allah, lalu Allah berfirman, “Janganlah kamu meminta sesuatu kepada-Ku yang kamu tidak mengetahui duduk perkaranya. Sesungguhnya Aku memberi nasihat padamu agar tidak tergolong orang-orang yang bodoh.”

Sehingga dalam sebagian riwayat diterangkan lantaran teguran itu, Nabi Nuh tidak berani memandang ke langit. Ia selalu menundukkan kepalanya lantaran malu kepada Allah.

Al Hasan berkata, “Sesungguhnya Nabi Adam menangis ketika diturunkan ke bumi itu selama 300 tahun, sehingga lembah-lembah Sarandib terisi air matanya sehingga dapat mengalir.”

Wahab bin Al Warad berkata, “Sesungguhnya Nabi Nuh menangis selama 300 tahun, sehingga pipinya terdapat garis-garis dikarenakan banyak menangis.”

Menangis Karena Takut Kepada Allah

Kita semua harus memiliki perasaan takut kepada Allah, karena Dialah yang menciptakan seluruh makhluk, dan atas kehendak-Nya kita hidup. Ada banyak sekali riwayat yang menceritakan mengenai para Nabi, sahabat nabi, dan ulama yang memiliki rasa takut yang luar biasa kepada Allah.

Menurut Imam Mujahid, bahwa Nabi Dawud pernah menangis sambil bersujud selama 40 hari, dan tidak pernah mengangkat kepalanya. sehingga tumbuh rerumputan di sekelilingnya lantaran terkena air matanya. Akhirnya rerumputan itu menutupi kepalanya. lalu ada suara yang memanggil, “Wahai Abu Dawud, apakah kamu lapar sehingga Aku memberi makan, apakah kamu kehausan sehingga Aku yang memberimu minum, ataukah kamu telanjang sehingga Aku yang memberimu pakaian?”

Akhirnya Nabi Dawud merintih dengan suara keras yang membuat kayu di sekitarnya menjadi kering lantaran uap yang selalu keluar dari dada Nabi Dawud, lalu terbakarlah kayu itu.

Kemudian Allah menerima taubatnya dan mengampuni dosa-dosanya. Lalu Nabi Dawud berkata, “Wahai Tuhanku, jadikanlah kesalahanku tertulis di tanganku.” Akhirnya diterima doanya oleh Allah, dan tapak tangannya tertulis kesalahan tersebut. jadi Nabi Dawud tidak membentangkan tapak tangannya untuk makan, minum, dan lain sebagainya melainkan akan terlihat tulisan itu, sehingga menangis kembali.

Abdullah bin Umar telah berkata, “Yahya bin Zakariya menangis hingga dua pipinya terbelah-belah, sehingga giginya kelihatan. Lalu ibunya berkata, ‘Wahai anakku, jika kamu memberi izin kepadaku, maka aku akan membuatkanmu dua potong kain dari bulu untuk menutupi gigimu yang kelihatan orang banyak.’ Lalu Nabi Yahya memberikan izin kepadanya. Lalu dua potong kain itu ditempelkan pada kedua pipinya.

Jadi, jika Nabi Yahya menangis maka kedua potong kain itu akan dipenuhi dengan air mata yang mengalir. Lalu ibunya menghampirinya lalu memeras kain itu sehingga air mata Nabi Yahya mengalir ke lengan ibunya.”

Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Aisyah, bahwa Abu Bakar adalah lelaki yang suka menangis, tidak dapat menahan air matanya jika ia sedang membaca Al Qur’an.

Abdullah bin Isa berkata, “Wajah Umar bin Khatthab terdapat dua garis hitam yang selalu dilalui oleh air matanya ketika menangis.”

Abu Bakar Shiddiq pernah berkata, “Aduhai, jika aku dahulu diciptakan menjadi rambut di dada orang mukmin.”

Ketika akan meninggal dunia, Umar berkata, “Sungguh celaka Umar, jika dosanya tidak diampuni oleh Allah.”

Ibnu Abbas juga sering menangis lantaran takut kepada Allah sehingga tubuhnya bagaikan geriba kecil yang lusuh. Begitu juga muridnya Sa’id bin Jubair menangis, lantaran takut kepada Allah, sehingga kedua matanya kabur penglihatannya.”