Syarat-syarat Sahnya Shalat

Shalat yang dilakukan, baik itu shalat fardhu maupun shalat sunah akan dianggap sah apabila memenuhi syarat-syarat berikut ini:

Suci dari hadats besar

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah, “Allah tidak akan menerima shalat yang dilakukan tanpa bersuci, dan shadaqah dari hasil menipu.”

Suci dari najis baik badan, pakaian dan tempat shalat

Hal ini berdasarkan firman Allah, “Dan pakaianmu bersihkanlah.”

Hadits riwayat Bukhari dan Muslim, “Apabila haid datang, maka tinggalkanlah shalat, dan apabila berhenti maka bersuci dan shalatlah.”

Hadits riwayat Ibnu Abbas, “Bersucilah kamu dari air kencing, karena siksa kubur itu pada umumnya diakibatkan oleh air kencing.”

Rasulullah bersabda, “Siramlah kencing itu dengan seember air.”

Hadits riwayat Bukhari: dari Asma binti Abu Bakar, berkata bahwa ada seorang perempuan bertanya kepada Rasulullah, apabila salah seorang diantara mereka bajunya terkena darah haid, apa yang mesti diperbuat. Kemudian Rasulullah berkata, “Apabila bajumu terkena darah haid maka gosok dan basuhlah, kemudian kamu shalat dengan baju itu.”

Shalat

Menutup aurat

Orang yang berhak mengerjakan shalat hendaklah menutup aurat. Aurat laki-laki adalah antara pusar sampai lutut, sedangkan aurat perempuan ialah seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan.

Allah berfirman dalam surat Al A’raf ayat 31, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid.”

Rasulullah bersabda, “Allah tidak akan menerima shalatnya perempuan haid (baligh) kecuali memakai kerudung.”

Menghadap Qiblat

Menghadap qiblat adalah merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Yang dimaksud dengan qiblat ialah Baitullah. Apabila seseorang mengerjakan shalat dekat Ka’bah (Mekkah) maka ia harus menghadap dengan seluruh anggota tubuh ke arah qiblat, sedangkan bagi orang yang mengerjakan shalat jauh dari Ka’bah, maka menghadap qiblat cukup dengan dugan yang pasti. Sedangkan yang menjadi patokan menghadap qiblat adalah dada.

Allah berfirman, “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.”

Rasulullah bersabda, “Hadapkanlah mukamu ke arah qiblat kemudian bertakbirlah.”

Dari Umar dia berkata bahwa tatkala orang-orang melakukan shalat di mesjid Quba, datanglah seseorang dan ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah telah menerima wahyu tadi malam, beliau diperintah untuk menghadap qiblat, karena itu menghadaplah kamu ke arah qiblat (ketika itu para sahabat menghadap ke arah Syam), maka para sahabat berputar ke arah qiblat.

Telah masuk waktu shalat

Shalat harus dilakukan tepat pada waktunya, sebagaimana firman Allah, “Sesunguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Mengetahui rukun shalat secara keseluruhan

Hal ini karena kalau orang yang tidak mengetahui rukun shalat dia tidak akan dapat melakukan shalat dengan sempurna.

Tidak meng’itikadkan terhadap rukun shalat sebagai sunat.

Hal ini karena jika meng’itikadkan fardhu dengan sunat maka dia telah merubah rukun shalat.

Menjauhi hal-hal yang dapat membatalkan shalat

Udzur shalat

Yang dimaksud dengan udzur shalat ialah halangan untuk mengerjakan shalat yang disebabkan oleh:

Tidur

Tidur yang termasuk udzur shalat ialah tidur yang tidak disengaja sebelum masuk waktu shalat sampai habis waktu shalat. Dalam hadits Abu Dawud dijelaskan bahwa Rasulullah bersabda, “Bukanlah lalai itu karena tidur, tetapi lalai itu adalah ketika terjaga, yakni mengakhirkan waktu shalat sehingga masuk waktu shalat yang lain.”

Lupa

Lupa termasuk udzur shalat, penetapannya dengan jalan qiyas, demikian pendapat Imam Nawawi. Namun apabila orang itu sudah ingat, maka wajib baginya mengerjakan shalat.

Rasulullah bersabda, “Apabila seseorang meninggalkan shalat karena tidur atau lupa, maka hendaklah ia mengerjakan shalat itu tatkala dia ingat.”

Inilah 5 Syarat Sah Shalat

Syarat-syarat salat secara garis besarnya ada 5, yaitu

Pertama, suci dari hadas besar (junub) dan hadas kecil. Arti thaharah menurut bahasa adalah bersih dan bebas dari kotoran, sedangkan menurut istilah syara’ adalah menghilangkan setiap noda berupa hadas atau najis.

Kedua, yaitu suci badan. Termasuk badan yaitu mulut bagian dalam, hidung, kedua mata, pakaian yang bersih dan lainnya, sesuatu yang dibawa ketika salat, walaupun benda yang tidak turut bergerak karena gerakan orang itu.

Kemudian, tempat salat bersih dari najis yang tidak dimaafkan.

Ketiga, menutup aurat merupakan salah satu dari syarat shalat. Seorang laki-laki, walaupun anak-anak, dan wanita budak, baik mukatab ataupun ummulwalad, wajib menutuo bagian anggota badannya antara pusat ampai lutut, walaupun di tempat yang sunyi dan gelap (shalat di tempat yang gelap dan sendirian). Hal ini berdasarkan hadis shahih yang menyatakan, “Allah tidak menerima shalat seseorang yang haid (telah baligh) kecuali dengan menutup kepalanya.”

Keempat, mengetahui waktu shalat merupakan salah satu dari syarat shalat. Mengetahui masuknya waktu shalat dengan suatu keyakinan atau dugaan yang kuat. Barang siapa shalat tidak mengetahui waktunya (dikira-kira), maka shalatnya tidak sah, walaupun tiba pada waktunya, sebab yang dianggap sah dalam masalah ibadah ialah menurut dugaan yang kuat dari orang mukallaf (dewasa) dan sesuai dengan bukti, sedangkan dalam masalah akad (jual beli dan sebagainya), cukup dengan kenyataan saja.

Kelima, Menghadap kiblat merupakan salah satu syarat salat. Yaitu dengan menghadapkan dada ke arah Ka’bah (bagi yang dkat ke Ka’bah, harus dengan keyakinan penuh; bagi yang jauh, cukup dengan perkiraan saja).

Allah swt berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 144, “Hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram”.

Rasulullah saw bersabda, “Pernah salat dua rakaat menghadap ke arah kiblat, lalu berkata, ‘Inilah arah kiblat’,”

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Hukum Mengetahui Fardhu-Fardhunya Shalat dan Cara Shalat Diatas Pesawat Terbang

Perlu diketahui pula, sesungguhnya syarat sahnya salat itu harus mengetahui kefarduan salat. Kalau tidak mengetahui dasar kefarduan salat (secara mutlak, yaitu yang 5 waktu) atau kefarduan salat yang sedang ia kerjakan, maka salatnya tidak sah, sebagaimana dinyatakan dalam kitab Majmu dan Raudhah.

Wajib dapat membedakan antara fardu-fardu shalat dan sunat-sunatnya. Kalau orang bodoh meng i’tikad kan, atau orang yang mengerti menurut kaul yang termasyhur meng i’tikad kan semua pekerjaan salat itu fardu, maka salatnya sah. Tetapi kalau meng i’tikad kan semua pekerjaan itu sunat, maka salatnya tidak sah (demikian menurut kaul yang utama). Wajib mengetahui cara mengerjakan salat.

Cara shalat di atas pesawat terbang

Bagi penumpang kapal terbang, kalau tidak tersedia air, maka dengan tayamum dan ber taqlid kepada Imam Maliki yang memperbolehkan dengan segala sesuatu yang berada di atas bumi, selain permata. Misalnya dengan tembok, barang tambang, rumput, dan sebagainya. Salat di atas kursi saja diperbolehkan jika sempit, tanpa menghadap ke arah kiblat, ketika rukuk atau sujud dengan membungkuk, sedangkan membungkuk untuk sujud harus lebih rendah dari rukuk.

Demikian pula di kendaraan lainnya, disesuaikan dengan kemampuan. Bila dapar menghadap kiblat ketika rukuk, i’tidal, sujud, dan yang lainnya, krjakanlah! Bila tidak, kerjakan sebisanya. Cara tersebut adalah sah dan tanpa mu’aadah (diulang).

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Inilah Tata Cara Melaksanakan Shalat dan Menghadap Kiblat Diatas Kendaraan

Tidak termasuk perjalanan mubah, yaitu perjalanan maksiat. Oleh karena itu, tidak boleh berpaling dari arah kiblat ketika dalam salat sunat. Misalnya hamba sahaya yang melarikan diri, atau seseorang yang mempunyai utang yang harus segera dibayar dan mampu membayarnya, ia bepergian tanpa izin yang mengutangkannya.

Bagi orang yang bepergian dengan berjalan kaki, wajib menyempurnakan rukuk dan sujudnya, sebab yang demikian itu mudah. Bagi yang naik kendaraan, rukun dan sujudnya cukup dengan isyarat saja (dengan menganggukkan kepala ke bawah ketika rukuk, dan ketika sujud lebih ke bawah lagi). Ia diwajibkan menghadap ke arah kiblat ketika rukuk, sujud, takbiratul ihram, dan ketika duduk antara dua kali sujud. Tidak boleh berjalan kecuali ketika berdiri, i’tidal, membaca tasyahhud dan salam.

Haram baginya apabila sengaja berpaling dari arah tujuannya, dan dia mengetahui haramnya serta atas kehendak sendiri, kecuali ke arah kiblat. (maksudnya), ketika salat sunat dalam perjalanan diwajibkan menghadap kiblat hanya ketika takbiratul ihram, rukuk, sujud, dan ketika duduk antara 2 kali sujud. Selain itu ia boleh menghadap ke arah tujuannya. Kalau menghadap ke arah selain tujuannya adalah haram, kecuali ke kiblat).

Disyaratkan tidak mengerjakan suatu perbuatan yang tidak perlu, misalnya berlari, menggerakkan kaki sekedar iseng, dan tidak menginjak najis dengan sengaja walaupun najis kering dan memenuhi jalan.

Tidak apa-apa menginjak najis kering tanpa sengaja, sebab seseorang yang berjalan tidak harus selalu menjaga diri agar tidak menginjak najis. Wajib menghadap kiblat ketika salat sunat si atas perahu (kapal), kecuali pengemudinya.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Inilah Aturan atau Hukum Menghadap Kiblat Ketika Shalat

Menghadap kiblat merupakan salah satu syarat salat. Yaitu dengan menghadapkan dada ke arah Ka’bah (bagi yang dekat ke Ka’bah, harus dengan keyakinan penuh; bagi yang jauh, cukup dengan perkiraan saja).

Allah swt berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 144, “Hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram”.

Rasulullah saw bersabda, “Pernah salat dua rakaat menghadap ke arah kiblat, lalu berkata, ‘Inilah arah kiblat’,”

“arah kiblat antara Masyriq dan Maghrib,” hadis ini di mahmulkan kepada penduduk Madinah dan orang-orang yang dekat padanya.

Kecuali bagi orang yang sulit untuk menghadap ke arahnya (misalnya sakit atau dalam tawanan), dan pada salat syiddatul khauf, walaupun salat fardu. Orang yang salat syiddatul khauf boleh mengerjakan salat sebisanya, baik sambil berjalan, naik kendaraan, menghadap ke arah kiblat, ataupun mmebelakanginya. Begitu juga orang yang berusaha lari dari kebakaran, banjir, binatang buas, ular, kejaran orang yang mengutangkan, sedangkan dia belum mampu membayar, dan takut dipenjara (oleh musuh).

Tidak termasuk (harus menghadap kiblat) bagi salat sunat dalam perjalanan yang mubah bagi orang yang menuju tempat tertentu. Ia boleh salat sunat sambil naik kendaraan atau berjalan kaki, walaupun dalam perjalanan yang dekat. Betul demikian, tetapi disyaratkan tujuannya dalam perjalanan itu tidak terdengar azan dari kampungnya dengan syarat-syarat yang ditetapkan dalam salat jumat.

Sebagaimana riwayat ‘Amir bin Rabi’ah, “Saya melihat Rsulullah saw salat di atas kendaraannya. Ketika itu beliau menghadap ke arah tujuan kendaraannya.”

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani