Bersyukur Kepada Allah dan Kepada Sesama Manusia

Di bawah ini akan dijelaskan tentang keharusan manusia dalam mensyukuri nikmat, yaitu nikmat dunia dan kenikmatan akhirat. Maksudnya nikmat agama, pertamanya harus bersyukur kepada Allah dengan hati bahwa sebenar-benarnya yang memberi itu adalah Allah swt. dan yang keduanya yaitu mensyukuri dengan lisan kepada orang yang memberinya.

Jadi apabila kita mendapatkan kenikmatan, syari’atnya itu dari sesama manusia tetapi hakikatnya adalah dari Allah swt. oleh karena itu kita diperintahkan untuk bersyukur kepada sesama manusia dan kepada Allah swt.

Bersyukur kepada sesama manusia adalah dengan cara mendoakan dan memberikan pujian, artinya berterima kasih terhadap kebaikan yang sudah diberikannya.

Nah bersyukur kepada sesama manusia dan kepada Allah itu diperintahkan dalam firman Allah swt: anisy kur lii waliwalidaika, Allah swt memerintahkan kepada kita untuk bersyukur kepada-Nya yang Agung dan kepada kedua orang tua (ibu dan bapak).

Dan didalam hadist yang diterima oleh Nu’man bin Basyir, bahwa Nabi saw bersabda: “man lam yasykuril qaliila, lam yasykuril katsiira waman lam yasykurinnaas lam yasykurillaaha”, orang yang tidak mau mensyukuri nikmat yang sedikit, maksudnya nikmat-nikmat dunia, maka tidak mau mensyukuri nikmat yang besar. Dan orang yang tidak mau bersyukur ke sesama manusia, dia tidak mau bersyukur kepada Allah swt.

Allah swt memerintahkan dimana-mana kita mendapatkan pemberian dari orang lain, kita jangan dulu menerima pemberian tersebut, kecuali harus ingat terlebih dahulu bahwa hakikatnya yang memberi itu adalah Allah. Maka dimana sudah ingat seperti itu, maka ambillah sesuai dengan yang diperbolehkan oleh syara (yang halal, yang haram jangan diambil).

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam puluh empat)

Mensyukuri Nikmat Pemberian Dari Allah

Orang yang sempurna ma’rifatnya kepada Allah swt dan beriman terhadap qadha dan qadar, dan terhadap segala kehendak-Nya merupakan hal yang sangat baik. Karena Allah akan menghendaki terhadap segala kehendak-Nya dan semua pilihan-Nya. Sedangkan tidak ada pilihan yang lebih utama selain dari pilihan Allah.

Maka menurut ahli ma’rifat semua kehendak Allah itu bagus, tegasnya kalau memberi bagus dengan memberinya, kalau nolak bagus dengan nolaknya. Apabila diberi, dirinya tidak terlalu senang, dan apabila ditolak dirinya tidak prihatin. Sebab pemberian-Nya dan penolakan-Nya sama-sama bagus. Terutama bila melihat segala tugas yang perlu dikerjakan dalam menghadapi takdir Allah, maka orang yang diberi oleh Allah harus bisa mensyukurinya, kalau tidak bisa dia diancam dengan siksaan. Seperti yang difirmankan Allah: la in kafartum inna ‘adzabii lasyadiidun”, tegasnya kalau kita tidak mensyukuri segala kenikmatan (kufur nikmat) maka akan didatangan (diberi) siksaan.

Oleh karena itu dengan diberi oleh Allah, maka ditugaskan atau diperintahkan untuk mensyukurinya. Ahli ma’rifat tidak terlalu senang dengan pemberian Allah, malah sering prihatin, karena takut tidak bisa mensyukurinya. Sedangkan apabila ditolak ahli ma’rifat tersebut tidak prihatin dengan penolakan-Nya.

Sebab dia berfikiran bahwa Allah akan memberikan yang lainnya yang lebih maslahat, atau diberikannya nanti (setelah waktu yang lama) agar maslahat. Jadi apabila ahli ma’rifat keinginannya tidak dilaksanakan (dikabulkan) oleh Allah, dia tidak merasa prihatin.

Kalau kita memiliki keinginan dihadapan Allah, tetapi kita memiliki perasaan senang apabila diberi dan prihatin apabila tidak diberi. Seperti orang yang menginginkan kawin dengan seseorang, kalau tidak terwujud dia akan ngamuk. Nah hal ini menunjukkan adanya sifat buruk di diri kita, yaitu pikirannya hanya senang diberi saja. Dia tidak ingat atau tidak memiliki rasa malu, dan tidak takut berdosa, yang penting adalah bahwa dirinya diberi. Sehingga kalau diberi senang kalau tidak diberi bingung, serta tidak memperhatikan akibatnya kalau diberi.

Seharusnya apabila kita diberi kita harus senang dan bersyukur kepada Allah (yang memberinya). Sehingga dengan bersyukur kita akan mendapatkan keridhaan dari Allah swt. Tetapi dimana-mana keinginan kita tidak dikabulkan oleh Allah, maka kita jangan merasa prihatin, kecuali apabila kehilangan keimanan. Bahwa sebenar-benarnya kehendak Allah itu adalah pilihan-Nya, sedangkan tidak ada pilihan yang lebih utama daripada pilihan Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus empat puluh empat)

Mengapa Kita Harus Sering Bersyukur

Siapa saja orang yang tidak mensyukuri nikmat, maka itu sama saja dengan menghilangkan nikmat, tegasnya mengusir kenikmatan. Sedangkan orang yang mensyukuri nikmat, maka sama saja dengan mengikat kenikmatan itu.

Penjelasan : Disini akan dijelaskan tentang pentingnya mensyukuri nikmat dan bahayanya kufur nikmat.

Kufur nikmat berarti ngusir terhadap macam-macam kenikmatan, sedangkan mensyukuri nikmat itu berarti mengikat terhadap nikmat tersebut. Hal ini sesuai dengan peribahasa mensyukuri nikmat itu jadi tali bagi nikmat yang sudah ada, dan perburuannya nikmat yang belum ada. Orang yang diberi nikmat tetapi dia tidak mensyukurinya, maka akan dicabut kenikmatannya dengan tidak terasa.

Berubahnya syukuran itu adalah sibuknya seseorang dengan kemaksiyatan dan kufur. Maka orang yang mengolah kenikmatan dipake maksiyat itu berarti tidak bersyukur, sehingga oleh Allah akan dirobah, maksudnya akan dihilangkan kenikmatannya.

Bersyukur itu ada 3 bagian :

  1. Bersyukur dengan lisan. Menceritakan kenikmatan Allah seperti firman-Nya waammaa bini’mati robbika fahaddits.
  2. Syukuran dengan arkan (jawarih), mengolah kenikmatan seperti seharusnya menurut Allah, artinya kenikmatan itu dipakai sarana untuk tho’at kepada Allah, seperti yang difirmankan Allah i’maluu ala dawuda sukron, harus ‘amalkan kalian semua hei keluarga Daud terhadap syukuran, tegasnya harus kita harus mengolah kenikmatan dengan jiwa raga kita.
  3. Syukuran dengan jinan, harus bertekad bahwa tiap-tiap kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada kita itu semata-mata dari Allah, seperti firman Allah wamaa bikum minni’matin faminallaahi.

Perlu diketahui juga bahwa sebenar-benarnya orang bersyukur itu ada 3 tingkah :

  1. Golongan ‘awamul muslimin, golongan ini syukurannya hanya kepada nikmat saja, maksudnya kalau diberi kenikmatan bersyukur tapi kalau diberi cobaan tidak bersyukur.
  2. Golongan khowas, mensyukuri nikmat dan cobaan yang menimpa dirinya. Kenapa mensyukuri cobaan, karena dia menganggap cobaan itu didatangkannya oleh Allah demi cinta, seperti di dalam hadist idzaa ahabballaahu ‘abdan ibtalaahum, dimana Allah cinta kepada seorang ‘abdi maka akan mendatangkan cobaan. Serta tidak semata-mata ada cobaan dunia, yaitu untuk melebur dosa, dan untuk menaikan martabat. Maka siapa saja yang ridho terhadap ketentuan Allah dan sabar terhadap datangnya cobaan, maka Allah akan ridho terhadap terhadapnya, dan akan menurunkan pemberian yang banyak disebabkan sabarnya. Seperti firman Allah innallaaha ma’asshobiriin atau wainnamaa yuwaffaasshobiruuna ajrohum bighoeri hisabin, Allah akan memberi ganjarannya dan pemberiannya dengan tidak ada perhitungan. Maka dengan adanya kenikmatan, cobaan dunia itu dhohiruhu balaaun batinuhu walaaun, artinya dhohirnya cobaan batinnya kenikmatan. Golongan ini dimana-mana mendapatkan cobaan, mereka bersyukur.
  3. Golongan khowasil khowas, mereka tenggelam dalam lautan musahadah kepada Allah, sehingga tidak melihat kenikmatan dan cobaannya. Tertutup oleh nikmatnya musahadah kepada Allah.

Nikmat yang sering disyukuri itu ada 3 :

  1. Nikmat duniawi, seperti sehat, selamat dan harta yang halal.
  2. Diiniyyah, seperti nikmat ilmu, ‘amal, taqwa, nikmat ma’rifat.
  3. Nikmat ukhrowiyyah, seperti ganjaran ‘amal yang sedikit dengan pemberian yang tidak terbilang. Dan nikmat agama yang harus sangat disyukuri, yaitu nikmat iman dan nikmat islam dan ma’rifat.

Cara mensyukurinya yaitu bertekad bahwa sebenar-benarnya nikmat iman dan islam itu adalah suatu karunia dari Allah, dengan tidak ada perantaraan, tetapi pemberian Allah

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keenam puluh empat)