Pengertian Takabur dan Contoh Sifat Takabur

Setiap orang dilarang untuk berlaku sombong terhadap orang lain (hamba Allah), karena hal ini merupakan perbuatan tercela dan tergolong ke dalam maksiat hati.

Takabur itu sering disebut juga sombong, congkak dan membanggakan diri, ia menganggap dirinya paling baik dari orang lain dan meremehkan para manusia. Tetapi takbur terhadap musuh Allah, orang-orang fasik dan aniaya serta orang yang ahli sombong dalam kemegahan dunia tidak mengapa bahkan dituntuk menurut syara’. Adapun berpakaian indah, berkendaraan dan makan yang baik dengan pikiran yang baik (mensyukuri nikmat Allah untuk sarana melakukan ketaatan) tidak disebut takabur. Berdasarkan sabda Nabi Saw:

“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, menyukai keindahan.”

Takabur merupakan penyakit rohaniah yang berbahaya, yang akan membawa orangnya disiksa oleh Allah di neraka. Nabi Saw telah bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat debu.”

Maksudnya, perbuatan takabur dan orangnya menyebabkan dirinya tidak akan masuk surga, orang takabur merasa dirinya agung dan besar selainnya tidak, dan pada hari kiamat nanti dialah pewaris jahanam.

Diriwayatkan bahwa Nabi Saw pernah menyuruh para sahabatnya dalam perjalanan untuk menyembelih kambing. Seorang sahabat mengatakan, “Sayalah yang menyembelihnya.” Sahabat lain berkatam, “Sayalah yang menyayati kulitnya.” Dan sahabat lain berkata, “Saya yang memasaknya.” Kemudian Nabi bersabda, “Dan sayalah yang mengumpulkan (mencarikan) kayu untuk kamu semua.”

Ibnu Abbas berkata, Nabi Saw apabila melihat pada cermin beliau membaca:

اَلْحَمْدُلِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ الَّذِىْ اَحْسَنَ خَلْقٖى وَسَوَّى خُلُقِى وَجَعَلَنِىْ بَشَرًاسَوِيًّاوَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiinal ladzii ahsana khalqii wasawwa khuliqa waja’alanii basyaran sawiyyan walaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiimi.

“Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang membuat bagus kejadianku dan menyempurnakan akhlakku, dan menjadikan aku sebagai manusia yang sempurna. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi maha Agung.”

Ibnu Abbas berkata, “Saya tidak pernah meninggalkan bacan itu sejak saya mendengarnya dari Nabi Saw dan beliau mengatakan, ‘muka orang yang membacanya tak akan tersentuk kejelekan selamanya.”

Dan dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw bahwa beliau tidak pernah melihat dalam cermin pada waktu malam, karena hal itu dapat menyebabkan mata menjadi juling.

Inilah Perbedaan Antara Maksiyat Yang Timbul Dari Syahwat dan Takabur

Keterangan yang diterima oleh Sufyan ats Tsauri rhadiyallaahu ‘anhu, yaitu yang menjadi gurunya Imam Malik. Tiap-tiap maksiyat yang timbul dari syahwat, tegasnya dari sangat menginginkannya nafsu terhadap suatu perkara, maka itu bisa diharap-harap pengampunannya dari maksiyat tersebut.

Dan tiap-tiap maksiyat yang timbul dari takabur, yaitu mengaku-ngaku diri utama, maka tidak bisa diharap-harap pengampunannya maksiyat tersebut. Sebab sebenar-benarnya maksiyatnya iblis itu terbukti asalnya dari takabur.

Yaitu berprangka dengan prasangka yang salah, bahwa setan itu lebih bagus daripada Sayyidina Adam ‘alaihis salam. Dan juga karena terpelesetnya Nabi Adam itu bukti asalnya dari syahwat. Disebabkan keinginannya yang kuat ingin merasakan buah pohon syahwat yang dilarang untuk dimakan.

Siapa Saja Orang Yang Dimasukkan Ke Surga dan Ke Neraka Oleh Allah

Keterangan yang diterima dari ahli tapa, yaitu orang-orang yang menghitung hina terhadap dunia dan tidak tergoda oleh dunia, tetapi sering mencari dunia hanya sekedar untuk menjauhkan madharat, seperti tidak sampai lapar, jangan sampai anak istri tidak diberi makan, dan diberi rumah, serta tidak diberi baju.

Siapa saja orang yang berdosa dengan suatu dosa, tegasnya siapa saja orang menanggung suatu dosa sambil tertawa-tawa, maksudnya dia senang dalam melakukan dosa, maka sebenar-benarnya Allah bakal memasukkan orang tersebut ke dalam neraka sambil menangis. Sebab seharusnya orang yang berdosa itu harus merasa nelangsa dan istighfar kepada Allah karena dosanya.

Dan siapa saja orang yang tho’at kepada Allah sambil menangis berurai air mata, dikarenakan malu oleh Allah dan takut akan siksaan-Nya, karena merasa diri lalai dalam ketho’atannya, maka Allah swt akan memasukkan orang tersebut ke surga sambil tertawa (bahagia). Dengan bahagia yang sangat, karena hasil yang ditujunya adalah pengampunan Allah.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

 

Mengapa Manusia Tidak Boleh Memiliki Sifat Takabur

‘Abdinya Allah itu tidak boleh memiliki sifat yang hanya pantas dimiliki oleh Allah, yaitu seperti manusia tidak boleh memiliki sifat takabur. Sebab sifat kibriya’ dan sifat ‘udmah tidak pantas adanya di makhluk.

Firman Allah dalam hadist qudsi “Maha Bersih Allah bahwa sebenar-benarnya sifat kibriya’ (takabur) adalah selendang-Ku, dan sifat ‘udmah adalah sarung-Ku. Siapa saja orang yang menyebut Aku dengan salah satunya (selendang atau sarung), maka oleh Aku akan diputus”. Tegasnya bahwa dua sifat tersebut sudah tentu ada di Allah swt baik itu bahasanya maupun isinya. Sehingga apabila ada orang yang memiliki dua sifat ini akan dilaknat oleh Allah swt.

Innallaaha laa yuhibbul mutakabbiriin, bahwa sifat takabur tidak boleh diakui oleh makhluk. Sebab mengakui barang milik orang lain juga (sesama makhluk) itu juga tidak boleh, apalagi mengakui barang Allah.

Dan juga apabila kita mendapatkan kemulyaan dan kesempurnaan dari Allah, maka harus dipelihara (disembunyikan) jangan dibukakan ke orang lain. Allah tidak suka terhadap ‘abdinya yang suka menonjol-nonjolkan keagungan, apalagi seperti yang menyamai Allah dalam keagungannya, dan kekuasaannya.

Sifat Allah itu ada yang pantas dalam bahasanya ada di makhluk, seperti makhluk yang alim itu dipuji oleh Allah, orang muslim yang pintar atau kuat dalam memegang/mendirikan agama. tetapi ilmu yang ada di makhluk itu hanya sekedar sama bahasanya, karena kalau isinya ilmu Allah yang qadim, sedangkan ilmu manusia sangat berbeda.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus dua puluh tiga)