Inilah Keutamaan Shalat Pada Awal Waktu dan Berjamaah

Para ulama lebih mengutamakan shalat berjamaah subuh dan isya, sebab berjamaah pada kedua waktu itu lebih berat daripada lainnya.

Imam Rafii berkata, “Salat subuh adalah salat Nabi Adam a.s, salat lohor adalah salat Nabi Daud a.s, salat asar adalah salat Nabi Sulaiman a.s, salat maghrib adalah salat Nabi Ya’qub a.s, dan salat isya adalah salat Nabi Yunus a.s”

Hikmah perbedaan rakaatnya adalah:

Subuh dua rakaat, karena masih bangun tidur atau masih segan; lohor dan asar 4 rakaat, sebab badan masih segar; maghrib 3 rakaat karena menunjukan waktu pemisah antara siang dan malam; isya 4 rakaat sebab untuk menambal kekurangan salat malam yang hanya 2 salat, sedangkan siang 3 kali salat.

Ketahuilah, sesungguhnya mengerjakan salat wajib pada awal waktu dengan kewajiban yang leluasa.  Boleh diakhirkan sampai waktu yang mencukupi untuk salat (kira-kira 10 menit) dengan syarat berniat akan mengejakan pada waktunya.

Seandainya mendapatkan 1 rakaat pada waktunya, maka termasuk salat ada’ (pada waktunya, bukan qadha). Kalau tidak mencukupi 1 rakaat, maka termasuk qadha. Sebagaimana sabda Nabi saw, “Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat salat, maka ia mendapatkan salat (pada waktunya)” (HR Muslim).

Jika sebagian rakaat salat keluar dari waktunya, walaupun mendapatkan satu rakaat, maka berdosa. Betul demikian, kalau mengerjakan salat selain salat jumat, yang waktunya cukup untuk salat, maka boleh baginya memanjangkan bacaan sala dan dzikir, dan tidak makruh walaupun salatnya keluar dari waktunya, meskipun waktunya itu tidak cukuo untuk satu rakaat, menurut kaul mu’tamad.

Bila waktu yang tersedia tidak mencukupi untuk memulai salat, atau pada salat jumat, tidak boleh memanjangkan bacaan salat; serta tidak disunatkan, hanya mengerjakan yang rukun saja untuk mendapatkan semua rakaat pada waktunya.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Inilah 5 Syarat Sah Shalat

Syarat ialah sesuatu yang menentukan sahnya shalat, meskipun sesuatu itu bukan meruakan pekerjaan shalat, seperti bersuci dari hadas, menutup aurat, menghadap kiblat, dan lain-lain. Syarat merupakan sesuatu yang wajib dipenuhi sebelum mengerjakan shalat. Oleh karena itu, lebih tepat didahulukan (daripada rukun-rukunnya) dan wajib dipenuhi selama shalat.

Menurut ushul fiqih, syarat ialah suatu yang wajib ada dan tetap. Secara garis besar syarat shalat itu ada lima, yaitu:

  1. Suci dari hadas besar (junub) dan hadas kecil.
  2. Suci badan, yang termasuk badan adalah mulut bagian dalam, hidung, kedua mata, pakaian yang bersih dan lainnya, sesuatu yang dibawa ketika shalat, walaupun benda yang tidak turut bergerak karena gerakan orang itu.
  3. Menutup aurat, seorang laki-laki, walaupun anak-anak dan wanita budak, baik mukatab ataupun mulwalad, wajib (menutup) bagian anggota badannya antara pusat sampai lutut, walaupun di tempat yang sunyi dan gelap (shalat di tempat yang gelap dan sendirian). Hal ini berdasarkan hadis shahih yang menyatakan, “Allah tidak menerima shalat seseorang yang haid (telah baligh) kecuali dengan menutup kepalanya).
  4. Mengetahui waktu shalat. Mengetahui masuknya waktu shalat dengan suatu keyakinan atau dugaan yang kuat. Barang siapa shalat tidak mengetahui waktunya (dikira-kira), maka shalatnya tidak sah, walaupun tiba pada waktunya, sebab yang dianggap sah dalam masalah ibadah ialah menurut dugaan yang kuat dari orang mukallaf (dewasa) dan sesuai dengn bukti, sedangkan dalam masalah akad (jua beli dan sebagainya), cukup dengan kenyataan saja.
  5. Menghadap kiblat, yakni dengan menghadapkan dada ke Ka’bah (bagi yang dekat ke Ka’bah, harus dengan keyakinan penuh. Bagi yang jauh dari Ka’bah cukup dengan perkiraan saja). Tidak cukup menghadap arahnya

Syarat-Syarat Sah Shalat

Yang dimaksud syarat disini adalah perkara yang dibutuhkan untuk sahnya sholat. Syaratnya sholat ada 8, yaitu :

1. Suci dari hadast.

Hadast itu baik hadast asgor ataupun akbar. Thoharoh menurut lughot ialah kadar-kadar bersih, atau lepas dari kokotor apakah najis ataupun bukan, seperti ingus dan dahak. Sedangkan thoharoh menurut syara’ yaitu menghilangkannya yang mencegah yang mengikuti ke hadast/najis.

2. Suci dari najis (pakaian, badan, dan tempat).

Artinya najis yang tidak dimaafkan. Yang dimaksud suci di pakaian adalah tiap-tiap hal yang dibawa oleh orang yang sholat dan walaupun tidak berubah yang dibawanya tersebut. Suci badan artinya yang mencakup perkara yang masuk ke hidungnya, ke bibirnya, atau ke matanya. Suci tempat maksudnya dari perkara yang najis yang menempel dibadan atau pakaiannya.

3. Menutupi aurat.

Tidak sah sholatnya orang yang terbuka auratnya. ‘aurat itu ada 4 :

  • ‘aurat lelaki dan mutlaq dan ‘aurat amat ketika sholat yaitu barang antara pusar dan lutut.
  • ‘aurat perempuan merdeka ketika sholat yaitu seluruh badan selain wajah dan telapak tangan.
  • ‘aurat wanita merdeka dan amat ketika dengan orang lain adalah seluruh badan.
  • ‘aurat wanita merdeka dan amat ketika dengan mahromnya/perempuan lain yaitu antara pusar dan lutut.

‘aurat menurut lughot adalah kadar-kadar kurang dan perkara yang disebut jelek. ‘aurat menurut syara adalah perkara yang wajib nutupinnya ketika waktu sholat, dan lagi perkara yang haram dilihatnya.

Bagian ‘aurat yang pertamanya adalah ‘aurat lelaki walupun kafir dan ‘abid, atau anak kecil, atau anak lelaki yang belum tamyiz, sambil ‘aurat nya mutlaq baik itu ketika sholat atau diluar sholat (perkara antara pusar dan lutut). Jadi ‘auratnya lelaki merdeka dan laki-laki yang lainnya atau di dekat mahromnyayaitu antara lutut dan pusar. Serta yang disebut datiyah pusar dan lutut maka itu bukan ‘aurat, tetapi wajib nutupinnya sebagian lutut dan pusar.

Bagian keduanya adalah ‘aurat wanita amat didalam sholat yaitu antara pusar dan lutut, walupun ‘amat yang baru medeka setengah, atau ‘amat yang mudabbaroh, atau ‘amat mustauladah. Bagian ketiga ‘aurat wanita merdeka ketika di dalam sholat yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, tegasnya punggung dan telapak tangan sampai pergelangannya, maka tidak wajib nutupin wajah dan telapak tangan.

Bagian keempatnya adalah ‘aurat wanita merdeka dan ‘amat ketika dekat dengan orang lain yaitu seluruh badan, kalau dekat mahrom atau dengan perempuan lagi diantara lutut dan pusar.

4. Menghadap qiblat.

Tegasnya menghadap itu ke ‘aen nya kiblat, jadi tidak sah kalau tidaj menghadap qiblat. Tapi ada yang diperbolehkan tidak menghadap kiblat yaitu ketika siddatul khouf (sedang ribut banget) peperangan, maka wajib sholatnya walaupun menghadap kemana saja, asal peperangannya yang diperintah di jalan Allah. Serta sholat sunat yangdikerjakannya ketika diperjalanan (baik jauh maupun dekat), sholatnya itu apakah sambil jalan atau dalam kendaraan. Martabat mengetahui qiblat ada 4 :

  • Tahu sendiri.
  • Ijtihad
  • Mendapat kabar dari orang yang dipercaya.
  • Taklid terhadap orang yang berijtihad.

5. Sudah masuk waktu sholat.

Tidak sah sholatnya seseorang apabila dilakukan diluar waktu sholat sedangkan dia tahu tentang masuknya waktu sholat serta yakin. Martabat mengetahui masuk waktu sholat ada 3 :

  • Diketahui oleh diri sendiri.
  • Ijtihad
  • Taklid terhadap orang yang dipercaya.

6. Mengetahui fardhu-fardhu sholat.

7. Jangan bertekad bahwa sholat fardu itu dianggap sunat.

8. Menjauhi hal-hal yang membatalkan sholat.

Misalkan salah satunya memanjangkan rukun yang pendek. Sebagian lagi yang merupakan syarat sholat adalah Islam, jadi tidak sah sholatnya orang kafir. Selain itu juga harus tamyiz, yang sudah ngerti, biasanya berusia 7 tahun, maka tidak sah sholatnya anak kecil yang belum tamyiz. Sebenarnya islam dan tamyiz yang ke ma’lum, sebab jadi syarat dalam masalah thoharoh yaitu harus niat. Sedangkan syarat niat harus islam dan tamyiz.

Tambahan : hadast itu ada 2 yaitu hadast asgor dan hadast akbar. Hadast asgor adalah hadast yang mewajibkan wudhu, sedangkan hadast akbar yaitu hadast yang mewajibkannya mandi/adus. Sholat harus suci dari hadast asgor dan hadast akbar. Bahkan ada lagi ulama yang membagi hadast menjadi 3 bagian, yaitu hadast kecil, hadast besar dan hadast pertengahan.

 

Diambil dari kitab Syafinatunnnaja Fiusuluddin Walfikhi karangan Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi

Inilah Syarat Sah Wajib Shalat

Shalat merujuk kepada ibadah pemeluk agama Islam. Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Nabi Muhammad sebagai figur pengejawantah perintah Allah. Umat muslim diperintahkan untuk mendirikan salat karena menurut Surah Al-‘Ankabut dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar

Dalam banyak hadis, Nabi Muhammad telah memberikan peringatan keras kepada orang yang suka meninggalkan salat wajib, mereka akan dihukumi menjadi kafir dan mereka yang meninggalkan salat maka pada hari kiamat akan disandingkan bersama dengan orang-orang, seperti Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.

Berikut ini adalah syarat-syarata awajib salat, yaitu:

  1. Beragama Islam
  2. Sudah baligh
  3. Berakal
  4. Suci dari haid dan nifas
  5. Telah mendengar ajakan dakwah Islam.

 

Sumber : Risalah Tuntunan Shalat Lengkap (Drs. Moh Rifa’i)